B.4 KAWASAN DESAIN


Pokok Bahasan : Perancangan Multimedia

Perancangan multimedia adalah kompetensi Dasar  atau pokok bahasan yang diuraikan lagi dalam   tujuh unit sub  kompetensi atau sub pokok bahasan yang harus dikuasai mahasiswa agar kompetensi dasar yang dirancang tercapai dengan optimal.

Kemampuan-kemampuan apa yang harus dikuasai mahasiswa dalam Perancangan multimedia adalah pertanyaan yang diajukan untuk menemukan sub-sub kompetensi yang mana sub-sub ini harus diidentifikasi, ditempatkan dengan urutan yang benar dan sesuai fungsinya. Urutan yang benar merupakan urutan baik dalam bentuk hirarki atau prosedural yang seacara sistematis menjadi satu kesatuan sistem untuk membentuk kompetensi perancangan multimedia. Perancangan yang diterjemahkan dari kata Design adalah  proses menspesifikasi kondisi belajar, yang juga merupakan satu kawasan dalam bidang Teknologi Pembelajaran. Menspesifikasi kondisi-kondisi dalam belajar adalah hal mutlak perancangan pembelajaran. Kondisi-kondisi yang diuraikan kedalam sub pokok bahasa perancangan ini adalah Desain Instruksional Multimedia, Katagori Multimedia, Model –Model Desain, Studi Kalayakan, Pre-Production, Production dan, Past Production.

Ibaratnya seorang Arsitek yang bertugas merancang bangunan maka kondisi awal yang ada dalam benaknya adalah model arsitektur apa yang akan diterapkan. Agar bisa diterapkan tentunya Arsitek ini berpikir dengan sebuah model yang cocok dengan kondisi yang punya rumah, kondisi yang cocok dengan lingkungan serta kondisi yang cocok dengan budaya setempat. Jika yang menempati nantinya orang Bali, tinggal di Desa Pekraman yang kental dengan budaya Bali dengan lingkungan yang ingin mempertahankan tradisi Bali maka arsitek akan membuat rancangan atau desain dengan arsitektur bercorak Bali yang dikenal dengan arsitektur Bali. Arsitektur Bali sangat ketat dengan aturan-aturan dengan landasan psikologis seperti yang tersirat pada Asta Kosala-Kosali dan Asta Bumi.

Demikain pula konsep dalam perancangan pembelajaran dengan kompetensi dasar Perancangan Multimedia Pembelajaran. Agar konsep perancangan multimedia dapat dikuasi mahasiswa maka mahasiswa harus memiliki kemampuan untuk memahami konsep desain instruksional multimedia. Konsep dan prinsip dalam desain multimedia ini Desain adalah perancangan, dan perancangan ini merupakan bagian dari sebuah cetak biru atau perencanaan yang umum. Keterlibatan desain baik dikalangan dunia pendidikan, industri,manufaktur dan jasa merupakan langkah awal yang diringi dengan studi yang layak. Oleh karena itu desain multimedia haruslah didasari pada prinsip  terjadinya transfer pengetahuan yang efektif antara peserta didik dengan guru, Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang “perlakuan” berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas. Hasil dari pembelajaran ini dapat diamati secara langsung dan dapat diukur secara ilmiah atau benar-benar tersembunyi dan hanya berupa asumsi. Penerapan dari prinsip-prinsip desain instruksional multimedia dapat dilihat dilihat dari produk multimedia itu, yang bercirikan sebagai berikut :

  1. Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur audio dan visual.
  2. Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk mengakomodasi respon pengguna.
  3. Bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna bisa menggunakan tanpa bimbingan orang lain.

Selain memenuhi ketiga karakteristik tersebut, multimedia pembelajaran sebaiknya memenuhi fungsi sebagai berikut:

  1. Mampu memperkuat respon pengguna secepatnya dan sesering mungkin.
  2. Mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengontrol laju kecepatan belajarnya sendiri.
  3. Memperhatikan bahwa siswa mengikuti suatu urutan yang koheren dan terkendalikan.
  4. Mampu memberikan kesempatan adanya partisipasi dari pengguna dalam bentuk respon, baik berupa jawaban, pemilihan, keputusan, percobaan dan lain-lain.

Setelah mahasiswa memahami konsep dan prinsip dalam perancangan multimedia berikutnya mahasiswa harus bisa mengidentifikasi dan membedakan katagori-katagori multimedia yang ada dan mengkaji dari beberapa literatur yang ada.  Oleh karena multimedia  adalah  penggunaan  dan  pemrosesan  beberapa  media  (text,  audio, graphics, animation, video, and interactivity) yang berbeda untuk menyampaikan informasi  atau  menghasilkan  produk  multimedia  (music,  video,  film,  game, entertaiment,  dan lain lain)  atau  penggunaan  sejumlah  teknologi  yang  berbeda  yang memungkinkan  untuk  menggabungkan  media  (text,  audio,  graphics,  animation, video, and interactivity) dengan cara yang baru untuk tujuan komunikasi, maka mahasiswa harus juga memiliki kemampuan dalam mengenal dan mengaplikan model-model desain multimedia pembelajaran.

Seperti halnya model-model pembelajaran,  multimedia adalah sebuah  produk. Konteks ini kita akan menempatkan  multimedia bukan selayaknya konsep dan teori. Memang multimedia diawal harus dipelajari “ learn to multimedia” dan akhirnya dengan multimedia ini juga untuk “ use multimedia to learn”. Belajar bagaimana merancang multimedia dan menggunakan multimedia dalam pembelajaran adalah dua titik. Yaitu titik pangkal dan titik ujung dimana kedua ujung ini , satu pihak berada pada perekayasa dan satu pihak lagi sebagai pengguna.  Model-model Desain multimedia adalah istilah untuk menyebutkan identitas dari beberapa kumungkinan desain yang ada dan mungkin sampai saat ini dikembangkan terus menerus. Model-model desain ini masih dalam domain konsep, artinya belum dimplementasikan. Persepsi kami akan model “desain multimedia” tidak berbeda jauh dengan model  dalam “desain mode” atau Desain Mode dalam (fashion), dan  Desain arsitektur. Dalam hal ini secara jelas bisa dibedakan dalam model “desain mode” model adalah orang yang mengenakan hasil desain mode atau rancangan dari seorang desainer. Sedangkan Model dari “Desain arsitektur”  adalah produk bangunan, rumah, apartemen yang dirancang seorang arsitek. Sedangkan model dalam “ Desain Multimedia” juga mangacu pada produk yang dirancang oleh perekayasa multimedia. Dari ketiga analogi itu model desain multimedia adalah berupa produk dalam berbagai jenis yang masing-masing menampakan ciri-ciri tertentu. Dalam Dokumen Panduan Pengembangan Multimedia Pembelajaran Depdiknas, model-model multimedia disebutkan dalam :

  1. Model Tutorial
  2. Model Driil (latihan) Practice (Praktek)
  3. Simulasi
  4. Percobaan atau eksperimen
  5. Permainan (game)

Model-model yang telah diidentifikasi  ini selanjutnya digunakan sebagai dasar pemahaman untuk menyusun studi kelayakan. Sebuah studi awal sebelum masuk ke pre-production adalah riset kecil, yang mempertimbangkan  semua  wilayah input. Untuk selanjutnya agar bisa diproduksi sehingga keluarannya (output) dapat bermanfaat (outcome) bagi si pemakai. Selanjutnya mahasiswa akan dapat mengaplikasikan konsep dalam proses Pra-Produksi, Produksi dan Pasca Produksi yang secara umum memuat prosedur-presedor yang merupakan langkah-langkah standar dalam pengembangan multimedia pembelajaran. Tahap pra-produksi pada dasarnya mengindentifikasi kegiatan yang harus dilakukan seperti : penuangan  ide  (proposal kasar dari hasil studi kelayakan)  produk,  perencanaan  produk, perencanaan proses produksi, penyusunan dokumentasi, penyusunan tim, membangun prototip, pengurusan hak cipta dan penandatangan kontrak dan pembiayaan. Fase produksi adalah tahap proses  yang  terdiri  dari  pembuatan  konten  multimedia  yang  diperlukan, pemrosesan konten, pembuatan program/software yang diperlukan, mengintegrasikan content  dan  software,  merevisi  design  membangun  Apha  version  (hampir  semua fungsi  produk  sudah  dibangun  diimplementasikan  dan  diintegrasikan),  pengujian awal  produk,  mengevaluasi  produk  dan  merevisi  software  dan  content  berdasarkan pada  hasil  evaluasi,  dan  membangun  Beta  version  (semua  fungsi  produk  sudah dibangun diimplementasikan dan diintegrasikan tetapi belum diuji secara lengkap. Sedangkan pada tahap pasca-produksi Proses ini terdiri dari proses pengujian Beta version, mengevaluasi dan merevisi  software  dan  content  berdasarkan  pada  hasil  pengujian  versi  Beta, merelease  Golden  Master  (final  product)  dari  produk  multimedia  dan  menyimpan semua  material  yang  dipakai  dalam  proses  produksi.  Produk    Golden Master ini yang akan dipasarkan, dipublikasikan melalui multimedia communication yang memungkinkan.

Analisis Instruksional

Analisis instruksional sebagai suatu strategi makro, adalah suatu cara untuk mengurutkan (sequencing) tujuan-tujuan pembelajaran sehingga didapatkan suatu peta kompetensi. Analisis ini  hanya untuk kompetensi dasar Perancangan Multimedia, yang nantinya materi ajarnya berupa buku ajar.

Analisnya :

Mahasiswa dapat Menjelaskan desain insruksional dengan pendekatan multimedia, menyebutkan dan menjelaskan katagori multimedia, Mengembangkan berbagai model desain multimedia,  menyusun sebuah studi kelayakan proyek multimedia, mengerjakan proses Pra Produksi, mengerjakan proses produksi, dan mengerjakan proses purna produksi.

Satu Tanggapan to “B.4 KAWASAN DESAIN”

  1. wahyudi ari prabowo Says:

    good opinion


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: