STKIP Citra Bakti Menyemai Benih Teknologi Pendidikan

STKIP Citra Bakti Open stageSetiap daerah mempunyai potensi untuk berubah, berkembang dan maju seperti daerah-daerah yang lain tanpa kecuali Flores. Hal demikian disebakan karena setiap daerah memiliki potensi alam, keunikan adat dan budaya. Asalkan dimulai dengan perubahan pola dan cara beripikir untuk menggali potensi daerah. Potensi alam sangat mungkin dieksploitasi untuk kemakmuran masyarakat dengan catatan harus  mempertimbangkan pranata sosial, kelestarian dan keunikan suatu daerah. Pembangunan tidak hanya berarti mewujudkan bangunan fisik tetapi yang lebih penting adalah membangun sumber daya manusia yang sanggup dan mampu bersaing. Pangkalan data perguruan tinggi Dikti menunjukkan NTT mempunyai 71 perguruan tinggi berbentuk universitas dan sekolah tinggi baik negeri maupun swasta. Pertumbuhan tersebut mengindikasikan bahwa, partisipasi masyarakat untuk membangun pendidikan dalam rangka membangun sumber daya manusia untuk mengubah pola pikir patut diapresiasi. Memang, banyaknya perguruan tinggi tidak langsung mempengaruhi indek pembangunan manusia (IPM) setiap daerah.  Sebagai contoh, IPM Provinsi NTT yang 6,2 memang masing ketinggalan dengan daerah lain. Ini artinya, perlu inovasi dan kreatifitas yang lebih besar untuk memunculkan insan-insan yang inovatif, kreatif, adaptif terhadap perkembangan zaman dan aplikatif menyemai keterampilan yang diperoleh untuk masyarakat.

Perguruan tinggi tidak elok hanya menambah program studi, menambah angka doktor dan magister, memperluas dSTKIP Citra Bakti Open stagean meningkatkan sarana-prasarana, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana keluaran perguruan tinggi bisa bermanfaat bagi masyarakat. Link and match dengan kebutuhan masyarakat, dunia usaha dan industri.

Di ranah pendidikan, variabel yang terlibat justru lebih komplek seperti standar kelulusan, isi, proses, pendidik, sarana-prasarana, penilaian, biaya, pengelolaan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Semua variable tersebut memerlukan teknologi baik dalam takaran konkrit dan tidak konkrit. Sehingga, adaptasi teknologi dalam sistem pendidikan kerap ditemui misalnya adanya program studi teknologi pendidikan, teknologi pertanian, teknologi perkapalan bahkan kata teknologi sudah disandingkan untuk membentuk berbagai istilah seperti misalnya teknologi tepat guna, teknologi kinerja, teknologi informasi dan komunikasi yang sering disingkat dengan TIK.

Hal yang menarik adalah teknologi pendidikan (TP). Teknologi ini bukanlah sesuatu yang baru. Adalah Negara Paman Sam sebagai barometer dan habitat subur tumbuhnya teknologi untuk pendidikan, teknologi dalam pendidikan dan aplikasinya di dunia pendidikan. Tercatat cikal bakal Teknologi Pendidikan/pembelajaran telah dimulai pada tahun 1920 dengan istilah educational engineering (rekaya pembelajaran) oleh Franklin Bobbitt dan W.W Charter. Sedangkan Saettler mendengar istilah teknologi pendidikan digunakan untuk pertama kali oleh W.W Charter. Kemudian James D. Finn menggunakan istilah Teknologi Pembelajaran pada penerbitan pertama dari Technological Development Project yang disponsori NEA pada tahun 1963. Finn mempokuskan publikasi pada penggunan komunikasi audio visual dalam pendidikan dan pelatihan. Penerapan teknologi pendidikan  di Amerika pertama terjadi pada tahun 1970 dalam program pembelajaran berbantuan computer yang dikenal dengan istilah Computer Aided Instruction (CAI). Kemudian pada tahun 1972 TP  di Amerika  mengeksistensikan jati dirinya sebagai suatu bidang yang menkaji proses pembelajaran, bukan mengkaji manusia yang melaksanakan pembelajaran pada suatu sistem pendidikan dan pelatihan. Sekarang, eksistensi TP telah utuh menjadi  profesi, bidang kajian dan suatu teori.

Tahun 1972 adalah geliat pemanfaatan teknologi pendidikan, geliat ini lebih bergelora ketika Apple memperkenalkan mikrokomputer generasi II. Selanjutnya, komputer macintosh juga digunakan untuk mengubah bahan-bahan pelajaran untuk pendidikan dan pelatihan. Sehingga, sala satu Negara di kawasan Eropa yakni Inggris juga kena dampak teknologi pendidikan. Akibatnya, British Open university yang awalnya menggunakan korespondensi untuk perkuliahan menggantinya dengan sistem jarak jauh melalui teknologi komunikasi audio dan video.

Tonggak penting selanjutnya adalah diperkenalkannya model perancangan pembelajaran atau desain pembelajaran Dick W. Carey pada tahun 1978 dan Model desain pembelajaran Keller di tahun 1983. Teknologi pendidikan sebagai suatu teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pengelolaan, pemanfaatan sumber dan proses belajar mulai mendapat kepercayaan dan semakin diintegrasikan dalam dunia pendidikan Negara paman Sam. Contohnya, Departemen Pertahanan Amerika menggunakan konsep teknologi pendidikan untuk melatih tentara dan perwiranya.

Bahkan teknologi pendidikan di Amerika langsung berada dibawah kendali Presiden Barack Obama. Departemen ini  telah diberikan wewenang untuk mempimpin tranformasi pendidikan dengan memperdayakan teknologi, mengembangkan pogram strategis integrasi teknologi dalam pendidikan  dan melakukan transisi bahan ajar cetak ke digital. Di laih pihak, sebuah asosiasi  tertua Teknologi Pendidikan bernama Association for Educational Communications  and Technology (AECT). Asosai ini merupakan induk teknologi pendidikan di dunia, termasuk Teknologi Pendidikan Indonesia. Misi asosiasi ini  adalah melakukan kajian berdasarkan etika profesi dalam memfasilitas belajar agar terjadi peningkatan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, pengelolaan teknologi, proses dan sumber yang tepat.

Lalu, bagaimana dengan eksistensi TP di Indonesia. Beberapa  perguruan tinggi negeri telah mengembangkan TP di Indonesia seperti Universitas Negeri  Jakarta, UPI Bandung, Universitas Yogyakarta, Semarang, Malang, Surabaya, Medan, Padang, Makasar dan Universitas Pendidikan Ganesha. Semua universitas ini berada pada Indonesia bagian Barat dan tengah. Sedangkan Indonesia bagian timur mungkin belum terinspirasi untuk mengembangkannya tetapi kemungkinannya tetap ada.

Ikhwal TP di Indonesia berawal dari  kembalinya Pak Yusuf Hadi Miarso dari Amerika ke Indonesia tahun 1963 dan di era Bung Karno Pak Yusuf Hadi Miarso dipercaya sebagai ketua Seksi Fotografi Ganefo. Kiprah berikutnya tenaga TP di Indonesia adalah dipercaya melakukan penelitian dan memberikan masukan untuk REPELITA I. Jejak karya TP berikutnya adalah  dikembangkan model pembelajaran PAMONG dan pendirian Lembaga media Pendidikan tahun 1971, dilanjutkan dengan rintisan radio pendidikan di tahun 1972. Kelembagaan Media Pendidikan diubah menjadi Satgas Teknologi Komunikasi untuk Pendidikan dan kebudayaan di tahun 1972 dan akhirnya di tahun 1974 menjadi PUSTEKOM sampai sekarang.

Produk implementasi TP di Indonesia  di tahun 1979 adalah realisasi SMP terbuka dan sebagai diketahui tahun 1990 menjadi andalan penuntasan wajib belajar 9 tahun serta realisasi Universitas Terbuka. UT adalah universitas jarak jauh yang berinovasi untuk mengaplikan seluruh sistem dan model teknologi pendidikan di Indonesia.

Diterimanya konsep TP di Indonesia juga terlihat dengan diakuinya pendirian Prodi S1  TP pertama  di Universitas Negeri Jakarta pada tahun 1974 dan Program S2 TP terstruktur  pada tahun 1978. Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) adalah bukti implementasi dan inovasi TP di Indonesia dengan siaran andalanya adalah Aku Cinta Indonesia yang mengudara secara resmi pada tahun 1985 kendati usulan programnya telah dajukan sejak tahun 1975.

Kehadiran dan lahirnya  TP di Indonesia tumbuh dari kesadaran bahwa, Pendidikan dan latihan banyak yang dapat ditingkatkan dengan pemikiran yang lebih serius dan hati-hati tentang berbagai aspek dalam merancang situasi belajar mengajar. Pendidikan membutuhkan teknologi dan teknologi itu amatlah vital bagi pendidikan itu sendiri.  TP bukan semata-mata fokus pada aspek konkrit seperti  perangkat keras, lunak dan deregulai. Namun, juga aspek tidak konkritnya seperti teknik belajar dan mengajar. Kedua aspek tersebut dalam penyelenggaraan suatu sistem pendidikan  TP memandang dalam perspektif pendekatan sistem. Dimana, dalam pendekatan sistem  aspek  perangkat keras, perangkat lunak, deregulasi, teknik belajar dan mengajar harus terintegrasi dalam suatu sistem. Oleh karena itu TP dalam menyelesaikan persoalan belajar selalu berpedoman pada cara-cara ilmiah  dan sistematik dengan praktek-praktek yang unggul. Itulah sebenarnya yang menjadi esensi teknologi dari TP.  Teknologi inilah yang kemudian oleh sarjana TP digunakan untuk memadukan komponen sumber daya belajar. Komponen sumber daya belajar itu adalah orang, isi ajaran/pesan, media, bahan ajar, teknik, peralatan dan lingkungan.

Sarjana TP berperan dalam takaran praktis dan ilmiah. Sebagai praktisi dan peneliti, keduanya ditentukan berdasarkan struktur dan tujuan dari lingkungan kerja tertentu dengan merujuk pola jabatan tersebut. Sehingga dalam mengaplikasikan teori TP dan berpraktek ke-TP-an, Sarjana TP membatasi pada domain, kawasan dan sub bidang kawasan. Domain Teknologi pendidikan adalah Desain atau Perancangan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian proses dan sumber belajar.

Sub bidang kawasan Desain, peran TP mengkaji sistem/model desain pembelajaran, desain pesan pembelajaran, strategi pembelajaran dan karakteristik pebelajar. Kemudian pada sub bidang kawasan pengembangan, peran TP adalah mengembangkan teknologi cetak, audio, video, berbasis komputer dan teknologi terpadu. Selanjutnya pada sub bidang kawasan pemanfaatan, peran TP adalah pemanfaatan media pembelajaran, difusi-inovasi pembelajaran, implementai dan institusi serta kebijakan atau deregulai.  Selanjutnya sub bidang kawasan pengelolaan peran TP adalah dalam hal mengelola proyek, sumber, sistem penyampaian dan informasi atau pusat sumber belajar. Terakhir sub bidang kawasan penilaian peran TP adalah menganalisis masalah dengan mempergunakan acuan patokan dan normatif yang pada akhirnya sebagai dasar untuk melakukan evaluasi (mengambil keputusan).

Kemudian pertanyaannya adalah apakah Teknologi Pendidikan dibutuhkan oleh lembaga Pendidikan (sekolah) dan Pelatihan? Sebelum menjawab, marilah repleksi beberapa pertanyaan berikut: (1) Apakah sekolah membutuhkan analis untuk menganalisis kebutuhan sistem/model pembelajaran? (2) Apakah sekolah membutuhkan perancang sistem/model pembelajaran dan kurikulum? (3 )Apakah sekolah membutuhkan perancang  dan pengembangan media pembelajaran (4) Apakah sekolah membutuhkan pengkaji prototype media pembelajaran? (5)Apakah sekolah membutuhkan konsultansi penerapan sistem/model pengembangan dan pemanfaatan media? (6) Apakah sekolah membutuhkan pengembang pusat sumber belajar?

Semua pertanyaan diatas membutuhkan jawaban, karena tantangan proses pembelajaran kedepan adalah bagaimana meningkatkan efesiensi seluruh proses kegiatan pembelajaran, baik meningkatkan kualitas belajarnya, mempersingkat waktu dan biaya serta meningkatkan kualitas guru. Oleh karenanya, bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang inovatif menjadi dambaan bersama, tentunya dambaan ini selaras dengan konsep Unesco untuk mewujudkan Lingkungan Inklusif Ramah terhadap pembelajaran bagi anak serta deklarasi Incheon Unesco 2015 untuk pendidikan tahun 2030 yakni Towards inclusive and equitable quality education and lifelong learning for all. Oleh karenanya, penyemaian benih TP di bumi Flores tinggal mencari habitnya yang cocok.

Iklan
Ditulis dalam Opini. Komentar Dinonaktifkan pada STKIP Citra Bakti Menyemai Benih Teknologi Pendidikan

I want peace

seminggu yang lalu, rabu 24 April 2013, kalimat I want peace menjadi penting bagi Mr. Ayodya dari Thailand,dikala membagi pengalamannya di ruang seminar rektorat Undiksha.

Saat mulai seminar Mr. Ayodya mengajukan pertanyaan mengelitik yakni: mengapa kita tidak pernah merasa damai?

lihatlah di sekeliling kita?
Ada demo besar-besaran
ada kerusuhan dimana-mana
ada peperangan di beberapa lokasi
ada gerakan separatis di beberapa daerah
ada korupsi meraja lela
ada perkelahian pelajar
ada perkelahian anak dengan orang tua
ada konflik di perguruan tinggi
dan banyak lagi…….

kenapa ini bisa terjadi…….

Apakah karakter sudah demikian parah?
Apakah pendidikan selama ini telah gagal membentuk manusia yang berbudi pekerti?
Apakah Pancasila telah dilupkan?
Apakah sarjana lulusan PT tidak memiliki karakter?

Peserta bengong….pura-pura berpikir serius, maklum yang hadir ada profesor, dosen dan guru-guru!
Malu kalo tidak akting berpikir serius……

Dalam hati, hari gini ngomong karakter……bosan dan bosan.
Bosan karena pelaksanaan budi pekerti yang dipelajari, kendati teorinya mengalahkan manisnya madu 1000 persen, pelaksanaannya tidak tampak sama sekali di negeri ini.

Malahan lebih parah…..

Mr. Ayodya mungkin heran dengan keseriusan peserta untuk berpikir dan berpikir…..hanya berpikir.
Mr. Ayodya lalu mungkin bosan dengan ketiada jawaban dari peserta. Suara lantang dan menghentak menyuruh peserta melihat slide power poinnya.

Kaget!
setelah melihat powepointnya hanya ada gambar bunga dan simbol jantung

Dibawahnya tertulis
—————————
I
Want
Peace
—————————–
Lalu, Mr Ayodya melanjutkan lagi. Katanya, yang menyebabkan kita tidak pernah bisa berdamai dimuka dunia ini adalah karena kita tidak pernah lupa menggunakan kata I=saya dan want=keinginan.

I adalah bahasa inggris yang dalam bahasa Indonesia berarti aku. Aku adalah ego itu sendiri. Jika keakuan atau ego ini masih belum dilumpuhkan maka ego inilah menguasai kita, begitu katanya!

ego untuk menang sendiri
ego untuk memiliki lebih banyak
ego untuk merasa benar sendiri
ego inilah yang menjadi awal dari ketidak damaian itu.

berikutnya adalah kata want atau keinginan.
Keinginan inilah yang menyuburkan tumbuhnya EGO.

Ingin kaya, ego untuk memonopoli usaha
ingin cantik, adalah keegoan untuk tidak mensyukuri
ingin dihormati, ego dinaikkan
ingin disegani, ego dipergunakan untuk mengkerdilkan yang lain

Begitu banyak dampak dari penggunaan kata “saya ingin ini, maka Mr. Ayodya menyarankan untuk mencoret huruf I dan want dalam setiap kesempatan sehingga tinggal PEACE nya saja.

Sederhana, hilangkan I dan want jika ingin DAMAI..

hilangkan keegoan,
hilangkan kenginan untuk menang sendiri,
hilangkan keinginan untuk merasa benar sendiri,
hilangkan keinginan untuk memiliki yang bukan menjadi hak
hilangkan keinginan untuk berpura-pura

Masih pentingkah media pembelajaran?

index

sumber: teamamerika10th.blogspot.com

Analogi yang masih diperdebatkan sampai saat ini adalah perdebatan antara Prof. Clark dan Prof Kozma tentang pengaruh media bagi pendidikan atau pembelajaran. Prof Clark banyak menyoroti kajian manfaat media dari sudut psikologi dengan dukungan hasil riset puluhan tahun. Demikian pula prof Kozma adalah dedengkot media, dimana pandangannya beranjak dari riset-riset media mutakhir, tentunya dengan dukungan riset puluhan tahun juga.

Seperti gambar disamping, pengaruh media terhadap pembelajaran masih diperdebatkan. Analogi pertama adalah media belum ada pengaruh media terhadap pembelajaran. Analogi ini berasal dari Clark yang menganalogikan media tidak ubahnya seperti truk yang membawa nutrisi, dimana yang berpengaruh terhadap “kita” bukan medianya tetapi buah-buahan yang menghasilkan nutrisi.

Analogi Prof. Clark benar. Jika truk ini membawa buah-buah untuk santapan orang-orang maka media memang tidak berpengaruh. Jika dicermati, kata media pada analogi yang dimaksudkan adalah jalan dan gerobak dari buah itu sendiri. Jika merujuk pada definisi media yang generik, media adalah entitas yang dilewati sesuatu, maka jalan adalah medianya. Sehingg analogi media tidak berpengaruh benar adanya dari sudut ini. Masih mempergunakan analogi ini, tujuan truk ini adalah sebagai tempat agar seseorang dapat memperoleh buah segar untuk dimakan. Jadi, tujuan media disini adalah sebagai entitas dari buah agar tujuannya tercapai.

Analogi yang kedua dari prof Kozma juga benar. Bahwa media berpengaruh terhadap pembelajaran atau dalam analogi ini media jalan memberikan andil bahwa truk itu sampai pada tujuan. Tidak mungkin orang membeli buah, lalu memakannya dan menjadi kenyang tanpa media jalan itu sendiri. Inilah perdebatan dengan kajian masing-masing yang sampai saat ini masih dikaji kembali.

Berbicara topik media saat ini sudah sangat meluas dari definisi media secara generik. Tidak seorangpun yang berani mengklaim bahwa media adalah miliknya. Khususnya di dunia pendidikan atau lebih sempit pada pembelajaran. Definisi media, sudah meluas dan bahkan bias.

Media pembelajaran dalam kajian beberapa perspekstif sangat membingungkan. Oleh sebabnya, agar tidak bingung, perspektif media dalam tulisan ini adalah berasal dari perspektif teknologi pembelajaran ( instructional technology).

Dalam perspektif ini, media pembelajaran sangat terkait dengan pesan. Pesan harus didesain, maka ilmu yang mengupas tuntas hal ini adalah instructional massage design atau desain pesan-pesan pembelajaran.

Pesan-pesan pembelajaran di wakilkan dengan berbagai sistem sismbol. Sistem simbol tersebut adalah sistem simbol tek, gambar, audio, audiovisual dan motion.

Contohnya, jika pesan yang ingin disampaikan kepada anak didik adalah tentang matahari, maka kita biasanya menyampaikan pesan matahari tersebut dengan berbagai sistem simbol, sistem yang digunakan bisa seperti  ilustrasi dibawah.

 Simbol Teks  Simbol Gambar  Simbol Audio  Simbol audiovisual/motion
 MATAHARI  matahari  Coba ucapkan kata matahari  

Dari beberapa contoh penyajian pesan matahari seperti ilustrasi diatas, jelaslah bahwa definisi media sangat spesifik dalam berbagai perspektif. Sehingga deskripsi media adalah sebagai berikut:

  1. Jika pesan matahari disampaikan dengan sistem simbol teks maka pesan ini harus menggunakan media sejenis Kertas
  2. Jika pesan matahari disampaikan dengan sismtem simbol grafis, maka pesan ini juga menggunakan media sejenis kertas
  3. Jika pesan matahari disampaikan dengan sistem simbol audio, maka pesan ini mempergunakan media udara yang membawa gelombang frekuensi.
  4. Jika pesan matahari disampaikan dengan sistem simbol audiovido atau motion, maka media yang digunakan adalah media digital seperti komputer, atau cd dengan cdp playernya

Dari deskripsi diatas, maka menjadi jelas apakah yang dimaksud dengan media dari perspektif Teknologi Pembelajaran/Pendidikan. Sebetulnya, sederhana! jika definisi media dikembalikan ke definisi generiknya, yakni media adalah entitas yang dilewati sesuatu. Entitas ini seperti kasus ilustrasi diatas adalah kertas, udara, dan CD. Sedangkan komputer masih terlalu rumit untuk mengidentifikasi yang mana entitasnya.

Lalu untuk apa media dan apa pengaruhnya?

Sekali lagi  media adalah entitas, jadi untuk apa media itu sendiri, sebenarnya adalah sebagai medium bagi suatu entitas yang melewatkan pesan-pesan tertentu. Jika pesan -pesan itu untuk proses pembelajaran, maka media dengan deskripsinya akan membenarkan pendapat Gagne yang mengatakan, “media adalah segala yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembelajaran” Sederhana sekali.

apa pengaruhnya?

Kembali ke analogi diatas, kalau disederhanakan: apa fungsi kertas, apa fungsi udara dan apa pula fungsi kepingan CD? maka akan ketemu apa pengaruh dari medium tersebut. pengaruh medium adalah terhadap entitas, yakni pesan. Dan apa pengaruh pesan terhadap peserta didik yang belajar matahari, hanya dapat dijawab melalui riset.

Nah, sekarang riset kecil inilah yang sangat jarang dilakukan atau dalam istilah TP riset media mikro. Judul riset sekarang tentang media selalu ke arah makro, seperti misalnya pengembangan media interaktif. Kalau didebatkan, media adalah medium, lalu media interaktifnya adalah medium yang berinteraksi. Mediumnya yang berintearksi  atau apa pesan-pesan yang harus berinteraksi  dalam kognitif siswa untuk mengembangkan daya nalar peserta didik?

Inilah sebenarnya yang lebih penting dalam kajian media. Bagaimana pesan di rancang, yang dapat  membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik, bukan medianya! Adalah hal yang lebih penting.

Megah namun sayang…

Gedung yang megah dengan lanskap dan tata lampu yang bagus akan memberikan nilai eksotik yang tinggi. Megahnya gedung dan landskap yang cantik dapat dinikmati oleh mata pada siang hari. Namun untuk menikmati kemegahan gedung dimalam hari, faktor lampu atau tata lighting menjadi hal yang penting.

Kurangnya mendapat perhatian atau sentuhan akan menjadi sedikit disayangkan. Obyek kali ini adalah gedung rektorat undiksha yang baru yang bertengger di jalan udayana singaraja. Momen diabadikan pada jam sembilan malam dengan kamera digital tanpa tambahan seperti: lensa tele, filter dan tanpa flash.

Eksterior lampu dengan nada warna putih seperti lampu neon sering tidak dipilih untuk menambah kemegahan gedung, seandainya penggunaan lampu dengan nada warna seperti lampu pijar, tentu pesan hangat, eksotik, megah dapat ditangkap oleh indera seperti mata atau oleh kamera. Hasilnya memang kurang maksimal, atau karena fotografernya yang belum mampu memanipulasi obyek yang sederhana menjadi menakjubkan.

Seperti misalnya bangunan yang satu ini, berlokasi di pinggir pantai pelabuhan buleleng. Jika bangunan ini dilihat pada waktu siang hari, sepertinya biasanya saja. Namun, tampaknya perancang memberikan kejutan ketika bangunan ini dilihat pada malam hari. Perancangan tata lampu bukan saja jenis lampu yang digunakan, juga telah dipikirkan efek warna yang disajikan. Terlihat memang perancang memikirkan detail. Ya, detail memang penting. Dari kaca mata fotografi “leading line” memang harus dapat di tangkap kamera.
Nah inilah picture bangunan tersebut dimalam hari.

Ditulis dalam Opini. Tag: , , . 2 Comments »

Gelisah dan Galau?

Yang tercecer dari PIP-JIP Bandung Kami Pungut Untuk mahasiswa TP

Judul makalah : Reposisi Tren ICT Dalam Bidang Kajian Teknologi Pendidikan Author Edi Subkhan, Pak Dosen Unes

Di kalangan mahasiswa jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (KTP) pada
umumnya, dan terutama yang secara intens saya perhatikan secara khusus, yakni pada
Program Studi TP di Universitas Negeri Semarang (Unnes), menggejala sebuah kegelisahan
karena Fakultas Teknik mendirikan jurusan Pendidikan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK).

Di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pun agaknya demikian pula,
Fakultas Teknik membuka Jurusan Pendidikan TIK. Lalu saya pikir apa hubungannya
antara TP dan pendirian jurusan Pendidikan TIK?

Bagi saya kegelisahan tersebut sebenarnya tidak berdasar ketika tata nilai pemahaman paradigmatik tentang TP dan TIK
dapat dipahami dengan baik, dan juga diimplementasikan dengan tepat di lapangan.
Kegelisahan tersebut terjadi karena mahasiswa TP merasa khawatir terhadap peluang
kerja mereka akan makin sempit ketika dibuka jurusan pendidikan TIK. Agaknya terdapat
pemahaman bahwa jurusan pendidikan TIK nanti para lulusannya akan mengambil lahan
pekerjaan yang selama ini menjadi wilayah dari lulusan TP. Sementara itu, pada internal
TP sendiri, sampai sekarang masih mengalami “ketidakjelasan” pekerjaan dalam institusi
pendidikan.

Dikeluarkannya Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan)
No. PER/2/M.PAN/ 3/2009 tentang Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi
Pembelajaran dan Angka Kreditnya, yang agaknya menjadi secercah harapan bagi warga
TP untuk turut dapat mengisi formasi guru TIK di sekolah-sekolah, ternyata juga sekadar
menjadi peraturan tanpa implementasi berarti.
Jika dilihat lebih jauh, Peraturan Menpan tersebut pun tidak akan banyak membantu
mahasiswa yang baru lulus, karena memang itu adalah peraturan tentang “Jabatan
Fungsional” yang tidak akan banyak membuka peluang bagi mahasiswa TP yang baru lulus
untuk mendaftar.

Misalnya dapat dilihat pada pasal 3 ayat (2) dinyatakan bahwa, “Jabatan
Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah jabatan karier yang hanya dapat diduduki oleh seseorang yang telah berstatus
sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).” Jadi lebih diutamakan atau diprioritaskan pada
mereka yang telah berstatus PNS.

Hal ini dikuatkan pada bab VIII tentang Pengangkatan
dalam Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran pasal 25 ayat (1) bahwa:
Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam Jabatan Pengembang
Teknologi Pembelajaran harus memenuhi syarat: a. Berijazah paling rendah Sarjana
(S1)/Diploma IV sesuai dengan kualifikasi yang ditentukan; b. Pangkat paling rendah
Penata Muda, golongan ruang III/a; c. …

Syarat paling rendah Penata Muda, golongan ruang III/a ini jelas menunjukkan bahwa
Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran bukan untuk dilamar oleh para
mahasiswa fresh graduate TP, melainkan –sebagaimana dikuatkan pada pasal 3 ayat (2)–
hanya untuk mereka yang telah berstatus sebagai PNS. Dalam beberapa kesempatan, para
inisiator kebijakan ini memang mengemukakan bahwa dikeluarkannya kebijakan ini adalah
utamanya untuk mengenalkan dan mengesahkan bahwa profesi teknologi pendidikan
masuk dalam formasi kepegawaian negeri.

Hal yang utama adalah: harus ada yang mengurus ranah pekerjaan TP di dalam instansi pemerintah (dalam Peraturan Menpan
tersebut memang tidak terdapat klausul yang secara khusus memberi amanat agar
Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran ini harus ada di sekolahsekolah,
kampus dan sejenisnya). Sebagai sebuah strategi pengenalan ada dan diperlukan
nya TP tentu sah saja, namun jika dianggap dapat memenuhi harapan mahasiswa TP tentu
tidak banyak yang bisa diharapkan dari kebijakan ini.

lebih banyak, klik saja disini

Standard Teknologi Informasi dan Komunikasi

Media dan Teknologi dalam Pembelajaran

Standard dari masyarakat internasional penerapan teknologi dalam pembelajaran meliputi: 1)standard untuk pendidik, 2)standard untuk pelajar dan 3)standard untuk staff.

Dewasa ini di era belajar digital, perlu kiranya mencermati standard yang dikeluarkan oleh lembaga ISTE , sekedar sebagai perbandingan untuk memperluas cakrawala tentang standard  komptensi inti guru TIK di negeri ini. Seperti diketahui sebenarnya standard kompetensi inti guru TIK sudah jelas tersurat pada permendiknas nomor 16 tahun 2007.

Namun demikian, pembaca yang ingin mengetahui standar tersebut dapat diklik pada link ini.

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »

Student Entrepreneur

National teaching conference telah berlangsung di Bali.  Diselenggarakan oleh universitas Ciputra, NTC ini memberikan semangat baru dalam kerangka menyemai benih-benih entrepreneur dikalangan pendidikan, mulai jenjang taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.

Foto bareng bersama Pakar entrepeneur

Foto bareng bersama Pakar entrepeneur

Dengan menghadirkan pakar-pakar entrepreneur dari dalam negeri (UCEC) dan luar negeri, training of trainer ini menyajikan atmosfir yang berbeda, khususnya dalam metode pelatihan berbasis entreprenurship di Indonesia.

Banyak hal baru yang disajikan, banyak teknik dan strategi baru di sajikan bagi pegiat-pegiat dunia usaha. Bukan itu saja, pengemasan training ini dengan gaya yang ringan dan menyenangkan menyebabkan waktu 3 hari terasa sangat singkat.

Demikian pula pada jenjang pendidikan tinggi. Gaung dan angin wirausaha saat ini berhembus sangat kencang. Pak Ci mengatakan ”Dulu saya berpikir lewat pendidikan sudah cukup untuk membuat Indonesia makmur. Tetapi kenapa hingga sekarang tetap saja kita terbelakang?

Ternyata tidak cukup menguasai ilmu yang umum saja. Bangsa ini butuh orang-orang yang sanggup mengubah kotoran menjadi emas. Itu ada dalam spirit kewirausahaan,” kata Ciputra. Lebih lanjut, Menurut Ciputra, kewirausahaan itu bisa diterapkan di semua bidang pekerjaan dan kehidupan. Kewirausahaan juga bisa mengatasi banyak persoalan bangsa, terutama kemiskinan dan pengangguran.

Jakob Oetama mengatakan, kewirausahaan bukan berhenti pada persoalan keahlian. ”Kewirausahaan mesti dikembangkan sebagai budaya dalam arti pembentukan sikap dan penanaman nilai-nilai hidup. ”Bangsa ini tidak butuh ornag-orang yang hanya bisa ngomong saja, tetapi butuh orang yang mau bekerja dan berbuat,” ujar Jakob.

Situasi yang sama juga dikatakan oleh Sudrajat Rasyid, “semangat kewirausahaan itu mesti bisa jadi karakter atau budaya semua anak bangsa. Karena itu, perlu rekayasa ulang dalam bentuk pendidikan, pelatihan, serta metode mengembangkan kewirausahaan.

Antonius Tanan, Presiden UCEC, mengatakan, para peserta dalam TOT Entrepreneurship diharapkan bisa menjadi pengusaha dan menjadi pelatih pendidikan kewirausahaan.

Sejalan dengan itu, konsorsium internasional untuk pendidikan kewirausahaan sebagai lembaga nirbala juga mendukung entrepeneur dengan membantu mengeluarkan standar internasional pendidikan kewirausahaan mulai jengang sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »