Mengasah profesional guru melalui ajang lomba pengembangan bahan ajar


Juara pengembangan bahan ajar dikpora denpasar 2014Lomba pengembangan ajar untuk guru se kota Denpasar kali ini telah memasuki tahun ke empat semenjak untuk kali pertama diselenggarakan di tahun 2011.

Seperti diketahui di dalam rencana strategis Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dinyatakan bahwa misi Depdiknas adalah mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia cerdas komprehensif dan kompetitif dengan melaksanakan misi pendidikan nasional (Depdiknas, 2006:4).

Untuk mewujudkan rencana strategis Depdiknas tersebut, telah dirumuskan “tiga pilar kebijakan dan strategi pembangunan pendidikan nasional yang meliputi: (1) pemerataan dan perluasan akses; (2) peningkatan mutu, relevansi dan daya saing; (3) penguatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik” (Depdiknas, 2006:6).

Kemudian, untuk mewujudkan tiga pilar kebijakan dan strategi pembangunan pendidikan nasional tersebut, telah dicanangkan program-program stratetegis untuk diimplementasikan di daerah, khususnya pada lembaga-lembaga yang mengemban tugas pokok bidang pendidikan seperti: Dinas Pendidikan dan satuan-satuan pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs), Sekolah Menengah Atas (SMA/MA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), serta perguruan tinggi (PT).

Hampir seluruh program yang dilaksanakan di sekolah, khusus program pembelajaran ditangani oleh guru. Ini berarti bahwa guru memegang peran yang penting yang strategis dalam mewujudkan tujuan dan misi pendidikan nasional.

Untuk mewujudkan pendidikan bermutu yang relevan dengan kebutuhan lapangan/masyarakat dan memiliki daya saing tinggi, maka guru dituntut mampu melakukan proses pembelajaran yang bermutu dan senantiasa mengkaitkan (kontekstual) dengan tuntutan lingkungan masyarakat tempat anak didik tersebut berada.

Oleh karenannya, seorang guru dituntut mampu merancang pembelajaran (rencana pelaksanaan pembelajaran/RPP) yang dilengkapi dengan atau berbasis multimedia yang memadai sesuai konteks lingkungan di mana sekolah itu berada. Kegiatan pembelajaran yang ditunjang dengan multimedia yang relevan diyakini dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik secara optimal.

Bertolak dari dasar pikir tersebut, maka kegiatan mencipta dan merancang media pembelajaran bagi guru-guru merupakan kebutuhan yang mendesak dan segera memerlukan penanganan.

Terkait dengan itu, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar merasa terpanggil dan bertanggungjawab melakukan pemberdayaan guru dengan cara mengadakan lomba pengembangan bahan ajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berbasis kompetensi dalam rangka mendorong dan menumbuh-kembangkan kreativitas guru dibidang perancangan (desain), pengembangan (development), pemanfaatan (utilization), pengelolaan(management) dan penilaian (evaluation) multimedia pembelajaran.

Salah satu dari tuntutan bagi guru sebagaimana disebutkan di atas adalah mampu membuat dan memilih media pembelajaran yang tepat. Seorang guru, disamping mampu memilih media pembelajaran, idealnya juga mampu bersinergi dan bekerja sama dengan teknolog pembelajaran (sarjana teknologi pendidikan/pembelajaran) dalam mengembangkan bahan ajar menjadi media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

M.David Merril seorang profesor Teknologi Pendidikan dari Amerika mangatakan” selain strategi instruksional yang lengkap selain menampilkan presentasi (materi) juga harus menampilkan latihan dan petunjuk (leaner guidance).Dengan demikian jika media pembelajaran hanya menampilkan presetasi saja tidak bernilai instruksional.

Oleh karena itu, pengembangan bahan ajar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari desain instruksional. Media pembelajaran disamping menarik juga harus dirancang menurut sistem desain yang mampu mengoptimalkan modalitas dan karakteristik siswa dan ini merupakan keharusan agar proses pembelajaran tidak berlangsung dengan menjemukan.

Bahan ajar yang didefinisikan sebagai bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran, menuntut kemampuan seorang guru untuk melakukan proses pembelajaran yang dapat meningkatkan daya tarik siswa sehingga proses dan hasil pembelajaran dapat dicapai optimal.

Untuk mencapai hal ini, guru dituntut bersikap kreativitas dan inovatif. Kreativitas guru dalam bersinergi dengan teknolog pembelajaran di era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sangat dimungkinkan untuk mengemas bahan ajar dalam format digital yang interaktif dengan fasilitas dukungan multimedia.

Salah satunya adalah melalui pengembangan proses pembelajaran yang inovatif dengan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information Communication and Technology (ICT). Inovasi bahan ajar/media pembelajaran berbasis TIK yang dimaksud adalah bentuk atau model pembelajaran yang merupakan hasil dari inovasi dan pengembangan bahan ajar menjadi media pembelajaran yang menitik beratkan pada penggunaan komputer.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: