Google Basa Bali, alternatif sumber belajar Bahasa Bali?


Setidaknya, bulan belakangan ini kalau kita mengetikkan http://www.google.co.id pada address bar, maka akan muncul halaman Google dengan alternatif pemilihan bahasa tampilan web. Suatu hal yang baru adalah tersedia dalam Basa Bali. Ini tidak terduga sebelumnya, dan perusahaan sekelas Google memilih Basa Bali setelah Basa Jawa merupakan hal yang tidak main-main. Mungkin ada beberapa pertimbangan yang sampai karya kreatif ini ada. Terlepas dari siapa-siapa yang berjasa, ini adalah proses yang telah di lewati. Sehingga, patut di diberikan apresiasi.

okacapdua

Ketika mencoba dengan beberapa halaman dengan mengklik Basa Bali, maka pada side bar atas teksnya sudah berubah. Pada sidebar akan kita temukan kata “Selehin” sebagai  padanan kata  dari  search, telusuri dan jika di klik bahasa jawa, telusuri masih menggunakan kata search.

Masih mencoba dengan mengetikkan ‘ satua bali siap selem ‘ pada teks box selehin, google basa bali memerlukan  waktu 0,18 detik untuk menampilkan 1.220 hasil pencarian dengan keyword satua bali siap selem.

Jika pada pada sidebar diklik modus versi gambarnya, maka google juga menampilkan gambar-gambar yang ada hubungannya dengan keyword satu bali siap selem.

Dari hal kecil ini, dapat dikatakan bahwa Teknologi jaringan, web dan tentunya  pemikiran untuk melestarikan dengan menyebarkan luaskan konten bahasa bali dengan jangkauan yang sangat luas dalam kecepetan detik suatu hal yang tidak dapat dinikmati sebelum tahun 1995, saat awal-awal internet mulai terngiang di Indonesia.

Sehingga dalam belajar Basa Bali, sudah mulai terjadi pergeseran dan perubahan paradigma. Pertanyaan yang diajukan adalah: Apakah masih guru sebagai pusat dan sumber belajar basa Bali?

Ketika anak-anak jaman sekarang lebih mengenal bahasa Inggris dari bahasa Bali, terkadang bahasa bali ke nomor sekian terutama di perkotaan yang diucapkan tidak jarang, tidak diucapkan secara fasis dalam kehidupan sehari-hari. Dikalangan orang tuapun, ketika ditanya basa bali alus, untuk menjawab Pekerjaan Rumah si anak, tidak jarang dibuat kelimpungan.

Keterbatasan kita, baik sebagai orang tua untuk mengakses sumber belajar untuk sia anak, masih kerap mengalami kendala yang berarti. Buku-buku bahasa Bali tidak selalu ada, orang tua yang enggan menggunakan bahasa alus dalam kehidupan sehari-hari juga semakin banyak. Sehingga basa bali buat anak, ibaratnya basa asing.

Ketika anak belajar, maka setidaknya ia memerlukan sumber belajar. kalau jaman dulu kita ingin belajar berhitung atau ilmu bumi, maka satu-satunya sumber belajar adalah kita pergi kesekolah dan guru sebagai pusat dalam sumber belajar anak. Pusat artinya kehadiran guru dalam proses belajar adalah mutlak. Ketika belum ada buku teks, keberadaan guru bisa mengajari kita menjadi tahu.

Namun sekarang, pergeseran ini telah mulai kita rasakan dan paradigmapun sudah berubah. Orang tua, guru dan dosen sudah tidak lagi bisa dikatakan sebagai satu-satunya sumber belajar.

Media dan teknologi seperti internet, pesan-pesan pembelajaran telah di letakkan pada berbagai sistem simbol. Sistem dimbol yang diletakaan pada media dan teknologi dinamis seperti internet sudah mengalahkan dari sisi keluasan dan kedalaman pesan-pesan pembelajaran itu sendiri.

Artinya, si okacapempatanak dengan sedikit keterampilan untuk mengakses internet, maka mereka akan menemukan sumber-sumber belajar yang tidak dipikirkan sebelumnya. Hanya dengan komputer atau laptop bahkan tablet yang ada di rumah mereka, sia anak akan mampu mencari informasi dan sumber belajar lain. Telepas dari dampak negatif dan positif media dan teknologi, setidaknya perkembangan saat ini telah memberikan keluasan yang luasa bisa bagi anak untuk mengakses informasi berupa pesan-pesan belajar.

Dengan koneksi internet dan pendampingan yang cukup pada si anak, maka anak merasakan bahwa betapa luasnya informasi yang ada. Si anak mungkin mulai sadar bahwa sumber belajar itu tidak hanya guru, orang tua, lingkungan dan sebagainya.

Inilah pergeseran yang akan terjadi, dan paradigma belajar pun berubah karena hal ini. Pergeseran dari teaching centred ke student centred memang lagi didengung-dengungkan. Sebenarnya bukan pada berpusat pada guru atau siswa, yang penting sekali adalah bagaimana lingkungan ( orang tua, guru, dosen dan lingkungan) menyadari bahwa anak-anak membutuhkan benar-benar apa yang mereka butuhkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: