B.3 The Big Picture TP


Abstrak

Profesi Teknologi Pembelajaran di Indonesia mengampu Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran(PTP) dengan enam tugas pokok, yaitu: (1) Analisis dan pengkajian sistem/model teknologi pembelajaran, (2) Perancangan sistem/model teknologi pembelajaran, (3)Produksi media pembelajaran, (4)penerapan sistem/model dan pemanfaatan media pembelajaran, (5)Pengendalian sistem/model pembelajaran dan (6) evaluasi penerapan sistem/model dan pemanfaatan media pembelajaran, sebagaimana tertuang pada Permenpan Nomor PER/2/M.PAN/3/2009 tanggal 10 Maret 2009. Kemudian,pada tanggal 6 Mei 2010 dikeluarkan Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran dan Angka Kreditnya, melalui Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor  01/V/PB/2010 dan Nomor 12 Tahun 2010. Jika dilihat dapat dipahami bahwa paradigma dari tugas pokok pada peraturan tersebut bepijak pada definisi Teknologi Pembelajaran tahun 1994. Definisi Teknologi Pembelajaran tahun 1994 yang menyatakan Teknologi Pendidikan/Pembelajaran adalah Teori dan Praktek dalam Desain, Pengembangan, Pemanfaatan, Pengelolaan dan Penilaian sumber dan proses untuk belajar (Definisi AECT, 1994). Sepuluh tahun kemudian AECT mengeluarkan definisi Teknologi Pendidikan sebagai Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using and managing appropriate technological processes and resource (Definisi dengan Komentar, AECT, 2004).

I.              Pendahuluan

Teknologi pendidikan jangan dibingungkan oleh Gadgetery (Rowntree, 1982:1). Ungkapan yang hampir semakna adalah Teknologi Pendidikan jangan dibingungkan oleh komputer. Teknologi pendidikan saat ini karena selalu dikaitkan dengan TIK menyebabkan Teknologi Pendidikan terbentur dengan asumsi-asumsi kerdil yang tidak berujung pangkal. Adanya kalangan yang memiliki pandangan tentang TP hanya dari sudut perangkat keras (baca komputer). Hal ini menyebabkan pula TP dicap sebagai jurusan yang merebut lahan dari ikon komputer itu sendiri. Ikon ini berhubungan dengan profesi kekomputeran, guru TIK atau jenis pekerjaan yang lain yang seakan-akan hanya kapling mereka yang mempelajari komputer.

Persepsi masyarakatpun demikian! Jika suatu profesi yang menggunakan komputer selalu dikaitkan dengan jurusan ilmu komputer. Bagi TP, komputer hanyalah salah alat yang digunakan untuk meningkatkan dan memecahkan masalah belajar. Banyak komponen lain yang lebih lunak (periksa lampiran 1). untuk sekedar mengingat kembali bahwa TP tidak harus bingung atau dibingungkan dengan hadirnya komputer, maka dalam kesempatan ini mari kita melihat kembali sejarah perjalanan Teknologi Pendidikan.

II.           Jangan Lupakan Sejarah Teknologi Pendidikan! Embrio dari  tahun 1920an.

Indikator keberadaan teknologi pendidikan/pembelajaran adalah munculnya pembelajaran visual  kemudian pembelajaran audiovisual yang keduanya sebagai sebuah konsep[i]. Namun demikian, sampai saat ini pemahaman terhadap teknologi pendidikan masih dianggap sebagai suatu istilah khusus bagi orang-orang tertentu dan sulit untuk dicerna oleh kalayak umum.

Sebagian mengartikan istilah teknologi pendidikan semata-mata hanya berhubungan dengan peralatan teknik dan media yang dipakai dalam pendidikan, seperti overhead, projector, radio, televisi, slide proyektor, slide program, audio tape rekaman video dan sebagainya. Sebagian lagi menganggap Teknologi Pendidikan adalah suatu kegiatan yang melibatkan analisis klinis yang sistematis dari keseluruhan proses belajar/mengajar sebagai suatu upaya untuk mencapai keefektifan belajar/mengajar yang optimal (Ellington, 1984)

Tentu saja para pendukung, pendapat ekstrim tersebut , kadang-kadang dituduh telah memperlakukan siswa sebagai robot yang gerakannya terjadi karena perintah (impersonalized battery hens), dan  bukan sebagai orang yang cara berpikirnya menggunakan metode inkuiri mencari-cari jawaban dan menemukan keberhasilan yang tumbuh dan berkembang  melalui rangsangan intelektual dan hubungan manusiawi, yakni pandangan yang dapat menimbulkan simpati kita.

Pada umumnya, karena kekacauan dalam mengartikannya maka teknologi pendidikan dianggap kurang bermanfaat. Mereka menganggap teknologi pendidikan adalah ungkapan orang-orang tertentu.

Persepsi bahwa teknologi pendidikan telah berkembang lebih dari 30 tahun, merupakan hal yang wajar walupun sulit dijelaskan. Kenneth Richmond (dalam Elington & Percival, 1984) dalam bukunya yang sangat popular The Concept of Educational Technology (1970), khusus menyediakan 70 halaman pertama untuk membahas teknologi pendidikan, dan perbedaan konotasi dari kata teknologi dalam pendidikan dan teknologi dalam arti lain.

Saettler ditahun 1990 (AECT, 1994) mengakui telah mengalami kesukaran dalam mengidentifikasi sumber dari istilah “teknologi pendidikan”.


Namun adanya bukti bahwa Franklin Bobbitt dan W.W Charter menggunakan educational engineering (rekayasa pendidikan) pada tahun 1920an.  Saettler dalam suatu kesempatan wawancara mendengar istilah teknologi pendidikan digunakan oleh W.W Charter pada tahun 1948. Begitupun juga James D. Finn menggunakan istilah Teknologi Pembelajaran pada penerbitan pertama dari Technological Development Project yang disponsori NEA pada tahun 1963. Namun fokusnya pada saat itu adalah aplikasi komunikasi audio visual (Saettler, 1990:17 dalam Elly, D. P & Richey, B. B. 1994)

III. Teknologi dalam Pendidikan

Teknologi dalam pendidikan (Technologi in Education) mencakup setiap kemungkinan sarana (alat) yang dapat digunakan untuk menyajikan informasi. Hal ini berkaitan erat dengan alat-alat yang dipakai dalam pendidikan dan latihan seperti TV, Laboratorium Bahasa dan berbagai jenis media yang diproyeksikan atau seperti yang dikatakan oleh seseorang pada suatu saat teknologi dalam pendidikan adalah mencakup segalanya dari komputer sampai mesin penjual tiket. Dengan kata lain, teknologi dalam pendidikan dipopulerkan dengan nama alat bantu pandang-dengar (audiovisual aids). Hal ini wajar karena di awal paradigma pendidikan hanyalah dikdatik dan metodik sehingga sangat erat hubungan dengan konsep pengajaran. Nah, dalam konsep pengajaran, teknologi dipandang sebagai alat bantu.

Awalnya: Teknologi dalam pendidikan dipopulerkan dengan nama alat bantu pandang-dengar (audiovisual aids)!

Teknologi dalam pendidikan adalah salah satu aspek yang sangat penting dari Teknologi Pendidikan. Secara historis, banyak perguruan tinggi di Amerika yang secara evolusif mengembangkan unit audiovisualnya menjadi unit Teknologi Pendidikan. Dengan cara melakukan pemilahan yang tepat antara piranti keras dan lunaknya,  Oleh karenanya sangat memungkinkan untuk meningkatkan efesiensi atau kualitas belajar dalam situasi tertentu.  Inilah cikal bakal dari pengembangan teknologi pendidikan

 V. Teknologi dari Pendidikan

Pada tahap pengembangan teknologi pendidikan ini, orang mulai sadar bahwa dalam pendidikan dan latihan banyak yang dapat ditingkatkan dengan pemikiran yang lebih serius dan hati-hati tentang berbagai aspek dalam merancang situasi belajar mengajar. Keputusan ini mengarah kepada interpretasi baru tentang teknologi pendidikan, yang diartikan sebagai keseluruhan teknologi dalam pendidikan, dimana teknologi tersebut sesungguhnya hanya merupakan bagian teknologi dari pendidikan.

Para ahli Teknologi Pendidikan berpendapat bawha peranan utama teknologi pendidikan adalah untuk membantu meningkatkan efesiensi menyeluruh proses belajar mengajar[1]. Hal bisa diperjelas bahwa:

  1. Meningkatkan kualitas belajar atau penguasaan materi belajar
  2. Mempersingkat waktu yang dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan dalam belajar
  3. Meningkatkan kemampuan guru, dalam arti guru dapat lebih memperhatikan siswa satu-persatu dalam jumlah siswa yang yang relative banyak tanpa mengurangi kualitas belajar mengajar
  4. Mengurangi biaya, tanpa mengurangi kualitas belajar.

Seperti dimaklumi, bahwa seluruh bagian teknologi dan pendidikan terdiri dari aspek-aspek yang tidak konkrit selain aspek yang konkrit seperti hadware dan software. Aspek tidak konkrit ini adalah pada teknik belajar dan teknik mengajar, bukan pada alat bantu audio visual itu sendiri.  Kendati aspek tidak konkrit ini belum jelas bagi teknologi pendidikan, namun demikian, aspek tersebut menurut ahli ilmu pendidikan sangat penting untuk memecahkan masalah pendidikan tertentu.

Dengan demikian, pendekatan teknologi dari pendidikan pada teknologi pendidikan melibatkan pendekatan ilmiah yang sistematik dalam memecahkan masalah. Disamping itu pendekatan ini juga menerapkan hasil penelitian dari bidang studi yang lain.  Dalam menerapkan pendekatan teknologi dari pendidikan, perubahan-perubahan dalam suatu sistem biasanya tidak diperlukan, namun pada kenyataannya, dalam menyelenggarakan pendidikan yang baik, perubahan dilakukan berdasarkan penelitian ilmiah. Inilah yang oleh pakar teknologi pendidikan disebut teknologi dari teknologi pendidikan.

IV.                  Dari Pendekatan Hardware, Software sampai Pendekatan SistemSalah satu tahap yang paling awal dalam evolusi Teknologi Pendidikan adalah yang disebut dengan tahap hardware. Disebut demikian karena tugas berat dalam mengembangkan peralatan pendidikan yang efektif telah dilakukan secara layak dalam meyakinkan, memungkinkan untuk terlayani dan terjangkau oleh anggaran sekolah, universitas dan para penyelenggara latihan. Akan tetapi apabila hardware tersebut bermasyarakat maka akan dicarikan software yang kira-kira cocok. Tahap inilah yang disebut tahap software.Tahap software ini dikhususkan terhadap pemahaman bahan belajar yang sesuai dilakukan.  Pengembangan didasarkan pada penyesuaian persepsi dan teori belajar yang kontenporer. Dengan demikian pada awal pengembangan teknologi pendidikan, kita dapat mengidetifikasikan perubahan dalam pengertian teknologi pendidian.

Semula pengertian tersebut jelas mempunyau konotasi perekayasaan, karena pengertian dasar dari Teknologi Pendidikan berhubungan dengan pengembangan benda-benda optic dan peralatan eletronika yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Setelah itu teknologi dalam pendidikan lebih banyak berhubungan dan bercampur baur dengan psikologi dan toeri belajar sebagai tujuan   utama. Dengan demikian pengertian dasar tersebut berubah menjadi pengembangan software yang sesuai untuk digunakan dengan hardware tersebut. 

Dari pendekatan hardware, software ke pendekatan sistem, seperti telah dipaparkan diatas. Yang terakhir (pendekatan system) adalah lahir dari pandangan pemakai teknologi dari pendidikan saat ini. Dalam konsep ini teknologi dalam pendidikan khususnya dilihat sebagai salah satu alat yang dapat dipakai untuk mengatasi kebutuhan tentang hardware dan software. Alat tersebut dipilih dan didesain dengan tepat untuk mendukung strategi belajar-mengajar tertentu. Alat yang ditentukan untuk diadopsi dengan tujuan untuk mencapai seperangkat tujuan pengajaran. Dalam beberapa hal, ini mungkin melibatkan penggunaan berangkat yang berkolaborasi.

Pendekatan sistem!Pengembangan pendidikan atau inovasi pendidikan telah direncanakan dan dilaksanakan secara ilmiah dan sistematik. Inilah yang disebut pendekatan sistem (System approach) dalam teknologi pendidikan, yang dianggap sebagai inti teknologi dari pendidikan(Ellington, 1984) 

 Pendekatan sistem pada disain dan analisis situasi pembelajaran merupakan dasar dari inti teknologi pendidikan modern yang berhubungan dengan pengembangan. Akan tetapi, istilah sistem yang telah dipakai untuk berbagai keperluan dan pendekatan system merupakan istilah yang rancu, karena mempunyai bermacam-macam interpretasi. Oleh Karen itu marilah kita lihat kedua istilah tersebut dengan tujuan untuk mendefinisikannya sesuai dengan penggunaannya.

Dalam kontek teknologi pendidikan, sistem adalah setiap kumpulan dari bagian yang saling berhubungan dan bersama-sama membentuk suatu kesatuan yang lebih besar. Komponen-komponen sistem saling terkait, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga setiap perubahan keadaan akan mempengaruhi sistem secara keseluruhan. Ilustrasi sistem sederhana seperti tersaji pada Gambar 2.

Dalam Gambar 2, sistem diumpamakan terdiri dari 4 elemen yang berbeda yaitu A, B, C dan D yang satu sama lain saling berhubungan, saling berkaitan dan saling bergantung. Hubungan antar elemen ini bisa searah ataupun timbal balik. Kadar setiap elemen pun bisa tidak sama, biasanya dalam sistem pendidikan, kondisi setiap elemen sangatlah kompleks.


[1] Disarankan untuk membaca buku karya Ellington (1984) dengan judul Educational Technology

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: