PURI, HUNIAN SANG ‘RIDER’ BALI


Oleh
aa.i.a shintaningrum, kp.ST

Bali selain sebagai daerah seribu pura juga banyak terdapat puri-puri baik itu puri besar maupun puri kecil. Terbentuknya kabupaten-kabupaten dan kota madya di Bali juga berdasarkan adanya puri-puri besar di Bali. Demikian juga puri-puri kecil yang menjadi bawahannya dijadikan kecamatan-kecamatan dan desa-desa. Termasuk batas-batas kekuasaan suatu puri dijadikan batas-batas kabupaten, kota madya, kecamatan dan desa-desa. Dengan demikian puri mempunyai andil besar dalam pembentukan pemerintahan daerah di Bali.
Puri adalah istana raja. Pada awal yaitu di zaman kejayaan Majapahit istilah pura da puri tidak bisa dibedakan. Setelah pengaruh Majapahit semakin kuat dan Bali dapat dikuasai, istana raja lebih cenderung diidentikan dengan sebutan pura. Setelah Dang Hyang Nirartha (Dwijendra) menulis pustaka-pustaka dibidang arsitektur seperti Asta Bumi, Asta Kosala, Asta Kosali, Janantaka, Bhama Krtih, dan Swakarma, bentuk dan pola rumah tinggal dibedakan atas status sosial pemiliknya. Gria untuk kaum Brahmana, Puri untuk rumah raja (kaum Ksatrya), Jero untuk rumah kaum Waisya, dan umah untuk para Sudra. Mulai saat ini barulah penggunaan nama pura dan puri dibedakan. Pura untuk tempat suci dan puri adalah istana raja.
Setelah Majapahit runtuh, secara perlahan Bali lepas dari Jawa dan bermunculanlah kerajaan-kerajaan kecil. Ketika penjajah datang, kerajaan-kerajaan kecil ini berlomba-lomba dimunculkan. Namun kemudian diadudomba sehingga muncul semangat bersaing untuk saling meluaskan daerah kekuasaan dengan cara saling menyerang. Pada akhirnya hanya sembilan kerajaan kecil tersebut yang bisa bertahan. Penjajah juga menghidupkan kembali sistem kasta sehingga muncul istilah Tri Wangsa dan Jaba. Yang termasuk Tri Wangsa diantaranya kasta Brahmana, Ksatrya dan Waisya. Dan yang disebut Jaba adalah kasta Sudra. Kasta Ksatrya sebagai pemegang kekuasaan atau sebagai raja. Jadilah Puri sebagai tempat hunian kaum Ksatrya Bali.
PEMPATAN AGUNG

oka's data base
Sebelum zaman kemerdekaan, Puri adalah center point suatu wilayah kekuasaan raja. Makanya Puri pada pada umumnya terletak di suatu perempatan (catuspatha). Secara harfiah perempatan sebagai titik yang mempertemukan empat ruas jalan raya yang letaknya di pusat kerajaan. Perempatan inilah yang menghubungkan ke beberapa wilayah kekuasaan. Mulai dari tingkat desa, banjar dan komplek perumahan (tempekan). Perempatan juga merupakan titik keberangkatan sekaligus arah. Arah kangin-kauh adalah dualisme teresterial manusia. Dimana kangin adalah kelahiran dan kauh adalah kematian. Sedangkan arah kaja-kelod adalah dualisme celestial (surgawi). Dimana kaja sebagai dunia atas dan kelod sebagai dunia bawah. Dua pasangan dualistik tersebut bertemu di pusat, yakni di catuspatha.
Dua jalur utama tersebut yaitu utara-selatan dan timur-barat bertemu di suatu titik yang akhirnya membentuk pola silang yang disebut “Pempatan Agung” atau “Catur Mukha”. Pada keempat arah di ujung-ujung jalan terdapat bagian-bagian lingkungan pemukiman penduduk yang masing-masing membentuk satu unit “Banjar” sebagai sistem pengaturannya. Makanya perempatan disebut juga “Nyatur Desa” yang bermakna empat unit lingkungan dengan pusat lingkungan pada unit kelima yaitu di tengah-tengah (titik pertemuan).

materi lengkap unduh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: