MENYINGKAP IHWAL BERARSITEKTUR


Oka's-Database

Oka's-Database

Suatu karya arsitektur sangat identik dengan bangunan. Suatu bangunan yang dikategorikan sebagai suatu karya arsitektur adalah bangunan yang bernilai seni tinggi. Walaupun seni lebih dominan menyangkut masalah rasa yang bersifat relatif, tapi lebih sering suatu karya arsitektur mendapat decak kagum bagi yang menikmatinya dengan persepsi yang sama yaitu “menakjubkan”.

Ihwal berarsitektur berawal dari cara berpikir orang-orang Yunani yang sangat rasional. Mereka selalu menanyakan hakikat segala sesuatu termasuk dalam berarsitektur. Dalam arsitektur tentu yang dicari adalah hakikat bangunan. Dimana hakikat itu meliputi unsur-unsur yang dipikul atau yang ditopang dan unsur yang memikul atau menopang. Bila kedua unsur itu telah bertemu, maka itulah hakikat suatu bangunan atau kestabilan (tektoon). Sedangkan arche adalah hasil yang utama atau yang awal. Adanya istilah arsitektur berasal dari archetektoon yang berarti kestabilan yang utama. Yang membuat atau yang membangun kestabilan yang utama itu disebut archetektur.

Pada abad pertengahan di Eropa, arsitek disebut magister operis yang artinya ahli karya atau disebut juga magister lapidum (ahli batu). Di zaman kerajaan Mesir dan Roma, arsitek menduduki tempat tertinggi dalam sistem kerajaan karena kebesaran maharaja selalu diukur dari bangunan-bangunan istana raja. Seperti Senmut adalah arsitek negara yang merupakan keturunan rakyat biasa yang selalu mendampingi kaisar Firaun Putri Hatschepsut dalam soal-soal bangunan. Juga Hausman pendamping Kaisar Napoleon III dari Perancis yang selaku walikota Metropol Paris mengubah dan menata kembali ibu kota besar di sepanjang Sungai Seine.

Di India arsitek disebut sthapati (ahli bangunan) atau achariya yang artinya direktur umum atau sutradhara yang artinya arsitek, seniman, pemahat. Dalam kitab Manasara III 2-3 terdapat istilah vasthuwidya atau wastuwidya yang berarti ilmu bangunan. Bahkan dalam vasthu ini juga menyangkut tata bumi (dhara), tata bangunan (harsya), tata sirkulasi (yana) dan juga menyangkut mengenai perabot rumah.

Sampainya arsitektur ke Indonesia dibawa oleh kaum pedagang Belanda pada abad ke-19. Demam jiplak-menjiplak yang sebelumnya telah melanda dunia barat, juga menimpa arsitektur di Indonesia. Tantangan alam yang dulunya dijadikan sahabat, seketika ingin dirombak dengan gaya arsitektur barat. Padahal jauh sebelumnya Indonesia sudah memiliki konsep asli yaitu penyesuaian dan penyelarasan dengan alam.

Le Corbusier yang merupakan arsitek periode 50-an adalah arsitek satu-satunya yang masih kuat pada prinsipnya dalam berarsitektur yang mengedepankan ekspresi diri walau dalam jangkauan irasional. Baru tahun 70-80-an para arsitek Indonesia berani melepaskan diri dari belenggu arsitek barat dan berani melepaskan diri dari pengaruh barat. Arus lokalisme ini sangat menguntungkan dan memberi kesempatan untuk mengembangkan arsitektur khas Indonesia. Bukankah arsitektur dalam arti sebenarnya adalah selalu menggali akar jati diri leluhurnya?

* * *

LAHIRNYA KONSEP BERARSITEKTUR

Bila menengok lagi pada cara berpikir orang-orang Yunani dimana segala sesuatu yang ada di semesta ini pada hakikatnya selalu ada hukumnya dan ada prinsip-prinsip yang mengatur yang menjadi suatu organisme yang utuh dan teratur. Seperti pendapat Pythagoras (580 – 500 sM) yang mengatakan bahwa keselarasan (harmoni) datang dari kesatuan sekian banyak bilangan yang saling menyesuaikan. Pada bilangan terdapat terdapat ordo semesta yang harus dicari dalil-dalilnya. Bilanganlah yang menentukan hubungan-hubungan zat yang satu dengan zat yang lain dan gejala-gejala yang satu dengan gejala yang lain. Pada prinsipnya perubahan kuantitas dapat menimbulkan perubahan kualitas pula. Maka dari itu hampir seluruh cabang ilmu pengetahuan yang berkembang tidak dapat terlepas dari unsur perhitungan kuantitas.

Lain halnya dengan Heraklitos (540 – 475 sM) yang mematahkan pendapat Pythagoras. Justru keselarasan datang dari komponen-komponen yang berlawanan (kontras). Sebagai contoh lengkung jembatan. Busur lengkung jembatan terdiri dari garis atau bidang yang melengkung ke bawah dan ke atas. Yang dikatakan hidup selaras dalam kehidupan ini adalah ada yang lahir dan ada yang mati. Sumber dari segala yang ada adalah adanya konflik. Karena konfliklah ada sesuatu yang terjadi. Lalu Empedokles (± 445 sM) memperkuat keyakinan Heraklitos yang mengatakan bahwa keselarasan itu memang lahir dari konflik. Namun konflik tersebut harus bersifat tarik-menarik sehingga menyebabkan sesuatu atau benda tersebut mempunyai energi. Energi itu bisa berupa karakter, kepribadian, citra, dan sebagainya. Disinilah tugas seorang arsitek mulai dibebani tanggung jawab moral untuk menghasilkan suatu karya arsitektur yang selalu mempunyai daya citra yang khas, memiliki kekuatan terhadap persepsi maupun cita rasa psikologis orang yang menghadapinya. Persepsi ini juga dikuatkan oleh Homeros, dimana suatu karya arsitektur yang dikategorikan indah adalah yang mengandung nilai kesucian dan magis. Keindahan bukan suatu sifat yang sengaja ditambahkan pada suatu karya tetapi karya tersebut sudah mencapai taraf kesempurnaan tingkat teratas yaitu suci.

Lain halnya dengan pendapat Demokritos (460 – 400 sM) yang mengatakan bahwa keselarasan bersumber dari struktur dan dalam struktur tersebut harus ada keseimbangan yang tersusun dari atom-atom. Segala yang selaras harus mengambil jalan tengah. Yang terlalu banyak dan yang terlalu kurang akan menghasilkan suatu karya yang ekstrem. Karena hal-hal yang ekstrem tidak akan memiliki struktur yang baik.

Kemudian menyusul Sokrates (470 – 399 sM) yang menganalisa hakikat keindahan. Menurutnya hakikat keindahan adalah kegunaan. Dalam tubuh manusia yang terdiri dari beberapa anggota badan mempunyai kegunaan masing-masing. Kaki untuk berjalan, tangan untuk memegang, dan lain sebagainya. Sokrates memandang alam beserta isinya semuanya berguna. Bahkan nilai tertinggi dari semua yang ada adalah kebenaran. Karena konsistensinya berpegang teguh pada apa yang diyakini itulah ia rela dihukum mati oleh bangsanya sendiri.

Pendapat Sokrates ini lalu disanggah oleh Aristoteles (384 – 322 sM). Tidak semua yang berguna itu indah dan tidak semua yang indah itu berguna. Ada tiga hal yang perlu diperhitungkan yaitu kegunaan, kenikmatan dan keindahan. Yang berguna dapat dinikmati ataupun bisa dilihat indah, tetapi tidak selalu. Begitu juga dengan yang indah dapat dinikmati tapi belum tentu berguna. Tapi yang terpenting dari pemikiran Aristoteles ini bagi arsitek adalah adanya Enteleki, yaitu suatu daya kekuatan dari dalam. Perpaduan antara perkembangan enteleki dengan seni yang mengembangkannya dari luar itulah yang menjadi unsur-unsur terciptanya suatu keindahan. Aktivitas seni bukanlah sesuatu kekuatan dari dalam materi tetapi adalah keterampilan tangan si pembuatnya.

Kemudian muncul filsuf Thomas Aquinas yang mengembangkan konsep dari Sokrates dan Aristoteles, dimana keindahan adalah pancaran kebenaran. Segala yang benar pada hakikatnya adalah indah. Konsep inilah yang lebih mudah diterima oleh seni dan kebudayaan modern. Seperti halnya dalam kehidupan kita. Orang yang hidupnya dalam jalur yang benar tanpa terlalu dibebani oleh kesulitan hidup yang berat akan lebih kreatif mengembangkan bakat-bakatnya. Tubuh yang indah adalah perwujudan kekuatan diri seseorang yang terbentuk dari pertumbuhannya yang selaras. Andai manusia tersebut malas dan terlalu banyak menikmati makanan yang enak-enak yang mengandung lemak dan karbohidrat tinggi maka keindahan itu akan tertutup oleh daging yang kendor, perut yang gendut, dan lain-lain. Sungguh tidak indah.

Pada pertengahan abad ke-19 ada seorang filsuf  Jerman yang bernama Hegel yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada berawal dari apa yang disebut dengan “these”. These dari perdebatannya yang panjang menghasilkan antithese. Karena pertentangan these melawan antithese inilah menimbulkan synthese. Synthese itu juga sekaligus sebagai these baru. Kemudian menimbulkan antithese baru dan menghasilkan synthese baru juga. Begitu seterusnya.

Dalam kepercayaan Hindu, Brahma adalah kemutlakan tunggal semesta yang selalu bertritunggal dengan Wishnu yang melahirkan dan memelihara yang ada. Sedangkan Syiwa yang menghancurkan dan mematikan segala yang ada. Brahma, Wishnu, dan Syiwa bukanlah tiga Tuhan kecil atau Tuhan banyak, tetapi pemberian nama kepada tiga aspek dan dimensi dari kesatuan kemutlakan tunggal.

Yang tak ketinggalan juga Sullivan, seorang arsitek perintis arsitek modern di USA yang juga mengikuti pendapat Sokrates namun dia juga punya pendapat sendiri yaitu “form follows function”, bentuk mengikuti fungsi. Walaupun begitu, bila kita amati tidak semua bentuk harus mutlak mengikuti fungsi. Seperti contoh bentuk tanduk rusa tidak sepadan dengan fungsinya sebagai alat pembelaan diri. Begitu juga bulu-bulu burung merak atau cendrawasih yang indah tapi sangat mengganggu bila berhadapan dengan musuh karena memperlambat larinya.

Bertitik tolak dari beberapa konsep yang telah dirintis oleh ahli pikir-ahli pikir tersebut di atas, selayaknyalah bila berarsitektur selalu memperhatikan kepada hal-hal yang sejalan maupun yang kontras. Bila pun ada yang berlawanan tapi masih bisa saling melengkapi sehingga tercapai suatu seni yang lebih tinggi lagi. Suatu bangunan atau suatu karya arsitektur yang berwatak adalah yang mempunyai konsep. Tidak asal mengambil atau menumpuk sekian banyak unsur dan bukan hanya suatu tumpukan materi tanpa hubungan-hubungan struktural, tanpa kerangka dasar dan tanpa pemersatu. Pemanfaatan kekuatan dari dalam (enteleki) suatu materi, lokasi dan situasi sekitarnya adalah hal penting sebelum memutuskan untuk berarsitektur. Seperti menggali enteleki dari kayu, batu alam, keramik, serabut ijuk, beton, baja dan lain sebagainya. Enteleki suatu lokasi meliputi ketinggian tanah, orientasi matahari, pemandangan, dan lain-lain yang  merupakan enteleki yang disediakan oleh alam yang telah siap untuk diterapkan dalam berpartisipasi untuk menghasilkan suatu arsitektur di lokasi tersebut. Juga sistem hubungan harus mempertimbangkan material, kayu atau besi, dan sebagainya. Konstruksi harus benar-benar struktural dan menampung beban akibat daya-daya yang bekerja.

Para arsitek-arsitek modern justru sangat bangga memamerkan dan tidak menyembunyikan struktur konstruksi yang mereka pakai dalam bangunan. Mereka ingin menunjukkan bahwa pilihan konstruksi mereka benar, berguna dan tentunya indah. Dengan berarsitektur yang benar, jujur dan wajar adalah ekspresi bangsa yang berbudi baik dan berbudaya tinggi. Terlebih di negeri kita yang masih terus berjuang menemukan identitas arsitekturnya.

aa.i.a shintaningrum, kp.st (arsitek)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: