Penerapan sehari-hari Kapabilitas Belajar Gagne


Kemarin anak kami yang paling besar baru kelas tiga SD datang dari toko dengan membawa stik es krim dua bungkus. Lalu, iseng kami tanya,”es krimnya mana?” “Apa disuruh membuat es krim di rumah, lalu besok di bawa kesekolah? demikian pertanyaan lanjutku. Eh, malah dijawab dengan enteng. “barang ini untuk membuat prakarya, disuruh membuat dirumah” dan “boleh dibantu, gitu katanya”.

Lalu, kendati asik di depan komputer, berpikir sejenak, lalu kami ajukan pertanyaan. “Siapa yang disuruh membantumu? Jawabannya enteng lagi, “Ya, bapak! dengan nada tinggi”.

Oke! Karena besok harus dikumpul, maka kami sisihkan waktu untuk melaksanakan teori kolaborasi. Tidak pake lama, semua alat dan bahan telah disiapkan, sambil kami mengambil kertas, meteran, gunting dan pensil. Proyek pun dimulai.

Kami berdikusi, apa yang akan dibuat dengan dua bungkus stik es krim ini, kami membagi tugas lalu kami menggunakan idenya dan kami bantu dan setelah satu jam proyeknya pun selesai.

Rumah stik krim

Rumah stik krim

Setelah selesai, anak kami tidur pulas dan kami masih berpikir, Pengamalaman belajar apa yang telah anak dan kami alami, dalam proyek ini? Semakin dipikir, semakin rumitnya jadinya. Kalau dikaitkan dengan beberapa teori belajar, teori pembelajaran dan bagaimana anak belajar sebenarnya banyak poin yang bisa dicatat, misalnya.

  1. Ketika anak membeli dan membawa barang stik es krim, sebenarnya mereka belajar mengenal fakta, yaitu bentuk dan bahan stik es krim ( teori Gagne)
  2. Lalu ketika mengkomunikasikan idenya untuk membuat rumah “ranggon” si anak sudah belajar kapabilitas verbal, yakni menyampaikan ide dengan jelas ( teori belajar Gagne)
  3. Kemudian ketika anak-anak menghitung banyaknya stik es krim, menyusun, memindahkan sesuai apa yang ada dibenaknya adalah keterampilan intelek ( teori gagne). Si anak tidak mungkin bisa mengkomunikasikan idenya, tanpa sebelumnya mereka memiliki skema awal. Skema ini  berasosiasi dengan tugas yang akan dikerjakan.
  4. Mengambil Lem untuk mengelem stik es perlu ke hati-hatian, bila perlu tidak bernapas. Lagi-lagi si anak belajar keterampilan motorik. Tidak mudah untuk menyusun stik es krim dengna lem. harus hati-hati sampai menunggu lemnya kering.
  5. Pada saat membuat atap, ada konsep segitiga yang anak harus pelajari ketika membuat kuda-kuda. jadi bagaimana konsep segitiga di terapkan di dunia nyata adalah siasat kognitif teori Gagne.
  6. Perhatian, semangat dan kegairahan mengerjakan adalah  prasyarat kondisi belajar yang harus ada sesuai teori Gagne!
  7. Kemudian karya itu dibawa kesekolah, lalu dinilai dan ditanya, ” dapat nilai berapa?” Jika seorang guru memberikan nilai bagus, misalnya 85 pada karya itu, dan nilai itu adalah penguatan operan versi Skinner. Kemudian jika nilainya 85 adalah nilai tertinggi dikelasnya, anak-anak harus memiliki kapabilitas sikap versi Gagne, yakni tidak sombong dengan apa yang telah dicapai.

Jadi, kesimpulannya.

  1. Proyek panggung “Ranggon” kelihatannya remeh, tetapi ada teori belajar disitu
  2. sering kita mengabaikan hal-hal kecil apalagi tidak rungu dengan tugas anak-anak, padahal kolaborasi anak dengan orangtua dalam hal tertentu sangat penting dalam menciptakan kondisi belajar
  3. Akhirnya, seberapa banyak ‘ orang tua’ yang belajar teori belajar? Kadung sudah percaya 100 % pada sekolah dan les-les yang menjamur. Itu apa orang tua yang tidak mengerti atau tidak mau direpotkan oleh anaknya sendiri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: