Use ICT to Learn atau Learn to Use ICT?

Anak-anak baik disekolah maupun di luar sekolah sering kita jumpai mereka menggengam handphone, smartphone atau tablet. Entah untuk apa, yang jelas kelihatannya sangat sibuk sekali. Ya, mereka telah Use ICT! tetapi apakah mereka menggunakan ICT( smartphone) yang terkoneksi internet untuk belajar tentu belum pasti. Pertanyaan berikutnya apakah mereka juga telah belajar terlebih dahulu belajar cara menggunakan piranti itu? Juga belum bisa ditebak.

aplikasi dekstopMemang, orang menyebut era sekarang, era digital atau era milenium. Sampai bayi-bayi yang lahir dekade ini sering disebut generasi milenium. Entah berdasar atau tidak yang jelas intinya adalah bahwa perubahan harus kita alami. Disetiap sisi kehidupan akan kena yang namanya pengaruh, terlebih lagi di dunia pendidikan.

Unesco sering kali menulis kalimat pada judul diatas. Sepintas kelihatan sepele, namun ada perbedaan yang jelas disitu.

Yang pertama Use ICT to Learn atau  menggunakan TIK dalam belajar sedangkan yang kedua Learn to use ICT atau belajar menggunakan TIK. Mana yang lebih dahulu?

Singkatnya begini, jika seseorang menggunakan laptop yang terkoneksi dengan internet semisal mencari baju, alat kosmetik, merek HP dan sebagaimnya, mereka ini sudah dapat dikatakan menggunakan ICT tetapi belum menggunakan ICT dalam belajar.

Jika anak-anak menggunakan ICT untuk mencari jenis-jenis ikan hias, untuk menambah persespi mereka tentang ikan dan tidak ada hubungannya dengan tugas sekolah, kompetensi Inti atau bagian dari kurikulum maka, anak-anak baru menggunakan ICT dalam belajar TETAPI belum mengintegrasikan.

Integrasi ICT dalam pembelajaran hanya boleh disebut jika mencari ikan hias tadi adalah bagian dari aktifitas belajar yang tertuang dalam rencana pembelajaran.

Jadi menggunakan ICT dengan integrasi ICT sangat jelas perbedaannya.

Agar kedua ragam aktifitas itu berjalan dengan faedah yang baik, maka satu-satunya jalan adalah dengan Learn To USE ICT.

Contoh:

  1. Kami mendengar iklan di radio, cara cepat membaca atau cara ajaib membaca! Masak….? yang bener aja! Lalu kemudian kami browsing mencari informasi yang relevan dengan itu. Lalu kami dapat yang bagus. Kami belajar dirumah tentunya online. Jadi, kami menggunakan ICT untuk menambah wawasan dan tidak ada sangkut pautnya dengan tugas kami. Periksa saja tautan ini.
  2. Ada iklan cara membaca bahasa inggris  dengan baik dan benar. Kalau tidak mau merogoh kocek anda, kenapa tidak menggunakan cara membaca dengan google translate. Disamping bisa menterjemahkan juga bisa mendengarkan cara pengejaannya. Tidak harus keluar rumah cukup di didepan monitor saja.

So, dengan kemajuan teknologi jaringan dan web, sekarang ini sangat banyak piranti, konten dan aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk mengasah keterampilan. Dan hanya perlu dari meja Anda.

Iklan

Penerapan sehari-hari Kapabilitas Belajar Gagne

Kemarin anak kami yang paling besar baru kelas tiga SD datang dari toko dengan membawa stik es krim dua bungkus. Lalu, iseng kami tanya,”es krimnya mana?” “Apa disuruh membuat es krim di rumah, lalu besok di bawa kesekolah? demikian pertanyaan lanjutku. Eh, malah dijawab dengan enteng. “barang ini untuk membuat prakarya, disuruh membuat dirumah” dan “boleh dibantu, gitu katanya”.

Lalu, kendati asik di depan komputer, berpikir sejenak, lalu kami ajukan pertanyaan. “Siapa yang disuruh membantumu? Jawabannya enteng lagi, “Ya, bapak! dengan nada tinggi”.

Oke! Karena besok harus dikumpul, maka kami sisihkan waktu untuk melaksanakan teori kolaborasi. Tidak pake lama, semua alat dan bahan telah disiapkan, sambil kami mengambil kertas, meteran, gunting dan pensil. Proyek pun dimulai.

Kami berdikusi, apa yang akan dibuat dengan dua bungkus stik es krim ini, kami membagi tugas lalu kami menggunakan idenya dan kami bantu dan setelah satu jam proyeknya pun selesai.

Rumah stik krim

Rumah stik krim

Setelah selesai, anak kami tidur pulas dan kami masih berpikir, Pengamalaman belajar apa yang telah anak dan kami alami, dalam proyek ini? Semakin dipikir, semakin rumitnya jadinya. Kalau dikaitkan dengan beberapa teori belajar, teori pembelajaran dan bagaimana anak belajar sebenarnya banyak poin yang bisa dicatat, misalnya.

  1. Ketika anak membeli dan membawa barang stik es krim, sebenarnya mereka belajar mengenal fakta, yaitu bentuk dan bahan stik es krim ( teori Gagne)
  2. Lalu ketika mengkomunikasikan idenya untuk membuat rumah “ranggon” si anak sudah belajar kapabilitas verbal, yakni menyampaikan ide dengan jelas ( teori belajar Gagne)
  3. Kemudian ketika anak-anak menghitung banyaknya stik es krim, menyusun, memindahkan sesuai apa yang ada dibenaknya adalah keterampilan intelek ( teori gagne). Si anak tidak mungkin bisa mengkomunikasikan idenya, tanpa sebelumnya mereka memiliki skema awal. Skema ini  berasosiasi dengan tugas yang akan dikerjakan.
  4. Mengambil Lem untuk mengelem stik es perlu ke hati-hatian, bila perlu tidak bernapas. Lagi-lagi si anak belajar keterampilan motorik. Tidak mudah untuk menyusun stik es krim dengna lem. harus hati-hati sampai menunggu lemnya kering.
  5. Pada saat membuat atap, ada konsep segitiga yang anak harus pelajari ketika membuat kuda-kuda. jadi bagaimana konsep segitiga di terapkan di dunia nyata adalah siasat kognitif teori Gagne.
  6. Perhatian, semangat dan kegairahan mengerjakan adalah  prasyarat kondisi belajar yang harus ada sesuai teori Gagne!
  7. Kemudian karya itu dibawa kesekolah, lalu dinilai dan ditanya, ” dapat nilai berapa?” Jika seorang guru memberikan nilai bagus, misalnya 85 pada karya itu, dan nilai itu adalah penguatan operan versi Skinner. Kemudian jika nilainya 85 adalah nilai tertinggi dikelasnya, anak-anak harus memiliki kapabilitas sikap versi Gagne, yakni tidak sombong dengan apa yang telah dicapai.

Jadi, kesimpulannya.

  1. Proyek panggung “Ranggon” kelihatannya remeh, tetapi ada teori belajar disitu
  2. sering kita mengabaikan hal-hal kecil apalagi tidak rungu dengan tugas anak-anak, padahal kolaborasi anak dengan orangtua dalam hal tertentu sangat penting dalam menciptakan kondisi belajar
  3. Akhirnya, seberapa banyak ‘ orang tua’ yang belajar teori belajar? Kadung sudah percaya 100 % pada sekolah dan les-les yang menjamur. Itu apa orang tua yang tidak mengerti atau tidak mau direpotkan oleh anaknya sendiri?

Integrasi TIK dalam Pembelajaran

1.  Pendahuluan

Saat ini begitupula masa mendatang teknologi ditengarai memerankan peranan dan fungsi yang sangat penting serta mendominasi di setiap lini kehidupan. Tidak terkecuali di dunia pendidikan arus masuknya teknologi baik dalam tataran untuk dipelajari maupun dimanfaatkan sudah tidak bisa dielakkan lagi. Teknologi dalam wujudnya sebagai hard technology maupun soft technology, kedua wujud ini saling terkait, saling melengkapi sebagai piranti yang sangat dibutuhkan manusia dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Sebenarnya teknologi bukanlah istilah baru. Dari jaman prasejarah sejak ditemukannya kapak sampai jaman millenium yang ditandai dengan kehadiran komputer dalam berbagai varian hingga perangkat bergerak (mobiling) seperti tablet, smartphone kerap dijumpai sebagai alat dan media dalam memencahkan persoalan-persoalan, tanpa kecuali di dunia pendidikan khususnya dalam kegiatan administrasi, pembelajaran serta sistem penyampaian.

Pertumbuhan komputer, tablet, smarphone, chrome book setiap tahun menunjukkan gejala peningkatan dengan jenis, model, merek dan fitur-fitur yang mampu memanjakan pemakainya. Dominasi pemanfaatan teknologi tersebut lebih cendrung untuk gaya hidup seseorang sedangkan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran dikelas masih menemukan beberapa kendala. Kendala ini misalnya belum adanya aturan baku atau prosedur operasi standar pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Komputer selama ini dimanfaatkan sebagai piranti rutin untuk kegiatan administratif. Dengan kemampuan pengolahannya, komputer dalam dunia pendidikan di fungsikan sebagai alat atau tool kognitif. Komputer juga difungsikan sebagai medium pengolahan data yang dimasukkan sehingga menjadi informasi yang siap disajikan. Disajikan dalam artian informasi ditampilkan pada layar komputer itu sendiri, melalui LCD proyektor dan di cetak melalui peran serta adanya printer.

Tablet dan smartphone dengan jumlah pemakai dikalangan pelajar dengan gejala kepemilikan yang mulai menujukkan peningkatan baru dimanfaatkan sebagai bagian gaya hidup ketimbang sebagai alat bantu untuk kegiatan pembelajaran. Dengan demikian manfaat jika dibandingkan dengan biaya perolehan untuk saat ini tidak seimbang sampai ada inovasi untuk membuat pedoman penggunaan tablet dan smartphone dalam pembelajaran, baik dalam kontek di dalam kelas maupun di luar kelas. Jenis komputer jinjing yang ringan, fleksibel dan bisa dibawa kemana-kemana dengan mudah dan kaya dengan fitur untuk digunakan dalam pembalajaran adalah jenis ultrabook seperti chromebook yang saat ini menjadi gejala yang direkomendasikan untuk siswa-siswi. Setidaknya jenis piranti ini sedang dilakukan proses edukasi bagi siswa-siswi di Amerika, disamping sudaj terlebih dahulu edukasi dikampanyekan untuk pemakaian tablet dan ipad.

Indonesia sebagai negara berkembang dengan populasi 223 juta pendduduk, merupakan pasar yang sangat besar untuk piranti yang dipaparkan diatas. Penggunaan komputer dan laptop dikalangan masyarakat pendidikan (sekolah) merupakan piranti yang sudah familiar digunakan oleh siswa-siswi, kendati kepemilikan laptop dari siswa-siswi setingkat SMP, SMA/SMK lebih rendah dari mahasiswa di perguruan tinggi. Namun demikian komputer sudah digunakan oleh guru, staf sekolah baik untuk mengolah data maupun kegiatan administratif. Tetapi, penggunaan komputer atau laptop sebagai tool didalam kelas masih terbatas dalam hal prekuensi penggunaannya. Demikian pula komputer dan laptop yang difungsikan untuk menciptakan, mengembangkan bahan-bahan ajar menunjukkan gejala yang memprihatinkan. Memang, pasca sertifikasi populasi kepemilikan komputer dan laptop meningkat namun hal ini tidak diimbangi dengan usaha untuk menciptakan bahan-bahan ajar berbasis TIK. Keprihatinan terhadap minimnya produk yang berhasil diciptakan oleh guru dengan kepemilikan laptop tidak berbanding lurus dengan fitur yang disediadakan laptop. Gejala ini bisa di lihat dari beberapa kegiatan untuk merangsang guru dalam mengembangkan bahan ajar berbasis ICT oleh Dinas Pendidikan dan Pemuda Olaharaga Propinsi Bali tahun 2010, 2011 dan 2012 masih jauh dari harapan. Ilustrasi data seperti tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah Sekolah yang Aktif mengembangkan Produk Berbasis ICT

Kabupaten Jumlah Peserta
2010 2011 2012
SD SMP SMA/SMK SD SMP SMK SD SMP SMA/SMK
Jembarana 2 1 0 1 2 1 2 2 2
Buleleng 2 1 0 2 1 2 2 2 1
Karangasem 1 1 0 0 0 1 2 2 1
Klungkung 0 1 1 0 0 1 2 2 1
Bangli 2 1 0 2 1 2 2 2 1
Gianyar 0 0 0 0 0 1 2 2 1
Denpasar 2 2 1 2 2 1 2 2 2
Badung 2 2 2 2 2 2 2 2 1
Tabanan 0 2 1 0 2 0 2 2 1
Jumlah 11 11 5 9 12 12 18 18 10

(Sumber, Tim Juri Lomba Bahan Ajar Berbasis ICT, Disdikpora Bali)

Dari delapan kabupaten dan pemerintah kota yang ada di Bali produk yang dihasilkan oleh guru masih sangat jauh dari harapan, baik dari jumlah sekolah yang datang, jumlah peserta dan kualitas produk yang dihasilkan. Hal ini mengindikasikan bahwa pengembangan profesi guru secara berkelanjutan harus di program lebih serius agar amanat undang-undang dan beberapa standar bisa tercapai.

Amanat standar proses (Permendiknas 41 Tahun 2007) yang menyatakan proses pembelajaran dilaksanakan harus inspiratif, interaktif, menyenangkan, momotivasi dan menantang untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai bakat, minat serta perkembangan fisik, psikologis peserta didik jauh dari harapan. Ambil suatu contoh! Masih banyak kita temui anak-anak takut untuk pergi kesekolah, karena sekolah tidak menyenangkan dan dalam benak siswa sekolah masih menyerupai penjara. Padahal sejak tahun 2013 pemerintah sudah memberlakukan kurikulum 2013. Kenyataan ini justru berbanding terbalik dengan rasionalitas, alasan dan tujuan perubahan kurikulum 2013 yang dicanangkan pemerintah. Lebih tragis lagi ketika harapan besar tertumpu pada kurikulum 2013, justru anak-anak mendapat perlakuan yang tidak memperhatikan perkembangan psikologis anak, seperti isu hangat yang terjadi pada sekolah international, Jakarta International School (JIS).

Berbagai kondisi saat ini tidak bersahabat dengan anak didik. Kondisi yang demikian parah ini lebih parah ketika mata pelajaran TIK dihilangkan dalam struktur kurikulum 2013. Menteri Pendidikan, Muhammad Nuh dalam suatu kesempatan di Malang mengatakan “guru-guru tidak lagi dibebani dengan urusan administratif, tugas guru dalam kurikulum 2013 hanya mengajar”. Lebih lanjut Pak Menteri mengatakan, “ —begitu juga, buku-buku bahan pelajaran akan semuanya dibuat dipusat, guru hanya melaksanakan pengajaran saja”. Pernyataan Pak Menteri ini kontrakdiktif dengan substansi yang ada pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomr 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, dalam hal: 1) pada kompetensi pedagogik sangat jelas dinyatakan bahwa guru memanfaatkan TIK untuk kepentingan pembelajaran, 2) pada kompetensi profesional sangat jelas tersurat guru mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara efektif dan 3) guru memanfaatkan TIK untuk mengembangkan diri.

Hilangnya muatan TIK dalam struktur kurikulum 2013 juga kontraktif dengan tuntutan kemajuan zaman dimana penguasaan TIK seharusnya ditingkatkan melalui pelatihan yang berkelanjutan, bukannya di lebur dengan konsep yang belum jelas. Padahal TIK seperti diamanatkan UNESCO, harus dilihat pada dua aspek. Aspek tersebut, yaitu: learn to use ICT dan use ICT to learn ( Unesco Toolkit ICT, 2009). Begitupula pemetaan untuk memperoleh gambaran ICT di sekolah-sekolah belum dilakukan dengan serius, sehingga kita sangat sulit mendapatkan data yang valid untuk pengkajian lebih lanjut. Hal ini diperparah lagi dengan tidak adanya kebijakan atau masterplan ICT di Indonesia. Kondisi ini tentunya berbanding terbalik dengan keseriusan pemerintah Malaysia dan Singapura yang telah memiliki masterplan ICT yang terencana, terarah dan valid untuk pengkajian lebih lanjut.

Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) yang dilaksanakan pada 10 Maret 2013 oleh Fakultas Ilmu Pendidikan, Undiksha di dua sekolah yakni SMP Negeri 2 Singaraja dan SMP Negeri 1 Sukasada, menemukan beberapa gejala sebagai berikut: 1) kurang terampilnya guru dalam mendesain pembelajaran; 2) kurangnya guru dalam latihan learn to use ICT dan 3) belum adanya aturan standar layanan penggunakan ICT dalam pembelaran atau use ICT to learn.

Berbekal temuan tersebut diatas maka sangat penting untuk melanjutkan kembali dalam rangka melakukan perbaikan atau treatment terhadap aspek yang patut diduga agar proses pembelajaran berlangsung inspiratif, interaktif, menyenangkan, momotivasi dan menantang peserta didik.

2. Analisis Situasi

Situasi yang dianalisis adalah tempat yang akan menjadi Pengabdian Masyarakat, yakni: 1) SMP Negeri 2 Singaraja dan 2) SMP Negeri 1 Sukasada. Kedua sekolah ini sebelumnya telah menjadi tempat P2M sehingga temuan pada tahun sebelumnya dapat ditindaklanjuti pada P2M kali ini.

2.1 SMP Negeri 2 Singaraja

SMP Negeri 2 Singaraja terletak di jalan Sudirman dengan akses yang mudah dicari. Pada tahun 2013 SMPN 2 Singaraja mendapat uji coba pengabdian masyarakat melalui Kegiatan Lesson Study. Satu orang guru di sekolah ini telah dijadikan model dalam pembelajaran TIK. Siklus Lesson Study berjalan sesuai harapan dengan temuan-temuan sebagai berikut: 1) perangkat pembelajaran yang disusun seperti silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran belum mengintegrasikan teknologi informasi, teknologi komunikasi dan media seperti yang diharapkan. Hal ini dimaklumi karena guru belum pernah mendapat konsep integrasi teknologi, media dalam kurikulum.; 2) Dalam proses pembelajaran pun masih menemui kesulitan karena guru belum memiliki standar layanan penggunaan media; 3) belum adanya garis-garis besar isi media pada RPP dan Silbus yang memberikan arah dan strategi guru dalam penggunaan media dan teknologi.

2.2 SMP Negeri 1 Sukasada

SMP Negeri 1 Singaraja yang terletak di Jalan Gelatik Gingsir Singaraja yang juga mendapat uji coba penerapan metode pembelajaran Lesson Studi memperlihatkan gejala yang sama dengan SMP Negeri 2 Singaraja. Dua orang guru TIK telah dijadikan guru model pada kegiatan lesson study tersebut. Hal yang sama terjadi pada guru-guru tersebut dimana pemahaman akan konsepsi dan integrasi TIK dalam pembelajaran masih kabur. Hal ini dikarenakan belum adanya pelatihan atau kegiatan lainnya yang berkaitan dengan integrasi TIK dalam pembelajaran.

3. Tinjauan Pustaka

3.1   Teknologi Informasi dan Komunikasi, Integrasi dan Pembelajaran

Sebelum abad ke 20 dan setelahnya, kata teknologi atau term technology   [tech.nol.o.gy] telah dicoba diberikan batasan beragam oleh para pakar, baik secara individual maupun secara kelembagaan. Wikipedia misalnya, memaparkan, …Before the 20th century, the term was uncommon in English, and usually referred to the description or study of the useful arts. Begitu pula di Jerman menerjemahkan konsep  Technik kedalam “technology”. Lebih lanjut dipaparkan juga,

In German and other European languages, a distinction exists between technik and technologie that is absent in English, which usually translates both terms as “technology”. By the 1930s, “technology” referred not only to the study of the industrial arts but to the industrial arts themselves (wikipedia)

Selanjutnya menurut The Merriam-Webster Dictionary  term teknologi didefinisikan sebagai: “the practical application of knowledge especially in a particular area” and        “a capability given by the practical application of knowledge.

Demikian pula untuk saat ini kata teknologi sudah di adaptasi dan digunakan dalam sekala yang lebih luas bukan saja penerapan praktis dari suatu pengetahuan, bukan saja sebuah teknik ataupun seni namun, kata teknologi sudah disandingkan dengan beberapa kata yang menimbulkan batasan-batasan baru, persepsi baru yang diperlukan untuk suatu maksud.

Dalam bahasa Indonesia sering kita membaca ataupun mendengar kata teknologi pendidikan, teknologi pertanian, teknologi kayu, teknologi tepat guna dan banyak kata lain yang disandingkan dengan teknologi. Salah satu yang sering dikaji adalah teknologi informasi dan komunikasi yang merupakan terjemahan dari bahasa aslinya, yakni information communication and technology (ICT). Menurut UNESCO, ICT atau TIK untuk pendidikan di berikan batasan …range of electronic tools for storing, displaying and exchange information and for communicating. Penting untuk memahami, bahwa TIK tidak dipahami dengan sederhana yang menyangkut komputer dan internet. Namun, TIK terdiri dari peralaatan, layanan dan teknologi seperti: radio, sistem satalit, televisi, video, DVD, telepon, komputer (termasuk jaringan), video konferensi dan juga surat elektronik. Disebagian negara berkembang dimana akses internet dan komputer masih sangat terbatas, maka penggunaan piranti elektronik merupakan solusi yang penting, karena dapat digunakan dalam mencapai tujuan pendidikan, mudah diperoleh kebanyakan orang dan terjangkau.

Perkembangan TIK telah mengubah dunia secara drastis, dan perubahan ini keluar membawa pengaruh signifikan terhadap pranata sosial dan dunia kerja.TIK telah mengubah berbagai pola kehidupan masyarakat, pekerjaan dan cara mereka berinteraksi dengan yang lainnya. Negara yang secara efektif mengembangkan dan menggunakan TIK akan menjadi masyarakat yang berpengetahuan, yang sudah barang tentu masyarakat baru ini akan menciptakan, membagi dan mengkomunikasikan pengetahuan tersebut untuk kemakmuran.

Dalam perspektif UNESCO, fungsi TIK dapat berperan sebagai “alat” dan sebagai “subyek”. Memperkenalkan TIK dalam pendidikan/pembelajaran sebagai “alat” akan membuat informasi semakin cepat diakses, lebih murah dan lebih mudah. Dalam hal tertentu TIK di dunia pendidikan dapat membuat pendidikan lebih muda dijangkau, meningkatkan kualitas pendidikn, dan sebagai alat yang efektif dalam mengelola pendidikan. Sedangkan memperkenalkan TIK sebagai subyek dalam pembelajaran berarti ICT sebagai bagian yang vital untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan membentuk keterampilan.

Integrasi TIK dalam pendidikan, UNESCO memaparkan, bahwa akses dan keterjangkauan pendidikan terhadap TIK akan mampu membuat pendidikan lebih baik, karena akses terhadap informasi meningkat, memungkian akses yang lebih tinggi terhadap pendidikan, memungkinkan belajar dimana saja dan kapan saja, dan mempertahankan belajar sepanjang hayat. Peran TIK dalam pendidikan sangat penting karena TK mampu meningkatkan kualitas pendidikan, karena tik mampu meningkatkan motivasi siswa, TIK mampu membuat belajar siswa lebih pribadi, TIK mampu meningkatkan pembelajaran, TIK mampu memberikan umpan balik dan penguatan, TIK mampu meningkatkan kualitas pengajaran dan TIK mampu memperkaya proses mengajar.

Disamping itu TIK merupakan alat pengelolaan yang efektif. Efektifnya Tik dalam pengelolaan penddikan meliputi dua aspek, yaitu: 1) menghemat perencanaan dan sistem penyampaian dan 2) memfasilitasi pengambil kebijakan dan pengelola pendidikan. Oleh karena itu TIK dalam pendidikan harus dipahami secara menyeluruh termasuk tahapan-tahapan adopsi TIK dalam pendidikan. Unesco sendiri telah membuat tahapan TIK dalam pendidikan, seperti tersaji pada gambar 1. Unesco juga mengingatkan bahwa tantangan TIK jika di implementasikan di dunia pendidikan adalah kapabilitas, koneksi, akses, konten dan kurikulum.

 

 

Gambar 1. Tahapan TIK dalam Pendidikan ( Unesco Bangkok Elearning series on ICT in education)

Teknologi dengan dimensi teknologi lunak dan teknologi keras menjadi bagian integral dari proses pembelajaran di abad mendatang. Integrasi teknologi kedalam proses disamping melibatkan berbagai komponen seperti: orang, isi ajaran, media atau bahan ajar, peralatan, teknik dan lingkungan, juga dipengaruhi oleh suatu kebijakan. Kebijakan para pengambil keputusan untuk mengadakan suatu program pengembangan profesi berkelanjutan yang jelas dan terarah juga menjadi bagian terpenting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini harus diasari, karena belajar sejatinya ada proses interaksi antara peserta didik, pendidik dan lingkungan ( UU No 20 Tahun 2003)

3.2     Mengapa mengintegrasikan Teknologi

Teknologi sudah digunakan oleh manusia di dunia ini sedari teknologi sangat sederhana sampai teknologi sangat canggih. Khususnya di dunia pendidikan teknologi dikaji dan diperbaharui untuk melahirkan cara-cara terbaik menanangani masalah-masalah. Pada awalnya teknologi untuk pendidikan digambarkan sebagai piranti hasil teknologi yang ada diluar kontek pendidikan dan akan digunakan di dunia pendidikan. Teknologi dalam pendidikan adalah dimensi lain, dimana teknologi (alat dan proses) telah masuk kedalam proses pembelajaran serta teknologi dari pendidikan memuat kerangka konseptual yang berisi preskripsi untuk mewujudkan kualitas pendidikan            ( Ellington, 1984).

Alasan penggunaan teknologi berdasarkan data empiris adalah: 1) mempengaruhi unjuk kerja akademis peserta didik; 2) menbangun keterampilan berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah; 3) meningkatkan motivasi, minat dan sikap peserta didik terhadap belajar; 4) membantu peserta didik untuk menyiapkan dirinya di tempat kerja; dan 5) dibutuhkan bagi peserta didik dengan kemampuan adopsi belajar yang rendah serta gangguan-gangguan lainnya (Roblyer, M. D., & Doering, A.H. 2009). Lebih lanjut Roblyer memaparkan bahwa rasionalitas pemanfaatant teknologi digaris bawahi untuk meningkatkan motivasi, memperkaya metode pembelajaran, meningkatkan produktifitas dan melatih keterampilan peserta didik untuk memanfaatkan informasi era digital.

3.3     Dengan cara Bagaimana Teknologi Bekerja dengan Baik?

Menurut Roblyer dan Doering (2009) teknologi menjunjukkan manfaat terbaiknya jika, 1) menyokong secara langsung kurikulum; 2) memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkolaborasi; 3) menyesuaikan pengalaman dan kemampuan awal peserta didik, memberikan umpan balik dari dan oleh peserta didik ke pendidik tentang kemajuan belajar peserta didik; 4) dipraktekan di kelas setiap hari; 5) memberikan ruang bagi prakarsa anak didik untuk memperluas pengalaman belajarnya dan 6) teknologi mendapat dukungan dari anak didik, guru, pengambil kebijakan, komunitas dan pengelola pendidikan itu sendiri.

3.4     Model Integrasi

            Integrasi teknologi di dunia pendidikan tidaklah menyasar pada satu obyek yang tunggal, melainkan integrasi harus melibatkan pendidik, peserta didik, pengelola sekolah dan staf pengelola pendidikan. Pendidik dengan peran stategis harus lebih awal membudayakan teknologi dalam proses profesinya. Integrasi teknologi bagi pendidik (guru) seperti direkomendasikan oleh Badan Standar Nasional Teknologi untuk Pendidikan (ISTE, 2007) bahwa guru harus memiliki kompetensi, dalam hal: 1) guru harus mampu memfasilitasi dan menginspirasi kreatifitas peserta didik; 2) guru harus mampu merancang dan mengembangkan pengalaman belajar era digital lengkap dengan metode asesmennya; 3) guru harus mampu menjadi pioner model belajar era digital; 4) guru harus mampu mempromosikan teknik teknik integrasi teknologi yang terbaik dan 5) guru harus senantiasa mengembangkan sikap profesionalisme dan kepemimpinan.

Terkait dengan paparan diatas maka, model integrasi teknologi dalam pembelajaran harus secara kuat menyertakan landasan teori belajar dan bagaimana anak didik belajar. Agr Integrasi teknologi sukses maka beberapa hal yang esensi adalah: 1) integrasi dilandasi oleh teori belajar; 2) mengindentifikasi kelemahan dan kekuatan teknologi; 3) integrasi mengacu pada model yang handal dan 4) integrasi harus berada pada kondisi yang ideal.

4. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Berdasarkan analisis situasi dari dua sekolah seperti yang telah dipaparkan diatas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut.

  • Sekolah belum memahami bagaimana mengintegrasikan TIK kedalam kurikulum
  • Sekolah belum memiliki panduan integrasi TIK dalam Pembelajaran
  • Sekolah belum memiliki standar layanan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran
  • Guru belum memiliki pengetahuan akan model integrasi TIK dalam Pembelajaran
  • Guru belum memahami bagaimana merumuskan rencana pembelajaran,
  • Guru belum memahami bagaimana menyusun standar layanan yang mengintegrasikan TIK
  • Guru belum memahami bagaimana membuat Garis Besar Isi Media;
  • Guru belum memahami cara membuat protipe media atau bahan ajar

5. Tujuan Kegiatan

Terkait dengan masalah yang digambarkan diatas, maka tujuan sekaligus sebagai target luaran dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut.

  • Kepala sekolah, guru dan staf laboran sekolah memahami konsepsi integrasi TIK
  • Sekolah memiliki dokumen panduan integrasi TIK
  • Sekolah memilki dokumen standar layanan integrasi TIK
  • Pendidik mengetahui model-model dalam Integrasi TIK
  • Pendidik mampu merancang rencana pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, Garis Besar Isi Media (GBIM) dan rancangan prototipe media atau bahan ajar.

 

  1. 6. Manfaat kegiatan

Program kegiatan yang dilaksanakan ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut.

5.1 Bagi Guru dan sekolah

  1. Mendapat kesempatan belajar cara mengajar yang mengintegrasikan TIK;
  2. Memperoleh gambaran cara terbaik mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran;
  3. Menyokong kurikulum sekolah dan
  4. Meningkatkan akreditas, akuntabilitas dan daya saing sekolah

 

5.2 Bagi Institusi Pelaksana P2M

  1. Dapat belajar dengan kemungkinan temuan baru dalam proses sharing selama pelatihan;
  2. Memperoleh rekaman data untuk kajian lebih lanjut; dan
  3. Menyempurnakan program pelatihan di masa mendatang.

 

5.4 Bagi Anak

  1. memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkolaborasi dengan piranti teknologi piranti;
  2. menyesuaikan pengalaman dan kemampuan awal peserta didik;
  3. memberikan ruang bagi prakarsa anak didik untuk memperluas pengalaman belajarnya;
  4. menbangun keterampilan berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah;
  5. meningkatkan motivasi, minat dan sikap peserta didik terhadap belajar dan
  6. membantu peserta didik untuk menyiapkan dirinya di tempat kerja

7. Khalayak Sasaran Strategis

Sasaran kegiatan ini adalah dua orang kepala sekolah atau wakil kepala sekolah, 15 orang guru dan 5 orang staf laboran dari sekolah SMP Negeri 2 Singaraja dan SMP Negeri 1 Sukasada

8. Metoda Pelaksanaan

Kerangka Pemecahan Masalah

Tujuan yang diangkat dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah menyiapkan pengelola sekolah, guru dan staf bagaimana mengintegrasikan TIK di lingkungan masing-masing. Oleh karena itu, kerangka pemecahan masalah sebagai berikut.

  • Menetapkan jumlah peserta pelatihan.
  • Memberikan materi pelatihan integrasi TIK dalam pembelajaran
  • Memberi kesempatan kepada guru untuk berlatih merancang dan menerapkan langkah-langkah integrasi TIK

 

  1. Metoda Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan Pengabdian Masyarakat (P2M) yang dilakukan menggunakan metode berbentuk pelatihan melalui ceramah dan demonstrasi (praktek) di kelas melalui tahapan seperti berikut.

  • Pada awal kegiatan, para peserta akan diberikan teori-teori pendukung yang berkaitan dengan aspek-aspek yang akan dilatihkan.
  • Peserta berlatih atau melakukan praktek secara mandiri atau berkelompok untuk berlatih membuat dokumen standar layanan, rencana pembelajaran, garis besar isi media (GBIM) dan mengembangkan protipe media atau bahan ajar
  • Peserta pelatihan membuat laporan repleksi dalam menerapkan model integrasi TIK

 

Untuk melaksanakan kegiatan tersebut digunakan beberapa metode pelatihan, yaitu:

  1.    Metode Ceramah

Metode ceramah dipilih untuk memberikan penjelasan tentang konsepsi Integrasi

  1.    Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab sangat penting bagi para peserta pelatihan, baik di saat menerima penjelasan tentang integrasi TIK

  1.  Metode Praktek

Metode praktek selama pelatihan sangat penting untuk menggali pemikiran-pemikiran yang konstruktif sebagai pembanding dari model yang dilatihkan.

9. Rancangan Evaluasi

Untuk melihat keberhasilan pelaksanaan kegiatan perlu diadakan evaluasi. Evaluasi yang dilaksanakan dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut.

  1. Evaluasi program, dilakukan sebelum dan setelah kegiatan dilaksanakan. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui apakah program kegiatan sudah sesuai dengan tujuan yang akan dilaksanakan.
  2. Evaluasi proses, dilakukan pada saat kegiatan dilaksanakan. Aspek yang dievaluasi adalah kehadiran dan aktivitas peserta dalam mengikuti pelatihan. Keberhasilan dapat dilihat dari kehadiran peserta yang mencapai lebih dari 85% dan aktivitasnya selama kegiatan tinggi.
  3. Evaluasi hasil, dilaksanakan pada akhir kegiatan. Aspek yang dievaluasi adalah produk dokumen GBIM dan Prototipe media atau bahan ajar.

Secara spesifik aspek, teknik, instrumen serta kriteria evaluasi yang dilakukan dapat disajikan dalam tabel berikut.

 

Tabel 2.   Rancangan Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan

No Aspek Evaluasi Teknik Instrumen Kriteria
1 Program Kuisioner Angket Kesesuaian dengan tujuan
2 Proses pelaksanaan Observasi
  1. Daftar hadir peserta
  2.      Lembar observasi
  3. Kehadiran lebih dari 85%
  4. Aktivitas     peserta dalam kegiatan tinggi
3 Hasil Pelaksanaan

(Dokumen GBIM dan prototipe Media

Penugasan Rubrik penilaian Peserta mampu menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik.

 

Menggali kreativitas siswa Kodya Denpasar melalui karya video edukasi

Aksi peserta tingkat smp

Aksi peserta tingkat smp

Lomba video edukasi adalah lomba sejenis Student Media Festival (SMF) yang telah banyak diselenggarakan oleh negara-negara yang telah mengintegrasikan dan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam sistem pendidikan di sekolah-sekolah.

Khususnya di negara kita, Indonesia lomba video edukasi telah digagas dan dilaksanakan sejak tahuna 2007 melalui Balai Pengembangan Media Televisi (BPMTV) sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis dari Pustekom (Pusat teknologi pendidikan dan Komunikasi). Kalau di Negara barat (Amerika) kegiatan ini dibawah naungan Asosiasi Teknologi Pendidikan dan Komunikasi atau Assossiation Educational Technology and Communication (AECT).

Video Edukasi adalah media audio visual yang kini bukanlah media yang bersifat elitis (hanya dimiliki dan menjadi hak kaum elit). Perkembangan teknologi terutama komputer dan kamera kini telah melahirkan produk-produk audio-visual yang relatif terjangkau. Kamera dalam berbagai variasi kini hadir di pasaran dan bahkan beberapa sekolah telah memilki kamera yang semi profesional. Mulai dari kamera profesional hingga handycam

Aksi Peserta Tingkat SMP

Aksi Peserta Tingkat SMP

dengan harga dibawah 5 jutaan. Hal ini berarti produk audio-visual tidak harus lahir dari rumah produksi dengan biaya tinggi tapi bisa diproduksi oleh siapa saja baik dengan peralatan sendiri maupun pinjaman.

Kondisi ini membuka peluang konsep-konsep video pendidikan lahir dan diproduksi dari kalangan masyarakat luas. Kalangan pelajar, mahasiswa, kineclub maupun pihak-pihak yang mempunyai perhatian serius dalam video pendidikan diharapkan memberikan peran serta yang aktif dalam kancah produksi video pendidikan.

Ikutan Belajar “Gaya Jepang”

Pengalaman ber-lesson study di jurusan Teknologi Pendidikan -FIP Undiksha.

INOVASI PEMBELAJARAN DAN PEMBINAAN PROFESI PENDIDIK MELALUI LESSON STUDY

(Uji coba pada mata kuliah Pengelolaan Citra)

Oleh

Gde Putu Arya Oka

Jurusan Teknologi Pendidikan

Disampaikan pada Diseminasi Lesson Study FIP Undiksha tanggal 17-18 Desember 2012

ABSTRAK

 

Artikel ini bertujuan melaporkan pengalamaan pelaksanaan lesson study yang telah dilaksanakan di jurusan Teknologi Pendidkan, Fakultas Ilmu Pendidikan, universitas Pendidikan Ganesha.  Lesson study diuji coba pada mata kuliah pengelolaan citra. Lesson study dilaksanakan selama 4 kali pertemuan dengan tahapan plan, do dan see. Data proses pembelajaran dikumpulkan dengan lembar observasi. Dari uji coba lesson study memberikan gambaran sebagai berikut: 91 % siswa telah aktif dalam proses belajar, hanya 22% mahasiswa kurang serius mengikuti pembelajaran, 90 % mahasiswa telah memperlihatkan keaktifannya, 85% mahasiswa memperlihatkan keantusiasan dan keceriaan selama proses pembelajaran sebesar 75 %. Sehingga, amanat proses pembelajaran sesuai standar proses yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi telah bisa diwujudkan dalam tingkat yang baik.

ABSTRACT

This article aims to report implementation of lesson study that has been conducted in the Department of Technology of Education, Faculty of Education, Ganesha University of Education. Lesson study tested for Pengelolaan Citra course. Lesson study conducted over four-cycles with the stage of plan, do and see. Data collected by the learning process observation sheet. From the trial lesson study gives an overview of the following: 91% of students have been active in the learning process, only 22% of students attend less serious learning, 90% of students have demonstrated its activity, 85% of students showed sight of people enthusiastic and fun during the learning process by 75%. Thus, the mandate of the learning process according to the standard process is interactive, inspiring, fun, challenging and motivating could have realized in a good rate.

Kata kunci : lesson study, profesi pendidik, teknologi pendidika

A.  Pendahuluan

IMG_8731Duffy & Cunningham (1996: 171 dalam Richey & Klein (2007: 5) mengingatkan bahwa, And today, there is a great deal of interest in the view that “(1) learning is an active process of contructing rather than acquiring knowledge and (2) instruction is process of supporting that construction rather than communication of Knowledge”. Belajar sejatinya adalah proses yang aktif untuk membangun pengetahuan ketimbang mentrasfernya, dan pembelajaran itu sendiri adalah suatu proses dan upaya untuk mendukung pembangunan pengetahuan itu, agaknya telah menjadi kesepatan dan pandangan hari ini dan mungkin dimasa mendatang. Upaya yang paling baik untuk mewujudkan pembelajaran itu adalah berakar dari teori pembelajaran (Reigeluth, 1983; Richey, 1986 dalam Richey & Klein (2007: 5). Penelitian-penelitian tentang teori belajar, pembelajaran dan psikologi telah berkontribusi  untuk meletakkan dasar praktek pada: (1) bagaimana proses peserta didik belajar, (2) belajar bagaimana mengkontektualkans dan (3) strategi untuk belajar itu sendiri (Richey & Klein (2007: 4)

Terkait dengan usaha untuk memberi kesempatan yang lebih banyak kepada peserta didik dalam membangun pengetahuan, melalui pengalaman belajar seiring dengan pendekatan student centred,  maka usaha inovatif sangat perlu digali dan segera di implementasikan. Usaha inovatif yang berpeluang untuk mewujudkan proses belajar yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan motivasi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Oleh karenanya, peningkatan profesionalisme dosen harus juga menerapkan strategi-strategi yang baru.

Salah satu strategi peningkatan profesionalisme dosen melalui suatu mekanisme in-service training yang lebih berfokus pada upaya pemberdayaan dosen sesuai dengan kapasitas serta permasalahan yang dihadapinya adalah salah satunya dengan mencoba implementasi lesson study (Sadia, 2008). Lesson study seperti dipaparkan oleh Watanabe (2005: 233) adalah lesson study is a root to innovation, sehingga tidak berlebihan jika lesson study di uji coba di lingkungan jurusan Teknologi Pendidikan.

Lesson Study yang dalam bahasa Jepang disebut Jugyokenkyu adalah bentuk kegiatan yang dilakukan oleh seorang dosen/sekelompok dosen yang bekerja sama dengan orang lain (dosen, dosen mata pelajaran yang sama/ dosen satu tingkat kelas yang sama, atau dosen lainya), merancang kegiatan untuk meningkatkan mutu belajar siswa dari pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru dari perencanaan pembelajaran yang dirancang bersama/sendiri, kemudian di observasi oleh teman guru yang lain dan setelah itu mereka melakukan refleksi bersama atas hasil pengamatan yang baru saja dilakukan.

Lesson study seperti dipaparkan oleh Catherine Lewis and Rebecca Perry, Lesson study is the core form of professional development in Japan, and is often credited for the steady improvement of Japanese elementary instruction (Hashimoto, Tsubota, & Ikeda, 2003; Lewis & Tsuchida, 1997; Stigler & Hiebert, 1999 dalam Lewis, 2003)). Lebih lanjut Lewis menyatakan bahwa Lesson Study merupakan siklus kegiatan kelompok guru yang bekerja bersama dalam menentukan tujuan pembelajaran, melakukan research lesson dan secara berkolaborasi mengamati, mendiskusikan dan memperbaiki pembelajaran tersebut. Oleh sebabnya, Lesson study sebagai suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Sadia, 2008).

Salah satu mata kuliah yang telah dicoba dengan lesson study di tahun 2012 adalah mata kuliah Pengelolaan Citra dengan kompetensi dasar yang di lesson-kan adalah pada KD 8. KD 8 pada mata kuliah ini adalah merancang pesan visual pembelajaran dengan aplikasi grafis berbasis vektor.

B.           Metode

Telah dipaparkan diatas, salah satu mata kuliah yang telah dicoba dengan lesson study di tahun 2012 adalah mata kuliah Pengelolaan Citra dengan kompetensi dasar yang di lesson-kan adalah pada KD 8. KD 8 pada mata kuliah ini adalah merancang pesan visual pembelajaran dengan aplikasi grafis berbasis vektor. Penjabaran tujuan pembelajaran, strategi menampilkan materi, strategi menampilkan latihan menggunakan taksonomi Perfomance-Content matric (P-C Matric) dari  M.David Merrill (1983). Matrik PC ini menghubungkan tingkatan kemampuan dengan jenis isi materi yang dipelajari. Lebih jelas seperti tersaji pada Gambar 1.

Gambar 1. Taksonomi P-C Matrik M.David Merrill.

Sejak mengampu mata kuliah ini dari tahun 2007, taksonomi dalam menentukan tujuan selalu menggunakan taksonomi Bloom versi sebelum revisi. Kendala yang ditemukan selama ini adalah taksonomi Bloom memang belum memberikan prekripsi yang detail tentang bagaimana strategi mencapai tujuan. Atas dasar belum ditemukan preskripsi itu,  tahun 2012 teknik perumusan tujuan pembelajaran mempergunakan taksonomi M.David Merrill yang menurut hemat penulis, taksonomi tersebut telah memiliki preskripsi yang lengkap dan detail. Pada tahun inilah penulis keluar dari kebiasaan dan mencoba inovasi dalam perumusan tujuan. Karena adanya inovasi inilah pembelajaran mata kuliah pengelolaa citra dilaksanakan dengan mengadopsi lesson study. Inovasi ini hampir mirip dengan kisah lesson study dijepang.

Di Jepang, sejak kurang lebih 20 tahun lalu, telah dikembangkan suatu cara sistematis yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kebiasaan tersebut tergambar sebagai berikut. Seorang guru yang mempunyai inovasi pembelajaran, seperti strategi, metode, media, atau sumber belajar yang baru, akan ”membuka” kelasnya bagi sejawat guru untuk berbagi ide atau inovasi tersebut. Selanjutnya beberapa guru tersebut merancang pembelajaran untuk mengimplementasikan ide inovasi tersebut. Tahap berikutnya, salah satu guru disepakati untuk mengimplementasikan rancangan pembelajaran tersebut, sementara guru-guru yang lain mengamati atau mengobservasi proses pembelajaran tersebut. Segera setelah proses pembelajaran berakhir, mereka berdiskusi terkait praktik pembelajaran yang telah dilakukan. Diskusi dimaksudkan untuk menemukan sisi lebih dan kurang dari proses pembelajaran sebagai dasar untuk mengembangkan pembelajaran berikutnya (Mahmudi, 2009)

Berangkat dari sisi inovatif tersebut, maka adaftasi lesson study untuk pembelajaran mata kuliah pengeolaan citra di uji-cobakan. Uji coba lesson study ini mempergunakan pakem-pakem lesson study yang pernah dilaksanakan. Serangkaian langkah-langkah tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap atau kegiatan, yaitu (1) perencanaan (PLAN), yang meliputi aktivitas mengidentifikasi masalah pembelajaran, ide inovasi pembelajaran, dan merancang pembelajaran, (2) pelaksanaan (DO), yakni mengimplementasikan rancangan pembelajaran, dan (3) evaluasi atau refleksi (SEE), yakni mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran. Selanjutnya, berdasarkan hasil evaluasi atau refleksi, dirancang pembelajaran perbaikan. Dengan demikian, tahapan-tahapan tersebut membentuk suatu siklus yang berulang yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2. Skema kegiatan lesson study

Tahapan proses lesson study juga diberikan oleh Stigler dan Hiebert (dalam Baba,2007 dalam Mahmudi, 2009). Mereka mengemukakan tiga tahapan utama dari proses lesson study, yakni persiapan (preparation/plan), pembelajaran (study lesson), dan evaluasi (review session). Tahapan persiapan terdiri atas 3 kegiatan yaitu identifikasi masalah (problem identification), perencanaan kelas (class planning), dan mempersiapkan kembali kelas (consideration of class). Tahap pembelajaran (study lesson) terdiri atas implementasi kelas atau kegiatan pembelajaran (class implementation) dan pelaksanaan pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi (implementation of class based on reconsideration). Sedangkan tahap peninjauan (review session) terdiri atas kegiatan evaluasi kelas dan peninjauan hasil (class evaluation and review of results). Tahapan tersebut merupakan siklus yang secara skematis digambarkan, seperti tersaji pada Gambar 3.

Gambar 3. Proses lesson Study menurut Stigler dan Hiebert (dalam Mahmudi, 2009)

 

Secara umum terdapat tiga langkah kegiatan lesson study, yaitu (1) tahap

perencanaan (Plan), (2) tahap pelaksanaan (Do), dan (3) tahap refleksi (See). Berikut diuraikan masing-masing langkah-langkah tersebut.

1)             Memulai Lesson Study

kr

Langkah pertama untuk memulai lesson study adalah pembentukan kelompok atau tim lesson study. Kelompok dibentuk pada tingkat Fakultas Ilmu Pendidikan. Selanjutnya setiap jurusan di lingkungan FIP juga membentuk team teaching untuk melaksanakan lesson study. Team teaching yang dibentuk di jurusan Teknologi Pendidikan sebanyak dua tim, dimana masing tim terdiri dari 3 orang dosen, dimana seorang dosen melalui sebuah diskusi akan menjadi dosen model

Setelah kelompok terbentuk, selanjutnya dipersiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan. Perangkat pembelajaran dimaksud di antaranya adalah silabus, rencana pembelajaran, lembar kegiatan mahasiswa (LKM) dan handout materi.  Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengambil data untuk kepentingan penelitian atau sebagai dasar untuk melakukan refleksi disiapkan tim induk di tingkat Fakultas. Peralatan lain yang telah disiapkan alat untuk mendokumentasikan kegiatan lesson study.

Setelah semua perangkat pembelajaran, instrumen penelitian, dan perangkat pendukung lainnya disiapkan, selanjutnya memilih salah satu dosen yang akan dijadikan dosen model, yang akan mengimplementasikan rencana pembelajaran yang telah disusun. Dosen model pertama adalah Kadek Suartama dan dosen model kedua adalah Gde Putu Arya Oka.

2)             Tahap Pelaksanaan (Do)

tahap doBerdasarkan rencana pembelajaran yang telah disusun, dosen model melaksanakan pembelajaran di kelas yang telah ditentukan, sementara anggota lain bertindak sebagai observer, yang mengamati proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen penelitian yang telah dikembangkan. Dengan demikian, bersamaan dengan dilaksanakannya proses pembelajaran, dilakukan pengambilan data yang diperlukan unutk kepentingan refleksi. Hal–hal yang perlu mendapat fokus perhatian ketika mengobservasi, menurut Widjajanti (2006 dalam Mahmudi, 2009), di antaranya adalah ketepatan prediksi waktu, pengelolaan kelas, keterlaksanaan silabus, aktivitas mahasiswa, dan ketercapaian tujuan untuk setiap tahap kegiatan pembelajaran. Dalam tahap pelaksanaan lesson study di jurusan TP pengamat telah dibekali dengan beberapa panduan untuk sebelum pengamatan dilaksanakan dan pada waktu pengamatan dan setelah pengamatan.

3)             Kegiatan Refleksi (See)

tahap seeSegera setelah proses pembelajaran berakhir, dilakukan postclass discussion atau kegiatan refleksi. Refleksi diikuti oleh semua anggota kelompok, kegiatan ini dipimpin oleh seorang moderator yang dalam memandu diskusi disertai dengan rambu-rambu. Rambu-rambu ini adalah rambu tetang moderator dan rambu tentang menyampaikan pendapat. Kegiatan refleksi ini dimaksudkan untuk mengkaji hasil pengamatan setiap anggota kelompok dan hasil rekaman proses pembelajaran. Menurut Widjajanti (2006), dengan pemahaman bahwa lesson study adalah forum untuk saling belajar dalam upaya mengembangkan kompetensi masingmasing anggota tim, maka semangat dalam tahap refleksi ini adalah secara bersamasama menemukan solusi untuk masalah yang muncul agar pembelajaran berikutnya dapat dipersiapkan dan dilaksanakan dengan lebih baik. Dengan demikian, perlu dipahami bahwa kegiatan refleksi bukan dimaksudkan untuk menilai kemampuan mengajar dosen model

C.   Hasil dan Pembahasan

1)             Tahap Perencanaan (Plan)

Mata kuliah yang direncanakan dalam lesson study di jurusan TP adalah mata kuliah Pengelolaan Citra, terutama pada kompetensi dasar (KD 8) yakni merancang pesan visual pembelajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran sebelumnya telah di godok oleh team teaching dengan beberapa perbaikan dari draf RPP awal. Pelaksanaan KD 9 direncanakan dalam lesson study selama empat kali pertemuan. Dengan demikian RPP yang didiskusikan sejumlah 4 buah RPP..

Hasil monitoring dari beberapa pengamat selama tahap plan sebelum pelaksanaan lesson studi seperti terangkum pada Tabel 1.

Tabel 1. Matrik tahap Perencanaan (Plan)

TAHAP PLAN

Kegiatan

Jml

Pertemuan I

Pertemuan II

Pertemuan III

Pertemuan IV Open Lesson

1.Tujuan

2

Hasil isian data lembar monitoring pada tahap Plan dari observer memberikan cek ‘ya” (18) dan  “tidak’ (2). Jadi prosentasenya adalah 18/20x 100=90

Jadi, 90 % dari seluruh kegiatan pada tahap plan sudah dilaksananakan dengan baik. Sisanya 10 % masih memerlukan diskusi yang lebih intensif.

Sedangkan pencapaian 90% belum bisa dikriteriakan.

     
2. RPP

5

       
3.Strategi

2

       
4. Media

1

       
5. Materi

1

       
6. Waktu

1

       
7. Jenis Eval

1

       
8.Instrumens

2

       
9.Lain-lain

5

       
Jumlah

20

       
           

Diskusi pada tahap plan lebih intens menyoroti kearifan loka jika dintegrasikan dalam RPP dan proses pembelajaran. Perlu ada batasan yang memberikan pemahaman konprehensif tentang kearifan lokal dan atribut-atributnya. Sedangkan pada entrepreneurship team teaching berpendapat bahwa jiwa entrepreneurship serta integrasinya dalam RPP dan proses pembelajaran bukan saja diwujudkan dalam batasan produk. Tetapi, yang lebih penting pada tahap awal adalah pembentukan mindset intrepreneur itu sendiri melalui dogma-dogma yang sulit diukur.

2)             Tahap Pelaksanaan (Do)

Open lesson dari KD ini dilaksanakan pada tanggal 5 Juli 2012. Sebelum open lesson dilaksanakan, sebelumnya  lesson study dari KD.8 telak berlangsung  3 kali pertemuan dengan melibatkan pengamat dari  lingkungan/kolega FIP Undiksha. Pelaksanaan lesson study KD 8 mata kuliah pengelolaan Citra dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, periksa Tabel 1.

Tabel 2. Pelaksanaan Lesson Study

Pertemuan

Topik Indikator

Lesson study

Tanggal

I 8.1 Internal Lesson 6 Juni 2012
II 8.1 & 8.2 Internal Lesson 13 Juni 2012
III 8.3 Internal Lesson 18 Juni 2012
IV 8.4 Open Lesson 5 Juli 2012

Hasil isian lembar obervasi tahap do oleh observer pada pelaksanaan lesson study dapat diperiksa seperti tersaji pada Tabel 3.

Tabel 3. Matrik tahap pelaksanaan

TAHAP DO

Kegiatan berkaitan

Jml

Pertemuan I

Pertemuan II

Pertemuan III

Pertemuan IV Open Lesson

1.Perangkat pembelajaran

2

Hasil isian data lembar monitoring pada tahap Plan dari observer memberikan cek ‘ya” (18) dan  “tidak’ (2). Jadi prosentasenya adalah 18/20×100=90.

Jadi, 90 % dari seluruh kegiatan pada tahap plan sudah dilaksananakan dengan baik. Sisanya 10 % masih memerlukan diskusi yang lebih intensif.

Sedangkan pencapaian 90% belum bisa dikriteriakan.

     
2. Dosen model

5

       
3.Mahasiswa

2

       
4. Waktu

1

       
5. Observer

1

       
6. Miskonsepsi

1

   

Hasil isian data lembar monitoring pada tahap Plan dari observer memberikan cek ‘ya” (18) dan  “tidak’ (2). Jadi prosentasenya adalah 18/20x 100=90

Jadi, 90 % dari seluruh kegiatan pada tahap plan sudah dilaksananakan dengan baik. Sisanya 10 % masih memerlukan diskusi yang lebih intensif.

Sedangkan pencapaian 90% belum bisa dikreteriakan.

 
Jumlah

21

       

PROSES PEMBELAJARAN TAHAP DO

Penguasaan materi   3 dari 27 mahasiswa atau 11%, mahasiswa di amati belum terlibat serius dengan topik yang diajarkan
Kegagalan mengikuti pembelajaran   6 dari 27 mahasiswa atau 22%, Kegagalan mengikuti pembelajaran karena mahasiswa mengerjakan aktifitas diluar kontek atau topik.

Setting tempat duduk kurang memberi peluang untuk observasi.Catatan untuk dosen model Kelebihan:

Dosen telah diamati menguasai materi, menggunakan contoh yang dimengerti, humor, mampu memotivasi, menggunakan media yang bagus.

Kekurangan:

Komunikasi perlu ditingkatkan

MOTIVASI MAHASISWA

Keaktifan20Skor 18 atau 90 persen mahasiswa telah belajar aktifKeantusiasan20Skor 17 atau 85 persen mahasiswa antusias mengikuti pembelajarankeceriaan8Skor 6 atau 75 persen mahasiswa dengan ceria mengikuti pembelajaran

3)             Tahap Refleksi (see)

Setelah tahap Do selesai dilaksanakan, maka di lanjutkan dengan tahap refleksi. Pada tahap ini  menurut Ibrohim (2010) anggota kelompok diharapkan berpikir tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Apakah berkeinginan untuk membuat peningkatan agar pembelajaran ini menjadi lebih baik?, apakah akan mengujicobakan di kelas masing-masing?, dan anggota kelompok sudah puas dengan tujuan-tujuan lesson study dan cara kerja kelompok?

Hasil tahap repleksi pelaksanaan lesson study di jurusan Teknologi Pendidikan, seperti tersaji pada Tabel 4.

Tabel 4. Matrik tahap refleksi

TAHAP SEE

Kegiatan

Jml

Pertemuan I

Pertemuan II

Pertemuan III

Pertemuan IV Open Lesson

1.Moderator

4

Dari data lembar isian terlihat sebanyak 15/16 = 93, atau 93 persen tingkat kegiatan refleksi telah dilaksanakan.

     
2. Observer

9

       
3. Lain

3

       
           
Jumlah

16

       

Disamping interpretasi dari isian lembar monitoring, dalam kegiatan repleksi banyak terungkap ha-hal baru yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Pertemuan dengan teman sejawat yang “khusus” atau meluangkan waktu untuk diskusi sangat baik untuk menerima dan melengkapi pengalaman mengajar masing-masing.

4)             Kendala

Setelah melaksanakan lesson study untuk mata kuliah pengelolaan citra, dapat dicatat beberapa kendala yang ditemui dalam pelaksanaan lesson study sebagai berikut:

(1)   Pada tahap perencanaan, sulit menambah intensitas pertemuan membahas RPP, karena jadwal kolega atau teman sejawat biasanya tidak pasti, dan sering berubah-berubah karena ada hal-hal yang mendadak, sehingga mengubah kembali jadwal semula.

(2)   Pada tahap pelaksanaan, memerlukan dukungan dana untuk memperbanyak perangkat pembelajaran yang digunakan. Setting tempat duduk sulit dirubah sehingga menyebabkan sulit untuk obervasi serta kondisi mahasiswa pada saat pelaksanaan sulit diduga

D.  Kesimpulan dan saran

Dari pelaksanaan lesson study mata kuliah pengelolaan citra mulai tahap plan, do dan see,  maka dapat disarikan sebagai berikut:

(1)   Seperti dipaparkan Ibrohim (2010), lesson study bukanlah metode ataupun pendekatan pembelajaran tetapi, model pembinaan khususnya bagi profesi pendidik. Sebagai model karena cirinya adalah adanya langkah-langkah yang sistematis. Namun demikian, berpeluang untuk dimodifikasi. Sehingga yang penting adalah usaha untuk kesinambungan penerapannya untuk memperbaiki siklus-siklus sebelumnya.

(2)   Uji coba pada mata kuliah pengelolaan citra yang mana desain pembelajaran atau skenario pembelajaran berbasis CDT, selama pelaksanaan proses pembelajaran tampak bahwa 91 % siswa telah aktif dalam proses belajar, 22% mahasiswa kurang serius mengikuti pembelajaran, 90% mahasiswa telah menunjukkan keaktifannya, 85% menunjukkan keantusiasan dan 75% keceriaan yang tampak. Sehingga, amanat proses pembelajaran sesuai standar proses yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi telah bisa diwujudkan dalam tingkat yang baik.

(3)   Karena menunjukkan dampak yang baik terhadap proses pembelajaran dan pendidik dari efek in service training, maka kegiatan lesson study perlu diperluas pada mata kuliah yang lain untuk melihat perbandingan dan tingkat keberhasilannya.

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen Ditanaga Depdiknas. 2009. Panduan Penyusunan Proposal: Program Perluasan Dan Penguatan Lesson Study Di LPTK (Lesson Study Dissemination Program For Strengthening Teacher Education In Indonesia – LEDIPSTI).

Ibrohim. 2010. Paduan pelaksanaan lesson study di KKG. Universitas Negeri Malang.

Lewis, C., Perry, R., Hurd, J. 2004. Lesson study is not just about improving a singgle lesson. Its about building pathways for ongoing improvement of instruction. Journal of Educational Leadership, Ferbruari 2004 edition, Association for supervision and curriculum development.

Lewis, C. 2002.  Lesson Study: A Handbook for Teacher-Led Improvement of Instruction. Education Department, Mills College, Oakland CA Url: http://www.lessonresearch.net

Sadia, W. 2008. Lesson Study: Suatu Strategi Peningkatan Profesionalisme Guru. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXXI  Mei 2008.

Richardson, J. 2004. Lesson Study: Teacher Learn How To Improve Instruction. National Staff Development Council. Tersedia pada url:  http://nsdc.org

Richey, R., C. & Klein, J. D. 2007. Design Development and Reseacrh: Methods, Strategies, and Issues. London: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.,Publishers.

Watanabe, T. 2002. Improving Mathematics Teaching and Learning Through Lesson Study, May 20-21, 2005, in Learning cross Boundaries: U.S.-Japan Collaboration in Mathematics,Science and Technology Education. Chicago. The National Science Foundation.