I want peace


seminggu yang lalu, rabu 24 April 2013, kalimat I want peace menjadi penting bagi Mr. Ayodya dari Thailand,dikala membagi pengalamannya di ruang seminar rektorat Undiksha.

Saat mulai seminar Mr. Ayodya mengajukan pertanyaan mengelitik yakni: mengapa kita tidak pernah merasa damai?

lihatlah di sekeliling kita?
Ada demo besar-besaran
ada kerusuhan dimana-mana
ada peperangan di beberapa lokasi
ada gerakan separatis di beberapa daerah
ada korupsi meraja lela
ada perkelahian pelajar
ada perkelahian anak dengan orang tua
ada konflik di perguruan tinggi
dan banyak lagi…….

kenapa ini bisa terjadi…….

Apakah karakter sudah demikian parah?
Apakah pendidikan selama ini telah gagal membentuk manusia yang berbudi pekerti?
Apakah Pancasila telah dilupkan?
Apakah sarjana lulusan PT tidak memiliki karakter?

Peserta bengong….pura-pura berpikir serius, maklum yang hadir ada profesor, dosen dan guru-guru!
Malu kalo tidak akting berpikir serius……

Dalam hati, hari gini ngomong karakter……bosan dan bosan.
Bosan karena pelaksanaan budi pekerti yang dipelajari, kendati teorinya mengalahkan manisnya madu 1000 persen, pelaksanaannya tidak tampak sama sekali di negeri ini.

Malahan lebih parah…..

Mr. Ayodya mungkin heran dengan keseriusan peserta untuk berpikir dan berpikir…..hanya berpikir.
Mr. Ayodya lalu mungkin bosan dengan ketiada jawaban dari peserta. Suara lantang dan menghentak menyuruh peserta melihat slide power poinnya.

Kaget!
setelah melihat powepointnya hanya ada gambar bunga dan simbol jantung

Dibawahnya tertulis
—————————
I
Want
Peace
—————————–
Lalu, Mr Ayodya melanjutkan lagi. Katanya, yang menyebabkan kita tidak pernah bisa berdamai dimuka dunia ini adalah karena kita tidak pernah lupa menggunakan kata I=saya dan want=keinginan.

I adalah bahasa inggris yang dalam bahasa Indonesia berarti aku. Aku adalah ego itu sendiri. Jika keakuan atau ego ini masih belum dilumpuhkan maka ego inilah menguasai kita, begitu katanya!

ego untuk menang sendiri
ego untuk memiliki lebih banyak
ego untuk merasa benar sendiri
ego inilah yang menjadi awal dari ketidak damaian itu.

berikutnya adalah kata want atau keinginan.
Keinginan inilah yang menyuburkan tumbuhnya EGO.

Ingin kaya, ego untuk memonopoli usaha
ingin cantik, adalah keegoan untuk tidak mensyukuri
ingin dihormati, ego dinaikkan
ingin disegani, ego dipergunakan untuk mengkerdilkan yang lain

Begitu banyak dampak dari penggunaan kata “saya ingin ini, maka Mr. Ayodya menyarankan untuk mencoret huruf I dan want dalam setiap kesempatan sehingga tinggal PEACE nya saja.

Sederhana, hilangkan I dan want jika ingin DAMAI..

hilangkan keegoan,
hilangkan kenginan untuk menang sendiri,
hilangkan keinginan untuk merasa benar sendiri,
hilangkan keinginan untuk memiliki yang bukan menjadi hak
hilangkan keinginan untuk berpura-pura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: