The Descriptive Component Display Theory


The Descriptive Component Display Theory

direview oleh Gde Putu Arya Oka

M. David Merrill; Merrill,1983; Merrill,1987; Merrill, 1988;

Twitchekk, Anderson, & Parry, 1990

 

Component  Display  Theory  (CDT),  dikemukakan  oleh  Merill  (1994)  pada awal  tahun  1970an,  merupakan  suatu  teori  desain  instruksional  yang menggabungkan  beberapa  pengetahuan  mengenai  instruksional  dari  beberapa perspektif  :  behavioral  dan  cognitive.  Pengaruh  dari  teori  behavioral  terlihat pada  asumsi  yang  digunakan  dalam  CDT.  Dipengaruhi  oleh  teori  Gagne, CDT  menggunakan  asumsi  dimana  tiap  jenis  pembelajaran  memerlukan kondisi  yang  berbeda.  Jejak-jejak  pengaruh  dari  teori  Gagne  nampak  pada taksonomi  yang  digunakan  dalam  menentukan  tujuan  pembelajaran. Taksonomi  ini  menentukan  tujuan  pembelajaran  melalui  2  dimensi  yakni kemampuan  (performance)  dan  isi  (content).    Pengaruh  teori  cognitive nampak  dalam  suatu  metode  dalam  menampilkan  presentasi  yang  disebut Primary Presentation Form. Dengan PPF materi selalu disajikan dalam bentuk umum  (expository  general)  dan  bentuk  khusus  (expository  instance/example) serta  diiringi  pertanyaan  (inquiry)  baik  pertanyaan  untuk  hal-hal umum(general  )  maupun  hal-hal  khusus  (example).

 

CDT,  sekalipun  memiliki  beberapa  kelemahan,  tentu  saja  memiliki  kelebihan yang  tak  terdapat  pada  teori-teori  instruksional  lainnya.  Dibandingkan  dengan teori  lain  seperti  teori  Gagne  atau  teori  Elaborasi  yang  melingkupi  baik aspek  makro  dan  mikro,  CDT  jelas  memiliki  kekurangan  karena  hanya membahas  aspek  mikro.  Bila  teori  Gagne  merambah  ranah  kemampuan intelektual,  strategi  kognitif,  informasi  verbal,  perilaku,  dan  kemampuan motorik,  CDT  hanya  merambah  kemampuan  intelektual.  Dibandingkan dengan  teori  Keller  (1983)  yang  menyertakan  aspek  motivasi,  CDT  tidak menyertakan  aspek  tersebut,  yang  menurut  banyak  ahli  instruksional,  sangat penting  dalam  pembelajaran.  Tetapi  CDT  memiliki  kelebihan  dibandingkan teori-teori  lain  yakni  preskripsinya  (aspek  mikro)  sangat  lengkap. Reigeluth(1983)  menyatakan  bahwa  kelebihan  CDT  adalah  preskripsinya yang  lebih  detil  bila  dibandingkan  dengan  teori  lain,  semisal  teori  Gagne yang  tidak  memberikan  langkah  yang  detil  bagi  aplikasinya.  Kelebihan lainnya  CDT  lebih  tangguh  (reliable)  untuk  produksi  instruksional  yang

efektif.

Merill  (1996)  mengemukakan  bahwa  teori  desain  instruksional  adalah serangkain  preskripsi  (formula)  untuk  menentukan  strategi  instruksional yang  tepat  agar  siswa  dapat  meraih  tujuan  pembelajaran  yang  telah ditentukan.

Instructional  design  theory  is  a  set  of  prescriptions  for  determining  appropriate  instructional  strategies  to  enable  learners  to  acquire  instructional  goals.

Menurut  Merill  (1994)  teori  desain  instruksional  memiliki  3  komponen: pertama,  teori  deskriptif  tentang  pengetahuan  yang  akan  diajarkan  dan skill  (performans)  yang  akan  diperoleh  oleh  siswa.  Kedua,  teori  deskriptif tentang  strategi  instruksional  yang  akan  mengarahkan  siswa  meraih  tujuan pembelajaran  yang  telah  ditetapkan.  Dan  ketiga    teori  preskriptif  yang menghubungkan  pengetahuan  yang  akan  diajarkan  (komponen  pertama) dan  strategi  instruksional  yang  akan  diberikan  (komponen  kedua). Dalam  CDT  komponen  pertama  dari  ketiga  komponen  di  atas  adalah suatu  taksonomi  yang  menghubungkan  kemampuan  (performance)  dan isi  (content).  Taksonomi  CDT  adalah  suatu  taksonomi  yang  berguna dalam  menentukan  tujuan  pembelajaran  melalui  2  dimensi  :  kemampuan dan  isi.  Dimensi  kemampuan  menunjukkan  secara  langsung  performa apa  yang  akan  diraih  melalui  penetapan  tujuan  pembelajaran.  Dimensi ini  secara  langsung  akan  berhubungan  dengan  kata  kerja  yang  ditetapkan dalam  tujuan  pembelajaran.  Dimensi  kemampuan  terdiri  atas  :  mengingat (remember),  mengaplikasikan  (use),  dan  menemukan  (find).  Sementara dimensi  isi  menjelaskan  karakteristik  dari  tipe  materi  yang  akan  dipelajari oleh  siswa.  Dimensi  isi  terdiri  atas  :  fakta  (facts),  konsep  (concept), prosedur  (procedure),  dan  prinsip  (principle)  atau  azas.  Dengan menggunakan  taksonomi  CDT  tersebut  seorang  perancang  instruksional akan  mudah  dalam  menentukan  tujuan  pembelajaran.

Komponen  kedua  berupa  suatu  teori  deskriptif  mengenai  strategi instruksional.  Teori  ini  menjabarkan  bagaimana  suatu  materi  ditampilkan; dalam  hal  ini  strategi  instruksional  meliputi  apa  dan  bagaimana  suatu materi  ditampilkan.  Di  dalam  CDT  komponen  kedua  ini  berupa  Primary Presentation  Form  (PPF),  Secondary  Presentation  Form  (SPF),  dan Interdisplay  Relationship  (IDR).  Berperan  sebagai  materi  utama,  PPF adalah  presentasi  yang  mutlak  harus  ada  dalam  suatu  media pembelajaran.  SPF,  sebagai    informasi  tambahan,    mendukung  materi yang  diberikan  pada  PPF  sehingga    membantu  siswa  dalam  menguasai materi.  IDR  adalah  suatu  strategi  untuk  mengatur  hubungan  antara tampilan  (display)  yang  satu  dengan  tampilan  lainnya.

Komponen  ketiga  adalah  suatu  preskripsi  (formula)  yang  menghubungkan komponen  pertama  dan  kedua.  Di  sini  suatu  preskripsi  harus  ditentukan untuk  memilih  strategi  instruksional  (komponen  kedua)  yang  sesuai  bagi suatu  performance  dan  content  yang  telah  dipilih  (komponen  pertama). Dengan  kata  lain  preskripsi  harus  dapat  menentukan  strategi  instruksional mana  yang  dipilih  bagi  suatu  tujuan  pembelajaran  yang  telah  ditetapkan. Preskripsi  ini  tak  lain  adalah  bagaimana  memilih  dan  mengurutkan komponen-komponen  PPF,  SPF  dan  IDR  yang  sesuai  untuk  suatu  tujuan pembelajaran  tertentu.  Komponen  ketiga  ini  merupakan  suatu  langkah yang  paling  aplikatif  dibandingkan  2  komponen  lainnya  dalam  merancang suatu  desain  instruksional  dengan  menggunakan  CDT.  Komponen  ketiga inilah  yang  merupakan  suatu  pegangan  bagi  seorang  pendesain instruksional  dalam  melaksanakan  tugasnya.

Matriks  Performance-Content  merupakan  suatu  taksonomi  yang  berguna untuk  menentukan  jenis  kemampuan  dan  isi  yang  sesuai.  Hasil  dari penentuan    kemampuan  dan  isi  yang  sesuai  ini  adalah  suatu  tujuan pembelajaran  yang  tepat.  Tujuan  pembelajaran  yang  tepat  akan memberikan  panduan  (guidance)  bagi  strategi  instruksional  yang  akan diberikan.  Matriks  Performance-Content  (selanjutnya  disebut  matris P-C)  bahkan  merupakan  jantung  dari  CDT,  karena  dari  sinilah  titik  tolak dari  seluruh  strategi  instruksional  yang  akan  dirancang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: