Eciken studio

Eciken studio adalah jasa desain dan visualisasi 3D arsitektur, interior dan eksterior dengan basecamp di kota pendidikan, Singaraja. Beberapa hunian baik untuk perumahan dan hunian pribadi telah kami rancang sesuai dengan analisis kebutuhan pemilik hunian. Konsep desain kami adalah hunian minimalis tropis dengan mempertimbangkan unsur fengshui pemilik hunian.

Light2 copyGantiEdit2

Rendering

Pada postingan sebelumnya, kami mencoba menampilkan hasil gambar 3D dengan SketchUP tanpa proses rendering. Mohon maaf karena baru sebatas menampilkan hasil akhir, belum sempat membuat tutorialnya.

Untuk postingan kali ini, kami menayangkan gambar yang didesain dengan SketchUp dan dirender dengan salah satu renderer shaderlight. Shaderlight adalah salah satu mesin rendering yang kami coba karena free. Kendati free hasil rendering dengan settingan standa lebih bagus ketimbang tidak ada engine rendering.

Untuk hasil yang bagus, disamping latihan dan pengalaman juga sangat dibutuhkan mesin render seperti vray. Vray adalah mesin render yang banyak digunakan oleh kalangan komputer graphis profesional.

Rendering seperti kami kutip dari media wiki bahwa rendering adalah proses menghasilkan gambar dari suatu model (atau model dalam apa yang secara kolektif bisa disebut scene file), melalui program komputer Sebuah file berisi urutan objek dalam struktur bahasa atau data didefinisikan secara ketat;. Ini akan berisi geometri, sudut pandang, tekstur, pencahayaan, dan naungan informasi sebagai deskripsi dari adegan virtual. Data yang terdapat dalam file adegan kemudian dilewatkan ke program render untuk diproses dan output gambar digital atau raster file grafis gambar. The render “istilah “mungkin dengan analogi dengan” render artis “dari sebuah pemandangan. Meskipun rincian teknis dari metode rendering bervariasi, tantangan umum untuk mengatasi dalam menghasilkan gambar 2D dari representasi 3D disimpan dalam file adegan diuraikan sebagai pipa grafis bersama perangkat rendering, seperti GPU. Sebuah GPU adalah perangkat yang dibangun dapat membantu CPU dalam melakukan perhitungan render kompleks. Jika adegan adalah dengan melihat relatif realistis dan dapat diprediksi di bawah pencahayaan virtual, render harus memecahkan persamaan render Persamaan render tidak menjelaskan semua fenomena pencahayaan, tetapi merupakan model penerangan umum untuk komputer-generated imagery ‘Rendering’ juga digunakan untuk menggambarkan proses menghitung efek dalam file video editing untuk menghasilkan video output akhir…

Rendering adalah salah satu sub-topik utama komputer grafis 3D, dan dalam praktek selalu terhubung dengan orang lain. Dalam bidang grafis, itu adalah langkah besar terakhir, memberikan penampilan akhir untuk model dan animasi.. Dengan meningkatnya kecanggihan komputer grafis sejak tahun 1970, telah menjadi subjek lebih jelas.

Rendering telah digunakan dalam arsitektur, video game, simulator, efek film atau TV visual, dan visualisasi desain, masing-masing menggunakan keseimbangan fitur  dan teknik yang berbeda. Sebagai suatu produk, berbagai renderers tersedia Beberapa diintegrasikan ke dalam model yang lebih besar dan. . paket animasi.

Dalam hal grafis 3D, rendering bisa dilakukan perlahan-lahan, seperti pada pra-rendering, atau secara real time. Pra-rendering adalah proses komputasi secara intensif yang biasanya digunakan untuk pembuatan film, sedangkan real-time rendering sering dilakukan untuk 3D video game yang mengandalkan penggunaan kartu grafis dengan akselerator 3D hardware.

Berikut adalah hasil renderingan dengan shaderlight.

 contoh hasil rendering contoh hasil rendering dengan shaderlight
Di desain dengan Sketchup,  Mesin render shaderlight pada spesifikasi laptop, intel core 2 duo, 2 GB DDR3 memory, membutuhkan 15 menit dengan lebih dari 40.000 scene. Di desain dengan Sketchup,  Mesin render shaderlight pada spesifikasi laptop, intel core 2 duo, 2 GB DDR3 memory, membutuhkan 15 menit dengan lebih dari 75.000 scene.

 

Uji Sketchup II

Kali ini kembali iseng dengan kemampuan sckethup untuk mendesain gambar 3D. Kami coba dengan skala riil seluas 1300 m2 membuat siteplan sebuah kawasan dengan  3d skematik arsitektural desain.

 gardasukasadahill by aryaoka render dengan vray sketchup

 

Menjalankan Hobi

Kangen juga dengan hobi yang sempat ditinggalkan, karena kangennya Ku luangkan waktu untuk corat-corat dan inilah hasil corat-coretan itu :

Rumah design Oka

Rumah design Oka

Rumah di Kampung - design Oka

Rumah di Kampung - design Oka

T45 design Oka

T45 design Oka

Vila design oka

Vila design oka

METAMORFOSA HUNIAN MASYARAKAT BALI

Donwload tulisan : metamorfosahunian masyarakat bali

Ditulis oleh AA.IA Shintaningrum KP, ST

Arsitek berdomisili di Singaraja

MENYINGKAP IHWAL BERARSITEKTUR

MENYINGKAP IHWAL BERARSITEKTUR

 

Suatu karya arsitektur sangat identik dengan bangunan. Suatu bangunan yang dikategorikan sebagai suatu karya arsitektur adalah bangunan yang bernilai seni tinggi. Walaupun seni lebih dominan menyangkut masalah rasa yang bersifat relatif, tapi lebih sering suatu karya arsitektur mendapat decak kagum bagi yang menikmatinya dengan persepsi yang sama yaitu “menakjubkan”.

Ihwal berarsitektur berawal dari cara berpikir orang-orang Yunani yang sangat rasional. Mereka selalu menanyakan hakikat segala sesuatu termasuk dalam berarsitektur. Dalam arsitektur tentu yang dicari adalah hakikat bangunan. Dimana hakikat itu meliputi unsur-unsur yang dipikul atau yang ditopang dan unsur yang memikul atau menopang. Bila kedua unsur itu telah bertemu, maka itulah hakikat suatu bangunan atau kestabilan (tektoon). Sedangkan arche adalah hasil yang utama atau yang awal. Adanya istilah arsitektur berasal dari archetektoon yang berarti kestabilan yang utama. Yang membuat atau yang membangun kestabilan yang utama itu disebut archetektur.

Pada abad pertengahan di Eropa, arsitek disebut magister operis yang artinya ahli karya atau disebut juga magister lapidum (ahli batu). Di zaman kerajaan Mesir dan Roma, arsitek menduduki tempat tertinggi dalam sistem kerajaan karena kebesaran maharaja selalu diukur dari bangunan-bangunan istana raja. Seperti Senmut adalah arsitek negara yang merupakan keturunan rakyat biasa yang selalu mendampingi kaisar Firaun Putri Hatschepsut dalam soal-soal bangunan. Juga Hausman pendamping Kaisar Napoleon III dari Perancis yang selaku walikota Metropol Paris mengubah dan menata kembali ibu kota besar di sepanjang Sungai Seine.

Di India arsitek disebut sthapati (ahli bangunan) atau achariya yang artinya direktur umum atau sutradhara yang artinya arsitek, seniman, pemahat. Dalam kitab Manasara III 2-3 terdapat istilah vasthuwidya atau wastuwidya yang berarti ilmu bangunan. Bahkan dalam vasthu ini juga menyangkut tata bumi (dhara), tata bangunan (harsya), tata sirkulasi (yana) dan juga menyangkut mengenai perabot rumah.

Sampainya arsitektur ke Indonesia dibawa oleh kaum pedagang Belanda pada abad ke-19. Demam jiplak-menjiplak yang sebelumnya telah melanda dunia barat, juga menimpa arsitektur di Indonesia. Tantangan alam yang dulunya dijadikan sahabat, seketika ingin dirombak dengan gaya arsitektur barat. Padahal jauh sebelumnya Indonesia sudah memiliki konsep asli yaitu penyesuaian dan penyelarasan dengan alam.

Le Corbusier yang merupakan arsitek periode 50-an adalah arsitek satu-satunya yang masih kuat pada prinsipnya dalam berarsitektur yang mengedepankan ekspresi diri walau dalam jangkauan irasional. Baru tahun 70-80-an para arsitek Indonesia berani melepaskan diri dari belenggu arsitek barat dan berani melepaskan diri dari pengaruh barat. Arus lokalisme ini sangat menguntungkan dan memberi kesempatan untuk mengembangkan arsitektur khas Indonesia. Bukankah arsitektur dalam arti sebenarnya adalah selalu menggali akar jati diri leluhurnya?

* * *

LAHIRNYA KONSEP BERARSITEKTUR

Bila menengok lagi pada cara berpikir orang-orang Yunani dimana segala sesuatu yang ada di semesta ini pada hakikatnya selalu ada hukumnya dan ada prinsip-prinsip yang mengatur yang menjadi suatu organisme yang utuh dan teratur. Seperti pendapat Pythagoras (580 – 500 sM) yang mengatakan bahwa keselarasan (harmoni) datang dari kesatuan sekian banyak bilangan yang saling menyesuaikan. Pada bilangan terdapat terdapat ordo semesta yang harus dicari dalil-dalilnya. Bilanganlah yang menentukan hubungan-hubungan zat yang satu dengan zat yang lain dan gejala-gejala yang satu dengan gejala yang lain. Pada prinsipnya perubahan kuantitas dapat menimbulkan perubahan kualitas pula. Maka dari itu hampir seluruh cabang ilmu pengetahuan yang berkembang tidak dapat terlepas dari unsur perhitungan kuantitas.  

Lain halnya dengan Heraklitos (540 – 475 sM) yang mematahkan pendapat Pythagoras. Justru keselarasan datang dari komponen-komponen yang berlawanan (kontras). Sebagai contoh lengkung jembatan. Busur lengkung jembatan terdiri dari garis atau bidang yang melengkung ke bawah dan ke atas. Yang dikatakan hidup selaras dalam kehidupan ini adalah ada yang lahir dan ada yang mati. Sumber dari segala yang ada adalah adanya konflik. Karena konfliklah ada sesuatu yang terjadi. Lalu Empedokles (± 445 sM) memperkuat keyakinan Heraklitos yang mengatakan bahwa keselarasan itu memang lahir dari konflik. Namun konflik tersebut harus bersifat tarik-menarik sehingga menyebabkan sesuatu atau benda tersebut mempunyai energi. Energi itu bisa berupa karakter, kepribadian, citra, dan sebagainya. Disinilah tugas seorang arsitek mulai dibebani tanggung jawab moral untuk menghasilkan suatu karya arsitektur yang selalu mempunyai daya citra yang khas, memiliki kekuatan terhadap persepsi maupun cita rasa psikologis orang yang menghadapinya. Persepsi ini juga dikuatkan oleh Homeros, dimana suatu karya arsitektur yang dikategorikan indah adalah yang mengandung nilai kesucian dan magis. Keindahan bukan suatu sifat yang sengaja ditambahkan pada suatu karya tetapi karya tersebut sudah mencapai taraf kesempurnaan tingkat teratas yaitu suci.

Lain halnya dengan pendapat Demokritos (460 – 400 sM) yang mengatakan bahwa keselarasan bersumber dari struktur dan dalam struktur tersebut harus ada keseimbangan yang tersusun dari atom-atom. Segala yang selaras harus mengambil jalan tengah. Yang terlalu banyak dan yang terlalu kurang akan menghasilkan suatu karya yang ekstrem. Karena hal-hal yang ekstrem tidak akan memiliki struktur yang baik.

Kemudian menyusul Sokrates (470 – 399 sM) yang menganalisa hakikat keindahan. Menurutnya hakikat keindahan adalah kegunaan. Dalam tubuh manusia yang terdiri dari beberapa anggota badan mempunyai kegunaan masing-masing. Kaki untuk berjalan, tangan untuk memegang, dan lain sebagainya. Sokrates memandang alam beserta isinya semuanya berguna. Bahkan nilai tertinggi dari semua yang ada adalah kebenaran. Karena konsistensinya berpegang teguh pada apa yang diyakini itulah ia rela dihukum mati oleh bangsanya sendiri.

Pendapat Sokrates ini lalu disanggah oleh Aristoteles (384 – 322 sM). Tidak semua yang berguna itu indah dan tidak semua yang indah itu berguna. Ada tiga hal yang perlu diperhitungkan yaitu kegunaan, kenikmatan dan keindahan. Yang berguna dapat dinikmati ataupun bisa dilihat indah, tetapi tidak selalu. Begitu juga dengan yang indah dapat dinikmati tapi belum tentu berguna. Tapi yang terpenting dari pemikiran Aristoteles ini bagi arsitek adalah adanya Enteleki, yaitu suatu daya kekuatan dari dalam. Perpaduan antara perkembangan enteleki dengan seni yang mengembangkannya dari luar itulah yang menjadi unsur-unsur terciptanya suatu keindahan. Aktivitas seni bukanlah sesuatu kekuatan dari dalam materi tetapi adalah keterampilan tangan si pembuatnya.

Kemudian muncul filsuf Thomas Aquinas yang mengembangkan konsep dari Sokrates dan Aristoteles, dimana keindahan adalah pancaran kebenaran. Segala yang benar pada hakikatnya adalah indah. Konsep inilah yang lebih mudah diterima oleh seni dan kebudayaan modern. Seperti halnya dalam kehidupan kita. Orang yang hidupnya dalam jalur yang benar tanpa terlalu dibebani oleh kesulitan hidup yang berat akan lebih kreatif mengembangkan bakat-bakatnya. Tubuh yang indah adalah perwujudan kekuatan diri seseorang yang terbentuk dari pertumbuhannya yang selaras. Andai manusia tersebut malas dan terlalu banyak menikmati makanan yang enak-enak yang mengandung lemak dan karbohidrat tinggi maka keindahan itu akan tertutup oleh daging yang kendor, perut yang gendut, dan lain-lain. Sungguh tidak indah.

Pada pertengahan abad ke-19 ada seorang filsuf  Jerman yang bernama Hegel yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada berawal dari apa yang disebut dengan “these”. These dari perdebatannya yang panjang menghasilkan antithese. Karena pertentangan these melawan antithese inilah menimbulkan synthese. Synthese itu juga sekaligus sebagai these baru. Kemudian menimbulkan antithese baru dan menghasilkan synthese baru juga. Begitu seterusnya.

Dalam kepercayaan Hindu, Brahma adalah kemutlakan tunggal semesta yang selalu bertritunggal dengan Wishnu yang melahirkan dan memelihara yang ada. Sedangkan Syiwa yang menghancurkan dan mematikan segala yang ada. Brahma, Wishnu, dan Syiwa bukanlah tiga Tuhan kecil atau Tuhan banyak, tetapi pemberian nama kepada tiga aspek dan dimensi dari kesatuan kemutlakan tunggal.

Yang tak ketinggalan juga Sullivan, seorang arsitek perintis arsitek modern di USA yang juga mengikuti pendapat Sokrates namun dia juga punya pendapat sendiri yaitu “form follows function”, bentuk mengikuti fungsi. Walaupun begitu, bila kita amati tidak semua bentuk harus mutlak mengikuti fungsi. Seperti contoh bentuk tanduk rusa tidak sepadan dengan fungsinya sebagai alat pembelaan diri. Begitu juga bulu-bulu burung merak atau cendrawasih yang indah tapi sangat mengganggu bila berhadapan dengan musuh karena memperlambat larinya.

Bertitik tolak dari beberapa konsep yang telah dirintis oleh ahli pikir-ahli pikir tersebut di atas, selayaknyalah bila berarsitektur selalu memperhatikan kepada hal-hal yang sejalan maupun yang kontras. Bila pun ada yang berlawanan tapi masih bisa saling melengkapi sehingga tercapai suatu seni yang lebih tinggi lagi. Suatu bangunan atau suatu karya arsitektur yang berwatak adalah yang mempunyai konsep. Tidak asal mengambil atau menumpuk sekian banyak unsur dan bukan hanya suatu tumpukan materi tanpa hubungan-hubungan struktural, tanpa kerangka dasar dan tanpa pemersatu. Pemanfaatan kekuatan dari dalam (enteleki) suatu materi, lokasi dan situasi sekitarnya adalah hal penting sebelum memutuskan untuk berarsitektur. Seperti menggali enteleki dari kayu, batu alam, keramik, serabut ijuk, beton, baja dan lain sebagainya. Enteleki suatu lokasi meliputi ketinggian tanah, orientasi matahari, pemandangan, dan lain-lain yang  merupakan enteleki yang disediakan oleh alam yang telah siap untuk diterapkan dalam berpartisipasi untuk menghasilkan suatu arsitektur di lokasi tersebut. Juga sistem hubungan harus mempertimbangkan material, kayu atau besi, dan sebagainya. Konstruksi harus benar-benar struktural dan menampung beban akibat daya-daya yang bekerja.

Para arsitek-arsitek modern justru sangat bangga memamerkan dan tidak menyembunyikan struktur konstruksi yang mereka pakai dalam bangunan. Mereka ingin menunjukkan bahwa pilihan konstruksi mereka benar, berguna dan tentunya indah. Dengan berarsitektur yang benar, jujur dan wajar adalah ekspresi bangsa yang berbudi baik dan berbudaya tinggi. Terlebih di negeri kita yang masih terus berjuang menemukan identitas arsitekturnya.   

ditulis  oleh  AA.IA. Shintaningrum KP, ST

Arsitek berdomisili di Singaraja

Ditulis dalam Arsitektur. 4 Comments »