Ikutan Belajar “Gaya Jepang”


Pengalaman ber-lesson study di jurusan Teknologi Pendidikan -FIP Undiksha.

INOVASI PEMBELAJARAN DAN PEMBINAAN PROFESI PENDIDIK MELALUI LESSON STUDY

(Uji coba pada mata kuliah Pengelolaan Citra)

Oleh

Gde Putu Arya Oka

Jurusan Teknologi Pendidikan

Disampaikan pada Diseminasi Lesson Study FIP Undiksha tanggal 17-18 Desember 2012

ABSTRAK

 

Artikel ini bertujuan melaporkan pengalamaan pelaksanaan lesson study yang telah dilaksanakan di jurusan Teknologi Pendidkan, Fakultas Ilmu Pendidikan, universitas Pendidikan Ganesha.  Lesson study diuji coba pada mata kuliah pengelolaan citra. Lesson study dilaksanakan selama 4 kali pertemuan dengan tahapan plan, do dan see. Data proses pembelajaran dikumpulkan dengan lembar observasi. Dari uji coba lesson study memberikan gambaran sebagai berikut: 91 % siswa telah aktif dalam proses belajar, hanya 22% mahasiswa kurang serius mengikuti pembelajaran, 90 % mahasiswa telah memperlihatkan keaktifannya, 85% mahasiswa memperlihatkan keantusiasan dan keceriaan selama proses pembelajaran sebesar 75 %. Sehingga, amanat proses pembelajaran sesuai standar proses yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi telah bisa diwujudkan dalam tingkat yang baik.

ABSTRACT

This article aims to report implementation of lesson study that has been conducted in the Department of Technology of Education, Faculty of Education, Ganesha University of Education. Lesson study tested for Pengelolaan Citra course. Lesson study conducted over four-cycles with the stage of plan, do and see. Data collected by the learning process observation sheet. From the trial lesson study gives an overview of the following: 91% of students have been active in the learning process, only 22% of students attend less serious learning, 90% of students have demonstrated its activity, 85% of students showed sight of people enthusiastic and fun during the learning process by 75%. Thus, the mandate of the learning process according to the standard process is interactive, inspiring, fun, challenging and motivating could have realized in a good rate.

Kata kunci : lesson study, profesi pendidik, teknologi pendidika

A.  Pendahuluan

IMG_8731Duffy & Cunningham (1996: 171 dalam Richey & Klein (2007: 5) mengingatkan bahwa, And today, there is a great deal of interest in the view that “(1) learning is an active process of contructing rather than acquiring knowledge and (2) instruction is process of supporting that construction rather than communication of Knowledge”. Belajar sejatinya adalah proses yang aktif untuk membangun pengetahuan ketimbang mentrasfernya, dan pembelajaran itu sendiri adalah suatu proses dan upaya untuk mendukung pembangunan pengetahuan itu, agaknya telah menjadi kesepatan dan pandangan hari ini dan mungkin dimasa mendatang. Upaya yang paling baik untuk mewujudkan pembelajaran itu adalah berakar dari teori pembelajaran (Reigeluth, 1983; Richey, 1986 dalam Richey & Klein (2007: 5). Penelitian-penelitian tentang teori belajar, pembelajaran dan psikologi telah berkontribusi  untuk meletakkan dasar praktek pada: (1) bagaimana proses peserta didik belajar, (2) belajar bagaimana mengkontektualkans dan (3) strategi untuk belajar itu sendiri (Richey & Klein (2007: 4)

Terkait dengan usaha untuk memberi kesempatan yang lebih banyak kepada peserta didik dalam membangun pengetahuan, melalui pengalaman belajar seiring dengan pendekatan student centred,  maka usaha inovatif sangat perlu digali dan segera di implementasikan. Usaha inovatif yang berpeluang untuk mewujudkan proses belajar yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan motivasi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Oleh karenanya, peningkatan profesionalisme dosen harus juga menerapkan strategi-strategi yang baru.

Salah satu strategi peningkatan profesionalisme dosen melalui suatu mekanisme in-service training yang lebih berfokus pada upaya pemberdayaan dosen sesuai dengan kapasitas serta permasalahan yang dihadapinya adalah salah satunya dengan mencoba implementasi lesson study (Sadia, 2008). Lesson study seperti dipaparkan oleh Watanabe (2005: 233) adalah lesson study is a root to innovation, sehingga tidak berlebihan jika lesson study di uji coba di lingkungan jurusan Teknologi Pendidikan.

Lesson Study yang dalam bahasa Jepang disebut Jugyokenkyu adalah bentuk kegiatan yang dilakukan oleh seorang dosen/sekelompok dosen yang bekerja sama dengan orang lain (dosen, dosen mata pelajaran yang sama/ dosen satu tingkat kelas yang sama, atau dosen lainya), merancang kegiatan untuk meningkatkan mutu belajar siswa dari pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru dari perencanaan pembelajaran yang dirancang bersama/sendiri, kemudian di observasi oleh teman guru yang lain dan setelah itu mereka melakukan refleksi bersama atas hasil pengamatan yang baru saja dilakukan.

Lesson study seperti dipaparkan oleh Catherine Lewis and Rebecca Perry, Lesson study is the core form of professional development in Japan, and is often credited for the steady improvement of Japanese elementary instruction (Hashimoto, Tsubota, & Ikeda, 2003; Lewis & Tsuchida, 1997; Stigler & Hiebert, 1999 dalam Lewis, 2003)). Lebih lanjut Lewis menyatakan bahwa Lesson Study merupakan siklus kegiatan kelompok guru yang bekerja bersama dalam menentukan tujuan pembelajaran, melakukan research lesson dan secara berkolaborasi mengamati, mendiskusikan dan memperbaiki pembelajaran tersebut. Oleh sebabnya, Lesson study sebagai suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Sadia, 2008).

Salah satu mata kuliah yang telah dicoba dengan lesson study di tahun 2012 adalah mata kuliah Pengelolaan Citra dengan kompetensi dasar yang di lesson-kan adalah pada KD 8. KD 8 pada mata kuliah ini adalah merancang pesan visual pembelajaran dengan aplikasi grafis berbasis vektor.

B.           Metode

Telah dipaparkan diatas, salah satu mata kuliah yang telah dicoba dengan lesson study di tahun 2012 adalah mata kuliah Pengelolaan Citra dengan kompetensi dasar yang di lesson-kan adalah pada KD 8. KD 8 pada mata kuliah ini adalah merancang pesan visual pembelajaran dengan aplikasi grafis berbasis vektor. Penjabaran tujuan pembelajaran, strategi menampilkan materi, strategi menampilkan latihan menggunakan taksonomi Perfomance-Content matric (P-C Matric) dari  M.David Merrill (1983). Matrik PC ini menghubungkan tingkatan kemampuan dengan jenis isi materi yang dipelajari. Lebih jelas seperti tersaji pada Gambar 1.

Gambar 1. Taksonomi P-C Matrik M.David Merrill.

Sejak mengampu mata kuliah ini dari tahun 2007, taksonomi dalam menentukan tujuan selalu menggunakan taksonomi Bloom versi sebelum revisi. Kendala yang ditemukan selama ini adalah taksonomi Bloom memang belum memberikan prekripsi yang detail tentang bagaimana strategi mencapai tujuan. Atas dasar belum ditemukan preskripsi itu,  tahun 2012 teknik perumusan tujuan pembelajaran mempergunakan taksonomi M.David Merrill yang menurut hemat penulis, taksonomi tersebut telah memiliki preskripsi yang lengkap dan detail. Pada tahun inilah penulis keluar dari kebiasaan dan mencoba inovasi dalam perumusan tujuan. Karena adanya inovasi inilah pembelajaran mata kuliah pengelolaa citra dilaksanakan dengan mengadopsi lesson study. Inovasi ini hampir mirip dengan kisah lesson study dijepang.

Di Jepang, sejak kurang lebih 20 tahun lalu, telah dikembangkan suatu cara sistematis yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kebiasaan tersebut tergambar sebagai berikut. Seorang guru yang mempunyai inovasi pembelajaran, seperti strategi, metode, media, atau sumber belajar yang baru, akan ”membuka” kelasnya bagi sejawat guru untuk berbagi ide atau inovasi tersebut. Selanjutnya beberapa guru tersebut merancang pembelajaran untuk mengimplementasikan ide inovasi tersebut. Tahap berikutnya, salah satu guru disepakati untuk mengimplementasikan rancangan pembelajaran tersebut, sementara guru-guru yang lain mengamati atau mengobservasi proses pembelajaran tersebut. Segera setelah proses pembelajaran berakhir, mereka berdiskusi terkait praktik pembelajaran yang telah dilakukan. Diskusi dimaksudkan untuk menemukan sisi lebih dan kurang dari proses pembelajaran sebagai dasar untuk mengembangkan pembelajaran berikutnya (Mahmudi, 2009)

Berangkat dari sisi inovatif tersebut, maka adaftasi lesson study untuk pembelajaran mata kuliah pengeolaan citra di uji-cobakan. Uji coba lesson study ini mempergunakan pakem-pakem lesson study yang pernah dilaksanakan. Serangkaian langkah-langkah tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap atau kegiatan, yaitu (1) perencanaan (PLAN), yang meliputi aktivitas mengidentifikasi masalah pembelajaran, ide inovasi pembelajaran, dan merancang pembelajaran, (2) pelaksanaan (DO), yakni mengimplementasikan rancangan pembelajaran, dan (3) evaluasi atau refleksi (SEE), yakni mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran. Selanjutnya, berdasarkan hasil evaluasi atau refleksi, dirancang pembelajaran perbaikan. Dengan demikian, tahapan-tahapan tersebut membentuk suatu siklus yang berulang yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2. Skema kegiatan lesson study

Tahapan proses lesson study juga diberikan oleh Stigler dan Hiebert (dalam Baba,2007 dalam Mahmudi, 2009). Mereka mengemukakan tiga tahapan utama dari proses lesson study, yakni persiapan (preparation/plan), pembelajaran (study lesson), dan evaluasi (review session). Tahapan persiapan terdiri atas 3 kegiatan yaitu identifikasi masalah (problem identification), perencanaan kelas (class planning), dan mempersiapkan kembali kelas (consideration of class). Tahap pembelajaran (study lesson) terdiri atas implementasi kelas atau kegiatan pembelajaran (class implementation) dan pelaksanaan pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi (implementation of class based on reconsideration). Sedangkan tahap peninjauan (review session) terdiri atas kegiatan evaluasi kelas dan peninjauan hasil (class evaluation and review of results). Tahapan tersebut merupakan siklus yang secara skematis digambarkan, seperti tersaji pada Gambar 3.

Gambar 3. Proses lesson Study menurut Stigler dan Hiebert (dalam Mahmudi, 2009)

 

Secara umum terdapat tiga langkah kegiatan lesson study, yaitu (1) tahap

perencanaan (Plan), (2) tahap pelaksanaan (Do), dan (3) tahap refleksi (See). Berikut diuraikan masing-masing langkah-langkah tersebut.

1)             Memulai Lesson Study

kr

Langkah pertama untuk memulai lesson study adalah pembentukan kelompok atau tim lesson study. Kelompok dibentuk pada tingkat Fakultas Ilmu Pendidikan. Selanjutnya setiap jurusan di lingkungan FIP juga membentuk team teaching untuk melaksanakan lesson study. Team teaching yang dibentuk di jurusan Teknologi Pendidikan sebanyak dua tim, dimana masing tim terdiri dari 3 orang dosen, dimana seorang dosen melalui sebuah diskusi akan menjadi dosen model

Setelah kelompok terbentuk, selanjutnya dipersiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan. Perangkat pembelajaran dimaksud di antaranya adalah silabus, rencana pembelajaran, lembar kegiatan mahasiswa (LKM) dan handout materi.  Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengambil data untuk kepentingan penelitian atau sebagai dasar untuk melakukan refleksi disiapkan tim induk di tingkat Fakultas. Peralatan lain yang telah disiapkan alat untuk mendokumentasikan kegiatan lesson study.

Setelah semua perangkat pembelajaran, instrumen penelitian, dan perangkat pendukung lainnya disiapkan, selanjutnya memilih salah satu dosen yang akan dijadikan dosen model, yang akan mengimplementasikan rencana pembelajaran yang telah disusun. Dosen model pertama adalah Kadek Suartama dan dosen model kedua adalah Gde Putu Arya Oka.

2)             Tahap Pelaksanaan (Do)

tahap doBerdasarkan rencana pembelajaran yang telah disusun, dosen model melaksanakan pembelajaran di kelas yang telah ditentukan, sementara anggota lain bertindak sebagai observer, yang mengamati proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen penelitian yang telah dikembangkan. Dengan demikian, bersamaan dengan dilaksanakannya proses pembelajaran, dilakukan pengambilan data yang diperlukan unutk kepentingan refleksi. Hal–hal yang perlu mendapat fokus perhatian ketika mengobservasi, menurut Widjajanti (2006 dalam Mahmudi, 2009), di antaranya adalah ketepatan prediksi waktu, pengelolaan kelas, keterlaksanaan silabus, aktivitas mahasiswa, dan ketercapaian tujuan untuk setiap tahap kegiatan pembelajaran. Dalam tahap pelaksanaan lesson study di jurusan TP pengamat telah dibekali dengan beberapa panduan untuk sebelum pengamatan dilaksanakan dan pada waktu pengamatan dan setelah pengamatan.

3)             Kegiatan Refleksi (See)

tahap seeSegera setelah proses pembelajaran berakhir, dilakukan postclass discussion atau kegiatan refleksi. Refleksi diikuti oleh semua anggota kelompok, kegiatan ini dipimpin oleh seorang moderator yang dalam memandu diskusi disertai dengan rambu-rambu. Rambu-rambu ini adalah rambu tetang moderator dan rambu tentang menyampaikan pendapat. Kegiatan refleksi ini dimaksudkan untuk mengkaji hasil pengamatan setiap anggota kelompok dan hasil rekaman proses pembelajaran. Menurut Widjajanti (2006), dengan pemahaman bahwa lesson study adalah forum untuk saling belajar dalam upaya mengembangkan kompetensi masingmasing anggota tim, maka semangat dalam tahap refleksi ini adalah secara bersamasama menemukan solusi untuk masalah yang muncul agar pembelajaran berikutnya dapat dipersiapkan dan dilaksanakan dengan lebih baik. Dengan demikian, perlu dipahami bahwa kegiatan refleksi bukan dimaksudkan untuk menilai kemampuan mengajar dosen model

C.   Hasil dan Pembahasan

1)             Tahap Perencanaan (Plan)

Mata kuliah yang direncanakan dalam lesson study di jurusan TP adalah mata kuliah Pengelolaan Citra, terutama pada kompetensi dasar (KD 8) yakni merancang pesan visual pembelajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran sebelumnya telah di godok oleh team teaching dengan beberapa perbaikan dari draf RPP awal. Pelaksanaan KD 9 direncanakan dalam lesson study selama empat kali pertemuan. Dengan demikian RPP yang didiskusikan sejumlah 4 buah RPP..

Hasil monitoring dari beberapa pengamat selama tahap plan sebelum pelaksanaan lesson studi seperti terangkum pada Tabel 1.

Tabel 1. Matrik tahap Perencanaan (Plan)

TAHAP PLAN

Kegiatan

Jml

Pertemuan I

Pertemuan II

Pertemuan III

Pertemuan IV Open Lesson

1.Tujuan

2

Hasil isian data lembar monitoring pada tahap Plan dari observer memberikan cek ‘ya” (18) dan  “tidak’ (2). Jadi prosentasenya adalah 18/20x 100=90

Jadi, 90 % dari seluruh kegiatan pada tahap plan sudah dilaksananakan dengan baik. Sisanya 10 % masih memerlukan diskusi yang lebih intensif.

Sedangkan pencapaian 90% belum bisa dikriteriakan.

     
2. RPP

5

       
3.Strategi

2

       
4. Media

1

       
5. Materi

1

       
6. Waktu

1

       
7. Jenis Eval

1

       
8.Instrumens

2

       
9.Lain-lain

5

       
Jumlah

20

       
           

Diskusi pada tahap plan lebih intens menyoroti kearifan loka jika dintegrasikan dalam RPP dan proses pembelajaran. Perlu ada batasan yang memberikan pemahaman konprehensif tentang kearifan lokal dan atribut-atributnya. Sedangkan pada entrepreneurship team teaching berpendapat bahwa jiwa entrepreneurship serta integrasinya dalam RPP dan proses pembelajaran bukan saja diwujudkan dalam batasan produk. Tetapi, yang lebih penting pada tahap awal adalah pembentukan mindset intrepreneur itu sendiri melalui dogma-dogma yang sulit diukur.

2)             Tahap Pelaksanaan (Do)

Open lesson dari KD ini dilaksanakan pada tanggal 5 Juli 2012. Sebelum open lesson dilaksanakan, sebelumnya  lesson study dari KD.8 telak berlangsung  3 kali pertemuan dengan melibatkan pengamat dari  lingkungan/kolega FIP Undiksha. Pelaksanaan lesson study KD 8 mata kuliah pengelolaan Citra dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, periksa Tabel 1.

Tabel 2. Pelaksanaan Lesson Study

Pertemuan

Topik Indikator

Lesson study

Tanggal

I 8.1 Internal Lesson 6 Juni 2012
II 8.1 & 8.2 Internal Lesson 13 Juni 2012
III 8.3 Internal Lesson 18 Juni 2012
IV 8.4 Open Lesson 5 Juli 2012

Hasil isian lembar obervasi tahap do oleh observer pada pelaksanaan lesson study dapat diperiksa seperti tersaji pada Tabel 3.

Tabel 3. Matrik tahap pelaksanaan

TAHAP DO

Kegiatan berkaitan

Jml

Pertemuan I

Pertemuan II

Pertemuan III

Pertemuan IV Open Lesson

1.Perangkat pembelajaran

2

Hasil isian data lembar monitoring pada tahap Plan dari observer memberikan cek ‘ya” (18) dan  “tidak’ (2). Jadi prosentasenya adalah 18/20×100=90.

Jadi, 90 % dari seluruh kegiatan pada tahap plan sudah dilaksananakan dengan baik. Sisanya 10 % masih memerlukan diskusi yang lebih intensif.

Sedangkan pencapaian 90% belum bisa dikriteriakan.

     
2. Dosen model

5

       
3.Mahasiswa

2

       
4. Waktu

1

       
5. Observer

1

       
6. Miskonsepsi

1

   

Hasil isian data lembar monitoring pada tahap Plan dari observer memberikan cek ‘ya” (18) dan  “tidak’ (2). Jadi prosentasenya adalah 18/20x 100=90

Jadi, 90 % dari seluruh kegiatan pada tahap plan sudah dilaksananakan dengan baik. Sisanya 10 % masih memerlukan diskusi yang lebih intensif.

Sedangkan pencapaian 90% belum bisa dikreteriakan.

 
Jumlah

21

       

PROSES PEMBELAJARAN TAHAP DO

Penguasaan materi   3 dari 27 mahasiswa atau 11%, mahasiswa di amati belum terlibat serius dengan topik yang diajarkan
Kegagalan mengikuti pembelajaran   6 dari 27 mahasiswa atau 22%, Kegagalan mengikuti pembelajaran karena mahasiswa mengerjakan aktifitas diluar kontek atau topik.

Setting tempat duduk kurang memberi peluang untuk observasi.Catatan untuk dosen model Kelebihan:

Dosen telah diamati menguasai materi, menggunakan contoh yang dimengerti, humor, mampu memotivasi, menggunakan media yang bagus.

Kekurangan:

Komunikasi perlu ditingkatkan

MOTIVASI MAHASISWA

Keaktifan20Skor 18 atau 90 persen mahasiswa telah belajar aktifKeantusiasan20Skor 17 atau 85 persen mahasiswa antusias mengikuti pembelajarankeceriaan8Skor 6 atau 75 persen mahasiswa dengan ceria mengikuti pembelajaran

3)             Tahap Refleksi (see)

Setelah tahap Do selesai dilaksanakan, maka di lanjutkan dengan tahap refleksi. Pada tahap ini  menurut Ibrohim (2010) anggota kelompok diharapkan berpikir tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Apakah berkeinginan untuk membuat peningkatan agar pembelajaran ini menjadi lebih baik?, apakah akan mengujicobakan di kelas masing-masing?, dan anggota kelompok sudah puas dengan tujuan-tujuan lesson study dan cara kerja kelompok?

Hasil tahap repleksi pelaksanaan lesson study di jurusan Teknologi Pendidikan, seperti tersaji pada Tabel 4.

Tabel 4. Matrik tahap refleksi

TAHAP SEE

Kegiatan

Jml

Pertemuan I

Pertemuan II

Pertemuan III

Pertemuan IV Open Lesson

1.Moderator

4

Dari data lembar isian terlihat sebanyak 15/16 = 93, atau 93 persen tingkat kegiatan refleksi telah dilaksanakan.

     
2. Observer

9

       
3. Lain

3

       
           
Jumlah

16

       

Disamping interpretasi dari isian lembar monitoring, dalam kegiatan repleksi banyak terungkap ha-hal baru yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Pertemuan dengan teman sejawat yang “khusus” atau meluangkan waktu untuk diskusi sangat baik untuk menerima dan melengkapi pengalaman mengajar masing-masing.

4)             Kendala

Setelah melaksanakan lesson study untuk mata kuliah pengelolaan citra, dapat dicatat beberapa kendala yang ditemui dalam pelaksanaan lesson study sebagai berikut:

(1)   Pada tahap perencanaan, sulit menambah intensitas pertemuan membahas RPP, karena jadwal kolega atau teman sejawat biasanya tidak pasti, dan sering berubah-berubah karena ada hal-hal yang mendadak, sehingga mengubah kembali jadwal semula.

(2)   Pada tahap pelaksanaan, memerlukan dukungan dana untuk memperbanyak perangkat pembelajaran yang digunakan. Setting tempat duduk sulit dirubah sehingga menyebabkan sulit untuk obervasi serta kondisi mahasiswa pada saat pelaksanaan sulit diduga

D.  Kesimpulan dan saran

Dari pelaksanaan lesson study mata kuliah pengelolaan citra mulai tahap plan, do dan see,  maka dapat disarikan sebagai berikut:

(1)   Seperti dipaparkan Ibrohim (2010), lesson study bukanlah metode ataupun pendekatan pembelajaran tetapi, model pembinaan khususnya bagi profesi pendidik. Sebagai model karena cirinya adalah adanya langkah-langkah yang sistematis. Namun demikian, berpeluang untuk dimodifikasi. Sehingga yang penting adalah usaha untuk kesinambungan penerapannya untuk memperbaiki siklus-siklus sebelumnya.

(2)   Uji coba pada mata kuliah pengelolaan citra yang mana desain pembelajaran atau skenario pembelajaran berbasis CDT, selama pelaksanaan proses pembelajaran tampak bahwa 91 % siswa telah aktif dalam proses belajar, 22% mahasiswa kurang serius mengikuti pembelajaran, 90% mahasiswa telah menunjukkan keaktifannya, 85% menunjukkan keantusiasan dan 75% keceriaan yang tampak. Sehingga, amanat proses pembelajaran sesuai standar proses yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi telah bisa diwujudkan dalam tingkat yang baik.

(3)   Karena menunjukkan dampak yang baik terhadap proses pembelajaran dan pendidik dari efek in service training, maka kegiatan lesson study perlu diperluas pada mata kuliah yang lain untuk melihat perbandingan dan tingkat keberhasilannya.

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen Ditanaga Depdiknas. 2009. Panduan Penyusunan Proposal: Program Perluasan Dan Penguatan Lesson Study Di LPTK (Lesson Study Dissemination Program For Strengthening Teacher Education In Indonesia – LEDIPSTI).

Ibrohim. 2010. Paduan pelaksanaan lesson study di KKG. Universitas Negeri Malang.

Lewis, C., Perry, R., Hurd, J. 2004. Lesson study is not just about improving a singgle lesson. Its about building pathways for ongoing improvement of instruction. Journal of Educational Leadership, Ferbruari 2004 edition, Association for supervision and curriculum development.

Lewis, C. 2002.  Lesson Study: A Handbook for Teacher-Led Improvement of Instruction. Education Department, Mills College, Oakland CA Url: http://www.lessonresearch.net

Sadia, W. 2008. Lesson Study: Suatu Strategi Peningkatan Profesionalisme Guru. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXXI  Mei 2008.

Richardson, J. 2004. Lesson Study: Teacher Learn How To Improve Instruction. National Staff Development Council. Tersedia pada url:  http://nsdc.org

Richey, R., C. & Klein, J. D. 2007. Design Development and Reseacrh: Methods, Strategies, and Issues. London: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.,Publishers.

Watanabe, T. 2002. Improving Mathematics Teaching and Learning Through Lesson Study, May 20-21, 2005, in Learning cross Boundaries: U.S.-Japan Collaboration in Mathematics,Science and Technology Education. Chicago. The National Science Foundation.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: