Guru, Media dan Teknologi


Salut bagi guru-guru yang ikut lomba menciptakan bahan ajar berbasis kompetensi tahun 2011 yang diselenggarakan oleh UPT. Pengembangan Kurikulum dan Teknologi Pembelajaran (BKKTP) Dikpora Bali.

Presentasi Bahan Ajar berbasis ICT tingkat SD

Lomba saat ini adalah kali kedua yang diselenggarakan oleh BKKTP Dikpora Bali. Berdasarkan dua kali penyelenggaran lomba, periode kali ini masih saja peserta yang terlibat  jauh dari harapan. Namun demikian, masih ada guru-guru yang diluar kesibukannya mengajar, mengurusi administrasi sekolah, mengelola kelas, mengurusi masalah pribadi dan masalah keluarga serta sibuk mengurusi sertifikasi menyempatkan ikut serta lomba menciptakan bahan ajar.

Mungkin menciptakan bahan ajar di beberapa oknum guru tidak perlu, mungkin juga berpendapat bahan ajar (buku) sudah ada, dan  tinggal dibeli, sehingga tidak usah repot-repot membuat bahan ajar.

Dilihat pihak, tengoklah kelas sekarang. Anak-anak cepat bosan, kurang semangat, kadang-kadang mereka mengantuk, menguap ketika guru-guru berceramah didepan kelas. Monoton, membosankan dan itu-itu saja! Kegairahan belajar tidak tampak, interaksi minim, anak tidak merasa tertantang dalam belajar, anak-anak merasa tidak senang dan cepat-cepat ingin bel berbunyi. Ribut dan seakan-akan tidak bisa dikendalikan.

Pertanyaan yang tergiang sebagai bahan repleksi adalah benarkan anak-anak sedang belajar. Jika mereka belajar, kenapa tidak ada perubahan, kendati ada perubahan sedikit sekali. Puaskah kalangan guru melihat perubahan belajar dari mengetes mereka dari sisi kognitif? cukupkah bukti bahwa anak-anak telah belajar dari hasil ulangan yang diberikan.

Jika tidak cukup, apa yang dilakukan? membiarkan mereka seakan-akan sudah belajar sudah cukup baik? Jika John Dewey benar, bahwa pendidikan itu tidak memiliki tujuan, hanya orang-oranglah yang memiliki tujuan.

Belajarpun juka begitu, jika orang-orang yang belajar tidak memiliki tujuan, apakah mereka akan senang mempelajari materi. Apakah mereka juga senang dengan guru-guru mereka? Apakah mereka lalu mendapat manfaat akan materi yang disajikan atau memperoleh manfaat dari buku yang disuruh membaca. Entahlah!

Jika, benar paradigma kontruktivisme di elu-elukan saat ini. Setidaknya paradigma ini haruslah berpihak pada anak-anak. bagaimana caranya? Jelas, undang-undang menyatakan ciptakan suasana belajar yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi (I2M3). Memahami konsep ini mudah, namun tidak mudah untuk mencipatakan proses pembelajaran yang I2M3.

Menciptakan dan menyajikan bahan ajar didepan anak didik yang menarik, menyenangkan, memotivasi, menginspirasi anak-anak, menantang anak-anak untuk berpikir realistik, dan menumbukan interaksi antara anak-anak, guru dan pesan dalam bahan ajar adalah hal kecil yang dilakukan oleh guru-guru yang telah ikut lomba menciptakan bahan ajar.

Tetaplah berkarya, kendati kesibukan bapak/ibu guru seabrek! Anak-anak kita tidak bisa diajar dengan metode kemarin. Ungkapan John Dewey mungkin patut direnungkan.

JIKA HARI INI KITA MENGAJAR ANAK-ANAK DENGAN CARA KEMARIN, SAMA DENGAN MEMBUNUH MASA DEPAN ANAK-ANAK!

bagaimana menurut Anda?

Ditulis dalam Opini. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: