Pelatihan Lingkungan Inklusif Ramah Terhadap Pembelajaran di Sekolah Mitra SD 1 dan 3 Banjar Jawa Buleleng


Berlangsung di ruang B jurusan Teknologi Pendidikan, Lantai II gedung FIP Undiksha, Sabtu (11/4) berlangsung Pelatihan mewujudkan lingkungan inklusif ramah terhadap pembelajaran (LIRP). Kegiatan ini di buka oleh Ketua LPM, Prof. Dr. Ketut Suma, M.S yang sebelumnya didahului oleh laporan ketua pelaksana Prof. Dr. Anak Agung Gede Agung, M.Pd.

Pembukaan LIRP

Pembukaan LIRP oleh Ketua LPM Prof. Dr. Ketut Suma, M.S

Dihadiri oleh guru-guru dari SDN 1  dan SDN 3 Banjar Jawa, Buleleng dengan penuh antusias. Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi, yakni paparan konsep  LIRP dari GP. Arya Oka, M.Pd kemudian sesi berikutnya adalah sesi Pelatihan.

Seperti dipahami, Inklusi merupakan perubahan praktis yang memberi peluang anak dengan latar belakang dan kemampuan yang berbeda bisa berhasil dalam belajar. Perubahan ini tidak hanya menguntungkan anak yang sering tersisihkan, seperti anak berkebutuhan khusus, tetapi semua anak dan orangtuanya, semua guru dan administrator sekolah,dan setiap anggota masyarakat.

Inklusi berarti bahwa sebagai guru bertanggung jawab untuk mengupayakan bantuan dalam menjaring dan memberikan layanan pendidikan pada semua anak yang ada di masyarakat, keluarga, lembaga pendidikan, layanan kesehatan, pemimpin masyarakat, dan lain-lain.

LIRP2Sekolah yang ramah terhadap anak merupakan sekolah di mana semua anak memiliki hak untuk belajar mengembangkan potensi dirinya seoptimal di dalam lingkungan yang nyaman dan terbuka. Menjadi “ramah” apabila keterlibatan dan partisipasi semua pihak dalam pembelajaran tercipta secara alami dengan baik. Sekolah bukan hanya tempat untuk anak belajar, tapi guru pun juga ikut belajar dari keberagaman anak didiknya.

Misalnya guru memperoleh hal yang baru tentang cara mengajar yang lebih efektif dan menyenangkan dari keunikan serta potensi setiap anak.Lingkungan pembelajaran yang ramah berarti ramah kepada anak dan guru, artinya: (1) anak dan guru belajar bersama sebagai suatu komunitas belajar; (2) menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran; (3) mendorong partisipasi aktif anak dalam belajar; dan (4) guru memiliki minat untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik.

Semua anak memiliki hak untuk belajar, tanpa memandang perbedaan fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa atau kondisi lainnya seperti yang ditetapkan dalam Konvensi Hak Anak yang telah ditandatangani hampir semua negara di dunia. Dalam LIRP, setiap orang diharapkan dapat berbagi visi tentang bagaimana belajar, bekerja, dan bermain bersama. Yakinkan mereka, bahwa pendidikan hendaknya adil dan tidak diskriminatif, serta peka terhadap budaya dan relevan dengan kehidupan sehari-hari anak. Pendidik, tenaga kependidikan, dan semua anak sebagai masyarakat sekolah menghargai berbagai perbedaan.

Namun, sekarang terdapat beberapa sekolah lebih terkesan sebagai sekolah yang “eksklusif”. Sebagai contoh: (1) sekolah menerapkan tes untuk menjaring siswa dengan kreteria tertentu, (2) sekolah diskriminatif menerima siswa, (3) adanya sekolah favorit yang hanya bisa dimasuki oleh orang tertentu, (4) lingkungan sekolah yang tidak nyaman seperti contoh kasus JIS. Oleh karenanya perlu suatu pelatihan bagai semua komponen dalam sistem sekolah untuk memahami dan mewujudkan Lingkungan Sekolah yang Inklusif Ramah terhadap Pembelajaran (LIRP)

Ditulis dalam Info. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: