METAMORFOSA HUNIAN MASYARAKAT BALI


oleh

aa.ia.shintaningrum, kp.ST

Cara hidup manusia pada awalnya adalah berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain. Aktivitas sehari-harinyapun hanya mencari makan untuk bertahan hidup seperti berburu atau mencari ikan di sungai dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana. Aktivitas ini berhenti bila matahari terbenam. Jadi pada malam hari total dipergunakan untuk beristirahat. Tempat beristirahatnyapun sangat sederhana dan dimana saja asal memungkinkan seperti di gua-gua atau di atas dahan pohon yang kuat. Selain sebagai tempat istirahat juga dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dari serangan binatang buas dan serangan alam seperti hujan, angin ribut, panas terik matahari, dan lain-lain.

Lambat laun manusia mulai belajar bertani. Lahan pertanian dibuat dengan menebang hutan. Bila kesuburan tanah sudah dirasa berkurang, mereka pindah ke tempat lain dan menebang hutan lagi untuk dijadikan lahan pertanian yang baru. Manusia pada era ini sudah mulai menetap di suatu tempat tapi dalam jangka waktu yang tidak begitu lama. Manusia mulai membuat hunian yang bersifat semi permanen seperti gubuk, rumah panggung, dan lain-lain. Bahan-bahan diambil dari lingkungan sekitarnya. Seperti rangka dan dan dinding dibuat dari kayu dan bambu, balai-balai untuk tempat tidur dibuat dari bambu, dan atap dipakai daun-daunan seperti daun alang-alang, ijuk, daun kelapa, dan lain-lain.

Setelah manusia mahir dalam bertani dan mulai mengenal sistem pertanian, manusia mulai menyadari dirinya sebagai mahkluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Mulailah manusia menjalin interaksi dengan sesamanya. Interaksi ini mengubah cara hidup manusia dari individu menjadi mahkluk yang hidup secara berkelompok. Perubahan cara hidup ini membawa perubahan pula pada hunian mereka. Manusia mulai menetap di suatu tempat dalam jangka waktu lama. Maka dibuatlah hunian yang sifatnya jangka panjang walaupun masih dengan bahan-bahan yang didapat dari lingkungan sekitarnya. Hunian yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan sekaligus tempat bersosialisasi yang disebut rumah. Rumah-rumah tersebut membentuk suatu pola perumahan yang menempati suatu wilayah yang disebut pemukiman. Masing-masing pemukiman mempunyai konsep yang berbeda-beda mulai dari aturan tentang kehidupan, aturan tata ruang, sistem kepercayaan, dan lain-lain yang kesemuanya ini mereka yakini dan diwarisi secara turun-temurun sehingga menjadi suatu tradisi. Bertitik tolak dari tradisi tersebut muncullah sistem hunian yang disebut rumah atau pemukiman tradisional.

materi lengkap unduh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: