Integrasi TIK dalam Pembelajaran


1.  Pendahuluan

Saat ini begitupula masa mendatang teknologi ditengarai memerankan peranan dan fungsi yang sangat penting serta mendominasi di setiap lini kehidupan. Tidak terkecuali di dunia pendidikan arus masuknya teknologi baik dalam tataran untuk dipelajari maupun dimanfaatkan sudah tidak bisa dielakkan lagi. Teknologi dalam wujudnya sebagai hard technology maupun soft technology, kedua wujud ini saling terkait, saling melengkapi sebagai piranti yang sangat dibutuhkan manusia dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Sebenarnya teknologi bukanlah istilah baru. Dari jaman prasejarah sejak ditemukannya kapak sampai jaman millenium yang ditandai dengan kehadiran komputer dalam berbagai varian hingga perangkat bergerak (mobiling) seperti tablet, smartphone kerap dijumpai sebagai alat dan media dalam memencahkan persoalan-persoalan, tanpa kecuali di dunia pendidikan khususnya dalam kegiatan administrasi, pembelajaran serta sistem penyampaian.

Pertumbuhan komputer, tablet, smarphone, chrome book setiap tahun menunjukkan gejala peningkatan dengan jenis, model, merek dan fitur-fitur yang mampu memanjakan pemakainya. Dominasi pemanfaatan teknologi tersebut lebih cendrung untuk gaya hidup seseorang sedangkan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran dikelas masih menemukan beberapa kendala. Kendala ini misalnya belum adanya aturan baku atau prosedur operasi standar pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Komputer selama ini dimanfaatkan sebagai piranti rutin untuk kegiatan administratif. Dengan kemampuan pengolahannya, komputer dalam dunia pendidikan di fungsikan sebagai alat atau tool kognitif. Komputer juga difungsikan sebagai medium pengolahan data yang dimasukkan sehingga menjadi informasi yang siap disajikan. Disajikan dalam artian informasi ditampilkan pada layar komputer itu sendiri, melalui LCD proyektor dan di cetak melalui peran serta adanya printer.

Tablet dan smartphone dengan jumlah pemakai dikalangan pelajar dengan gejala kepemilikan yang mulai menujukkan peningkatan baru dimanfaatkan sebagai bagian gaya hidup ketimbang sebagai alat bantu untuk kegiatan pembelajaran. Dengan demikian manfaat jika dibandingkan dengan biaya perolehan untuk saat ini tidak seimbang sampai ada inovasi untuk membuat pedoman penggunaan tablet dan smartphone dalam pembelajaran, baik dalam kontek di dalam kelas maupun di luar kelas. Jenis komputer jinjing yang ringan, fleksibel dan bisa dibawa kemana-kemana dengan mudah dan kaya dengan fitur untuk digunakan dalam pembalajaran adalah jenis ultrabook seperti chromebook yang saat ini menjadi gejala yang direkomendasikan untuk siswa-siswi. Setidaknya jenis piranti ini sedang dilakukan proses edukasi bagi siswa-siswi di Amerika, disamping sudaj terlebih dahulu edukasi dikampanyekan untuk pemakaian tablet dan ipad.

Indonesia sebagai negara berkembang dengan populasi 223 juta pendduduk, merupakan pasar yang sangat besar untuk piranti yang dipaparkan diatas. Penggunaan komputer dan laptop dikalangan masyarakat pendidikan (sekolah) merupakan piranti yang sudah familiar digunakan oleh siswa-siswi, kendati kepemilikan laptop dari siswa-siswi setingkat SMP, SMA/SMK lebih rendah dari mahasiswa di perguruan tinggi. Namun demikian komputer sudah digunakan oleh guru, staf sekolah baik untuk mengolah data maupun kegiatan administratif. Tetapi, penggunaan komputer atau laptop sebagai tool didalam kelas masih terbatas dalam hal prekuensi penggunaannya. Demikian pula komputer dan laptop yang difungsikan untuk menciptakan, mengembangkan bahan-bahan ajar menunjukkan gejala yang memprihatinkan. Memang, pasca sertifikasi populasi kepemilikan komputer dan laptop meningkat namun hal ini tidak diimbangi dengan usaha untuk menciptakan bahan-bahan ajar berbasis TIK. Keprihatinan terhadap minimnya produk yang berhasil diciptakan oleh guru dengan kepemilikan laptop tidak berbanding lurus dengan fitur yang disediadakan laptop. Gejala ini bisa di lihat dari beberapa kegiatan untuk merangsang guru dalam mengembangkan bahan ajar berbasis ICT oleh Dinas Pendidikan dan Pemuda Olaharaga Propinsi Bali tahun 2010, 2011 dan 2012 masih jauh dari harapan. Ilustrasi data seperti tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah Sekolah yang Aktif mengembangkan Produk Berbasis ICT

Kabupaten Jumlah Peserta
2010 2011 2012
SD SMP SMA/SMK SD SMP SMK SD SMP SMA/SMK
Jembarana 2 1 0 1 2 1 2 2 2
Buleleng 2 1 0 2 1 2 2 2 1
Karangasem 1 1 0 0 0 1 2 2 1
Klungkung 0 1 1 0 0 1 2 2 1
Bangli 2 1 0 2 1 2 2 2 1
Gianyar 0 0 0 0 0 1 2 2 1
Denpasar 2 2 1 2 2 1 2 2 2
Badung 2 2 2 2 2 2 2 2 1
Tabanan 0 2 1 0 2 0 2 2 1
Jumlah 11 11 5 9 12 12 18 18 10

(Sumber, Tim Juri Lomba Bahan Ajar Berbasis ICT, Disdikpora Bali)

Dari delapan kabupaten dan pemerintah kota yang ada di Bali produk yang dihasilkan oleh guru masih sangat jauh dari harapan, baik dari jumlah sekolah yang datang, jumlah peserta dan kualitas produk yang dihasilkan. Hal ini mengindikasikan bahwa pengembangan profesi guru secara berkelanjutan harus di program lebih serius agar amanat undang-undang dan beberapa standar bisa tercapai.

Amanat standar proses (Permendiknas 41 Tahun 2007) yang menyatakan proses pembelajaran dilaksanakan harus inspiratif, interaktif, menyenangkan, momotivasi dan menantang untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai bakat, minat serta perkembangan fisik, psikologis peserta didik jauh dari harapan. Ambil suatu contoh! Masih banyak kita temui anak-anak takut untuk pergi kesekolah, karena sekolah tidak menyenangkan dan dalam benak siswa sekolah masih menyerupai penjara. Padahal sejak tahun 2013 pemerintah sudah memberlakukan kurikulum 2013. Kenyataan ini justru berbanding terbalik dengan rasionalitas, alasan dan tujuan perubahan kurikulum 2013 yang dicanangkan pemerintah. Lebih tragis lagi ketika harapan besar tertumpu pada kurikulum 2013, justru anak-anak mendapat perlakuan yang tidak memperhatikan perkembangan psikologis anak, seperti isu hangat yang terjadi pada sekolah international, Jakarta International School (JIS).

Berbagai kondisi saat ini tidak bersahabat dengan anak didik. Kondisi yang demikian parah ini lebih parah ketika mata pelajaran TIK dihilangkan dalam struktur kurikulum 2013. Menteri Pendidikan, Muhammad Nuh dalam suatu kesempatan di Malang mengatakan “guru-guru tidak lagi dibebani dengan urusan administratif, tugas guru dalam kurikulum 2013 hanya mengajar”. Lebih lanjut Pak Menteri mengatakan, “ —begitu juga, buku-buku bahan pelajaran akan semuanya dibuat dipusat, guru hanya melaksanakan pengajaran saja”. Pernyataan Pak Menteri ini kontrakdiktif dengan substansi yang ada pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomr 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, dalam hal: 1) pada kompetensi pedagogik sangat jelas dinyatakan bahwa guru memanfaatkan TIK untuk kepentingan pembelajaran, 2) pada kompetensi profesional sangat jelas tersurat guru mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara efektif dan 3) guru memanfaatkan TIK untuk mengembangkan diri.

Hilangnya muatan TIK dalam struktur kurikulum 2013 juga kontraktif dengan tuntutan kemajuan zaman dimana penguasaan TIK seharusnya ditingkatkan melalui pelatihan yang berkelanjutan, bukannya di lebur dengan konsep yang belum jelas. Padahal TIK seperti diamanatkan UNESCO, harus dilihat pada dua aspek. Aspek tersebut, yaitu: learn to use ICT dan use ICT to learn ( Unesco Toolkit ICT, 2009). Begitupula pemetaan untuk memperoleh gambaran ICT di sekolah-sekolah belum dilakukan dengan serius, sehingga kita sangat sulit mendapatkan data yang valid untuk pengkajian lebih lanjut. Hal ini diperparah lagi dengan tidak adanya kebijakan atau masterplan ICT di Indonesia. Kondisi ini tentunya berbanding terbalik dengan keseriusan pemerintah Malaysia dan Singapura yang telah memiliki masterplan ICT yang terencana, terarah dan valid untuk pengkajian lebih lanjut.

Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) yang dilaksanakan pada 10 Maret 2013 oleh Fakultas Ilmu Pendidikan, Undiksha di dua sekolah yakni SMP Negeri 2 Singaraja dan SMP Negeri 1 Sukasada, menemukan beberapa gejala sebagai berikut: 1) kurang terampilnya guru dalam mendesain pembelajaran; 2) kurangnya guru dalam latihan learn to use ICT dan 3) belum adanya aturan standar layanan penggunakan ICT dalam pembelaran atau use ICT to learn.

Berbekal temuan tersebut diatas maka sangat penting untuk melanjutkan kembali dalam rangka melakukan perbaikan atau treatment terhadap aspek yang patut diduga agar proses pembelajaran berlangsung inspiratif, interaktif, menyenangkan, momotivasi dan menantang peserta didik.

2. Analisis Situasi

Situasi yang dianalisis adalah tempat yang akan menjadi Pengabdian Masyarakat, yakni: 1) SMP Negeri 2 Singaraja dan 2) SMP Negeri 1 Sukasada. Kedua sekolah ini sebelumnya telah menjadi tempat P2M sehingga temuan pada tahun sebelumnya dapat ditindaklanjuti pada P2M kali ini.

2.1 SMP Negeri 2 Singaraja

SMP Negeri 2 Singaraja terletak di jalan Sudirman dengan akses yang mudah dicari. Pada tahun 2013 SMPN 2 Singaraja mendapat uji coba pengabdian masyarakat melalui Kegiatan Lesson Study. Satu orang guru di sekolah ini telah dijadikan model dalam pembelajaran TIK. Siklus Lesson Study berjalan sesuai harapan dengan temuan-temuan sebagai berikut: 1) perangkat pembelajaran yang disusun seperti silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran belum mengintegrasikan teknologi informasi, teknologi komunikasi dan media seperti yang diharapkan. Hal ini dimaklumi karena guru belum pernah mendapat konsep integrasi teknologi, media dalam kurikulum.; 2) Dalam proses pembelajaran pun masih menemui kesulitan karena guru belum memiliki standar layanan penggunaan media; 3) belum adanya garis-garis besar isi media pada RPP dan Silbus yang memberikan arah dan strategi guru dalam penggunaan media dan teknologi.

2.2 SMP Negeri 1 Sukasada

SMP Negeri 1 Singaraja yang terletak di Jalan Gelatik Gingsir Singaraja yang juga mendapat uji coba penerapan metode pembelajaran Lesson Studi memperlihatkan gejala yang sama dengan SMP Negeri 2 Singaraja. Dua orang guru TIK telah dijadikan guru model pada kegiatan lesson study tersebut. Hal yang sama terjadi pada guru-guru tersebut dimana pemahaman akan konsepsi dan integrasi TIK dalam pembelajaran masih kabur. Hal ini dikarenakan belum adanya pelatihan atau kegiatan lainnya yang berkaitan dengan integrasi TIK dalam pembelajaran.

3. Tinjauan Pustaka

3.1   Teknologi Informasi dan Komunikasi, Integrasi dan Pembelajaran

Sebelum abad ke 20 dan setelahnya, kata teknologi atau term technology   [tech.nol.o.gy] telah dicoba diberikan batasan beragam oleh para pakar, baik secara individual maupun secara kelembagaan. Wikipedia misalnya, memaparkan, …Before the 20th century, the term was uncommon in English, and usually referred to the description or study of the useful arts. Begitu pula di Jerman menerjemahkan konsep  Technik kedalam “technology”. Lebih lanjut dipaparkan juga,

In German and other European languages, a distinction exists between technik and technologie that is absent in English, which usually translates both terms as “technology”. By the 1930s, “technology” referred not only to the study of the industrial arts but to the industrial arts themselves (wikipedia)

Selanjutnya menurut The Merriam-Webster Dictionary  term teknologi didefinisikan sebagai: “the practical application of knowledge especially in a particular area” and        “a capability given by the practical application of knowledge.

Demikian pula untuk saat ini kata teknologi sudah di adaptasi dan digunakan dalam sekala yang lebih luas bukan saja penerapan praktis dari suatu pengetahuan, bukan saja sebuah teknik ataupun seni namun, kata teknologi sudah disandingkan dengan beberapa kata yang menimbulkan batasan-batasan baru, persepsi baru yang diperlukan untuk suatu maksud.

Dalam bahasa Indonesia sering kita membaca ataupun mendengar kata teknologi pendidikan, teknologi pertanian, teknologi kayu, teknologi tepat guna dan banyak kata lain yang disandingkan dengan teknologi. Salah satu yang sering dikaji adalah teknologi informasi dan komunikasi yang merupakan terjemahan dari bahasa aslinya, yakni information communication and technology (ICT). Menurut UNESCO, ICT atau TIK untuk pendidikan di berikan batasan …range of electronic tools for storing, displaying and exchange information and for communicating. Penting untuk memahami, bahwa TIK tidak dipahami dengan sederhana yang menyangkut komputer dan internet. Namun, TIK terdiri dari peralaatan, layanan dan teknologi seperti: radio, sistem satalit, televisi, video, DVD, telepon, komputer (termasuk jaringan), video konferensi dan juga surat elektronik. Disebagian negara berkembang dimana akses internet dan komputer masih sangat terbatas, maka penggunaan piranti elektronik merupakan solusi yang penting, karena dapat digunakan dalam mencapai tujuan pendidikan, mudah diperoleh kebanyakan orang dan terjangkau.

Perkembangan TIK telah mengubah dunia secara drastis, dan perubahan ini keluar membawa pengaruh signifikan terhadap pranata sosial dan dunia kerja.TIK telah mengubah berbagai pola kehidupan masyarakat, pekerjaan dan cara mereka berinteraksi dengan yang lainnya. Negara yang secara efektif mengembangkan dan menggunakan TIK akan menjadi masyarakat yang berpengetahuan, yang sudah barang tentu masyarakat baru ini akan menciptakan, membagi dan mengkomunikasikan pengetahuan tersebut untuk kemakmuran.

Dalam perspektif UNESCO, fungsi TIK dapat berperan sebagai “alat” dan sebagai “subyek”. Memperkenalkan TIK dalam pendidikan/pembelajaran sebagai “alat” akan membuat informasi semakin cepat diakses, lebih murah dan lebih mudah. Dalam hal tertentu TIK di dunia pendidikan dapat membuat pendidikan lebih muda dijangkau, meningkatkan kualitas pendidikn, dan sebagai alat yang efektif dalam mengelola pendidikan. Sedangkan memperkenalkan TIK sebagai subyek dalam pembelajaran berarti ICT sebagai bagian yang vital untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan membentuk keterampilan.

Integrasi TIK dalam pendidikan, UNESCO memaparkan, bahwa akses dan keterjangkauan pendidikan terhadap TIK akan mampu membuat pendidikan lebih baik, karena akses terhadap informasi meningkat, memungkian akses yang lebih tinggi terhadap pendidikan, memungkinkan belajar dimana saja dan kapan saja, dan mempertahankan belajar sepanjang hayat. Peran TIK dalam pendidikan sangat penting karena TK mampu meningkatkan kualitas pendidikan, karena tik mampu meningkatkan motivasi siswa, TIK mampu membuat belajar siswa lebih pribadi, TIK mampu meningkatkan pembelajaran, TIK mampu memberikan umpan balik dan penguatan, TIK mampu meningkatkan kualitas pengajaran dan TIK mampu memperkaya proses mengajar.

Disamping itu TIK merupakan alat pengelolaan yang efektif. Efektifnya Tik dalam pengelolaan penddikan meliputi dua aspek, yaitu: 1) menghemat perencanaan dan sistem penyampaian dan 2) memfasilitasi pengambil kebijakan dan pengelola pendidikan. Oleh karena itu TIK dalam pendidikan harus dipahami secara menyeluruh termasuk tahapan-tahapan adopsi TIK dalam pendidikan. Unesco sendiri telah membuat tahapan TIK dalam pendidikan, seperti tersaji pada gambar 1. Unesco juga mengingatkan bahwa tantangan TIK jika di implementasikan di dunia pendidikan adalah kapabilitas, koneksi, akses, konten dan kurikulum.

 

 

Gambar 1. Tahapan TIK dalam Pendidikan ( Unesco Bangkok Elearning series on ICT in education)

Teknologi dengan dimensi teknologi lunak dan teknologi keras menjadi bagian integral dari proses pembelajaran di abad mendatang. Integrasi teknologi kedalam proses disamping melibatkan berbagai komponen seperti: orang, isi ajaran, media atau bahan ajar, peralatan, teknik dan lingkungan, juga dipengaruhi oleh suatu kebijakan. Kebijakan para pengambil keputusan untuk mengadakan suatu program pengembangan profesi berkelanjutan yang jelas dan terarah juga menjadi bagian terpenting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini harus diasari, karena belajar sejatinya ada proses interaksi antara peserta didik, pendidik dan lingkungan ( UU No 20 Tahun 2003)

3.2     Mengapa mengintegrasikan Teknologi

Teknologi sudah digunakan oleh manusia di dunia ini sedari teknologi sangat sederhana sampai teknologi sangat canggih. Khususnya di dunia pendidikan teknologi dikaji dan diperbaharui untuk melahirkan cara-cara terbaik menanangani masalah-masalah. Pada awalnya teknologi untuk pendidikan digambarkan sebagai piranti hasil teknologi yang ada diluar kontek pendidikan dan akan digunakan di dunia pendidikan. Teknologi dalam pendidikan adalah dimensi lain, dimana teknologi (alat dan proses) telah masuk kedalam proses pembelajaran serta teknologi dari pendidikan memuat kerangka konseptual yang berisi preskripsi untuk mewujudkan kualitas pendidikan            ( Ellington, 1984).

Alasan penggunaan teknologi berdasarkan data empiris adalah: 1) mempengaruhi unjuk kerja akademis peserta didik; 2) menbangun keterampilan berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah; 3) meningkatkan motivasi, minat dan sikap peserta didik terhadap belajar; 4) membantu peserta didik untuk menyiapkan dirinya di tempat kerja; dan 5) dibutuhkan bagi peserta didik dengan kemampuan adopsi belajar yang rendah serta gangguan-gangguan lainnya (Roblyer, M. D., & Doering, A.H. 2009). Lebih lanjut Roblyer memaparkan bahwa rasionalitas pemanfaatant teknologi digaris bawahi untuk meningkatkan motivasi, memperkaya metode pembelajaran, meningkatkan produktifitas dan melatih keterampilan peserta didik untuk memanfaatkan informasi era digital.

3.3     Dengan cara Bagaimana Teknologi Bekerja dengan Baik?

Menurut Roblyer dan Doering (2009) teknologi menjunjukkan manfaat terbaiknya jika, 1) menyokong secara langsung kurikulum; 2) memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkolaborasi; 3) menyesuaikan pengalaman dan kemampuan awal peserta didik, memberikan umpan balik dari dan oleh peserta didik ke pendidik tentang kemajuan belajar peserta didik; 4) dipraktekan di kelas setiap hari; 5) memberikan ruang bagi prakarsa anak didik untuk memperluas pengalaman belajarnya dan 6) teknologi mendapat dukungan dari anak didik, guru, pengambil kebijakan, komunitas dan pengelola pendidikan itu sendiri.

3.4     Model Integrasi

            Integrasi teknologi di dunia pendidikan tidaklah menyasar pada satu obyek yang tunggal, melainkan integrasi harus melibatkan pendidik, peserta didik, pengelola sekolah dan staf pengelola pendidikan. Pendidik dengan peran stategis harus lebih awal membudayakan teknologi dalam proses profesinya. Integrasi teknologi bagi pendidik (guru) seperti direkomendasikan oleh Badan Standar Nasional Teknologi untuk Pendidikan (ISTE, 2007) bahwa guru harus memiliki kompetensi, dalam hal: 1) guru harus mampu memfasilitasi dan menginspirasi kreatifitas peserta didik; 2) guru harus mampu merancang dan mengembangkan pengalaman belajar era digital lengkap dengan metode asesmennya; 3) guru harus mampu menjadi pioner model belajar era digital; 4) guru harus mampu mempromosikan teknik teknik integrasi teknologi yang terbaik dan 5) guru harus senantiasa mengembangkan sikap profesionalisme dan kepemimpinan.

Terkait dengan paparan diatas maka, model integrasi teknologi dalam pembelajaran harus secara kuat menyertakan landasan teori belajar dan bagaimana anak didik belajar. Agr Integrasi teknologi sukses maka beberapa hal yang esensi adalah: 1) integrasi dilandasi oleh teori belajar; 2) mengindentifikasi kelemahan dan kekuatan teknologi; 3) integrasi mengacu pada model yang handal dan 4) integrasi harus berada pada kondisi yang ideal.

4. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Berdasarkan analisis situasi dari dua sekolah seperti yang telah dipaparkan diatas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut.

  • Sekolah belum memahami bagaimana mengintegrasikan TIK kedalam kurikulum
  • Sekolah belum memiliki panduan integrasi TIK dalam Pembelajaran
  • Sekolah belum memiliki standar layanan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran
  • Guru belum memiliki pengetahuan akan model integrasi TIK dalam Pembelajaran
  • Guru belum memahami bagaimana merumuskan rencana pembelajaran,
  • Guru belum memahami bagaimana menyusun standar layanan yang mengintegrasikan TIK
  • Guru belum memahami bagaimana membuat Garis Besar Isi Media;
  • Guru belum memahami cara membuat protipe media atau bahan ajar

5. Tujuan Kegiatan

Terkait dengan masalah yang digambarkan diatas, maka tujuan sekaligus sebagai target luaran dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut.

  • Kepala sekolah, guru dan staf laboran sekolah memahami konsepsi integrasi TIK
  • Sekolah memiliki dokumen panduan integrasi TIK
  • Sekolah memilki dokumen standar layanan integrasi TIK
  • Pendidik mengetahui model-model dalam Integrasi TIK
  • Pendidik mampu merancang rencana pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, Garis Besar Isi Media (GBIM) dan rancangan prototipe media atau bahan ajar.

 

  1. 6. Manfaat kegiatan

Program kegiatan yang dilaksanakan ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut.

5.1 Bagi Guru dan sekolah

  1. Mendapat kesempatan belajar cara mengajar yang mengintegrasikan TIK;
  2. Memperoleh gambaran cara terbaik mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran;
  3. Menyokong kurikulum sekolah dan
  4. Meningkatkan akreditas, akuntabilitas dan daya saing sekolah

 

5.2 Bagi Institusi Pelaksana P2M

  1. Dapat belajar dengan kemungkinan temuan baru dalam proses sharing selama pelatihan;
  2. Memperoleh rekaman data untuk kajian lebih lanjut; dan
  3. Menyempurnakan program pelatihan di masa mendatang.

 

5.4 Bagi Anak

  1. memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkolaborasi dengan piranti teknologi piranti;
  2. menyesuaikan pengalaman dan kemampuan awal peserta didik;
  3. memberikan ruang bagi prakarsa anak didik untuk memperluas pengalaman belajarnya;
  4. menbangun keterampilan berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah;
  5. meningkatkan motivasi, minat dan sikap peserta didik terhadap belajar dan
  6. membantu peserta didik untuk menyiapkan dirinya di tempat kerja

7. Khalayak Sasaran Strategis

Sasaran kegiatan ini adalah dua orang kepala sekolah atau wakil kepala sekolah, 15 orang guru dan 5 orang staf laboran dari sekolah SMP Negeri 2 Singaraja dan SMP Negeri 1 Sukasada

8. Metoda Pelaksanaan

Kerangka Pemecahan Masalah

Tujuan yang diangkat dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah menyiapkan pengelola sekolah, guru dan staf bagaimana mengintegrasikan TIK di lingkungan masing-masing. Oleh karena itu, kerangka pemecahan masalah sebagai berikut.

  • Menetapkan jumlah peserta pelatihan.
  • Memberikan materi pelatihan integrasi TIK dalam pembelajaran
  • Memberi kesempatan kepada guru untuk berlatih merancang dan menerapkan langkah-langkah integrasi TIK

 

  1. Metoda Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan Pengabdian Masyarakat (P2M) yang dilakukan menggunakan metode berbentuk pelatihan melalui ceramah dan demonstrasi (praktek) di kelas melalui tahapan seperti berikut.

  • Pada awal kegiatan, para peserta akan diberikan teori-teori pendukung yang berkaitan dengan aspek-aspek yang akan dilatihkan.
  • Peserta berlatih atau melakukan praktek secara mandiri atau berkelompok untuk berlatih membuat dokumen standar layanan, rencana pembelajaran, garis besar isi media (GBIM) dan mengembangkan protipe media atau bahan ajar
  • Peserta pelatihan membuat laporan repleksi dalam menerapkan model integrasi TIK

 

Untuk melaksanakan kegiatan tersebut digunakan beberapa metode pelatihan, yaitu:

  1.    Metode Ceramah

Metode ceramah dipilih untuk memberikan penjelasan tentang konsepsi Integrasi

  1.    Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab sangat penting bagi para peserta pelatihan, baik di saat menerima penjelasan tentang integrasi TIK

  1.  Metode Praktek

Metode praktek selama pelatihan sangat penting untuk menggali pemikiran-pemikiran yang konstruktif sebagai pembanding dari model yang dilatihkan.

9. Rancangan Evaluasi

Untuk melihat keberhasilan pelaksanaan kegiatan perlu diadakan evaluasi. Evaluasi yang dilaksanakan dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut.

  1. Evaluasi program, dilakukan sebelum dan setelah kegiatan dilaksanakan. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui apakah program kegiatan sudah sesuai dengan tujuan yang akan dilaksanakan.
  2. Evaluasi proses, dilakukan pada saat kegiatan dilaksanakan. Aspek yang dievaluasi adalah kehadiran dan aktivitas peserta dalam mengikuti pelatihan. Keberhasilan dapat dilihat dari kehadiran peserta yang mencapai lebih dari 85% dan aktivitasnya selama kegiatan tinggi.
  3. Evaluasi hasil, dilaksanakan pada akhir kegiatan. Aspek yang dievaluasi adalah produk dokumen GBIM dan Prototipe media atau bahan ajar.

Secara spesifik aspek, teknik, instrumen serta kriteria evaluasi yang dilakukan dapat disajikan dalam tabel berikut.

 

Tabel 2.   Rancangan Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan

No Aspek Evaluasi Teknik Instrumen Kriteria
1 Program Kuisioner Angket Kesesuaian dengan tujuan
2 Proses pelaksanaan Observasi
  1. Daftar hadir peserta
  2.      Lembar observasi
  3. Kehadiran lebih dari 85%
  4. Aktivitas     peserta dalam kegiatan tinggi
3 Hasil Pelaksanaan

(Dokumen GBIM dan prototipe Media

Penugasan Rubrik penilaian Peserta mampu menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: