Entrepreneurship


ENTREPRENEUR

ENTREPRENEUR

Keluaran perguruan tinggi seharusya sudah siap untuk bekerja. Kesiapan ini karena dari berbagai disiplin ilmu yang ditempuh selama kurun waktu tertentu sebenarnya sudah dibekali dengan fakta, konsep, prosedur, prinsip yang bukan saja diingat, namun juga siap untuk diimplementasikan.  Kalau sekedar mengingat keilmuan mereka yang sudah pernah di tempuh, merupakan keniscayaan kalau hanya sekedar mengingat saja. Kata kuncinya, ilmu mereka  harus dapat diimplementasikan. Perkara implementasi inilah yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Ketika ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi tidak relevan dengan tuntutan pasar atau kalangan penyedia lapangan kerja, akan menjadikan siginifikansi keilmuan keluaran perguruan tinggi terkesan mubazir. Padahal kita tahu keluaran perguruan tinggi disamping memiliki kompetensi keilmuan, lulusannya juga dapat terserap dengan cepat dipasar kerja. Asumi ini karena Aktor keluaran perguruan tinggi atau perguruan tinggi itu sendiri mengutip tulisan Dr. Ir Ciputra karena 1) perguruan tinggi dengan kampus-kampusnya adalah “terminal utama” generasi muda terdidik untuk menjadi tenaga terdidik, dengan terdidiknya mereka ini diharapkan mampu menjadi warga negara yang mampu mengembangkan diri sendiri secara mandiri, dan akhirnya sejahtera secara ekonomi, 2) Kampus adalah tempat terbaik untuk melakukan pembangunan sumber daya manusia. Faktanya adalah setiap orang datang ke kampus telah memiliki mindset untuk belajar dan mengkonsentrasikan sebagian waktu hidupnya untuk belajar dan meningkatkan kualitas dirinya, dan 3) Kampus memiliki kelompok sumber daya pendidik, ahli peneliti, yang memiliki kemampuan dan komitmen mengembangkan potensi dirinya

Namun, fakta yang dihadapi baik oleh mahasiswa setelah mereka lulus dari peguruan tinggi atau bagi calon pemakai lulusan adalah terjadi mis-kepentingan. Disatu sisi mahasiswa mengharapkan dirinya setelah tamat dapat langsung bisa bekerja, namun disisi lain dunia yang akan menerima mereka tidak memiliki kepentingan untuk menerima tenaga yang tidak profesional. Dua sisi inilah yang semakin lebar, sehingga sangat menjadi persoalan baik oleh mahasiswa itu sendiri, orang tua bahkan pemerintah dengan tanggung jawabnya menjamin dan menyediakan lapangan pekerjaan sesuai amanat Undang-Undang. Dilain kesempatan DR(HC) Ir. Ciputra mengatakan ”Dulu saya berpikir lewat pendidikan sudah cukup untuk membuat Indonesia makmur. Tetapi kenapa hingga sekarang tetap saja kita terbelakang? Ternyata tidak cukup menguasai ilmu yang umum saja. Bangsa ini butuh orang-orang yang sanggup mengubah kotoran menjadi emas. Itu ada dalam spirit kewirausahaan,” kata Ciputra. Lebih lanjut, Menurut Ciputra, kewirausahaan itu bisa diterapkan di semua bidang pekerjaan dan kehidupan. Kewirausahaan juga bisa mengatasi banyak persoalan bangsa, terutama kemiskinan dan pengangguran. Jakob Oetama mengatakan, kewirausahaan bukan berhenti pada persoalan keahlian. ”Kewirausahaan mesti dikembangkan sebagai budaya dalam arti pembentukan sikap dan penanaman nilai-nilai hidup. ”Bangsa ini tidak butuh ornag-orang yang hanya bisa ngomong saja, tetapi butuh orang yang mau bekerja dan berbuat,” ujar Jakob. Situasi yang sama juga dikatakan oleh Sudrajat Rasyid, “semangat kewirausahaan itu mesti bisa jadi karakter atau budaya semua anak bangsa. Karena itu, perlu rekayasa ulang dalam bentuk pendidikan, pelatihan, serta metode mengembangkan kewirausahaan. Antonius Tanan, Presiden UCEC, mengatakan, para peserta dalam TOT Entrepreneurship diharapkan bisa menjadi pengusaha dan menjadi pelatih pendidikan kewirausahaan. Secara terpisah, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, Depdiknas sedang menyusun kurikulum tentang kewirausahaan yang diharapkan selesai akhir Januari 2010 dan dapat dipraktikkan mulai tahun ajaran 2010/2011. ”Ini termasuk program 100 hari,” kata Nuh seusai rapat tingkat menteri hasil Rembuk Nasional 2009 di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. (Kompas, 3 Nopember 2009)

Globalisasi ekonomi dan era informasi mendorong industri menggunakan sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi yang kompeten dan memiliki jiwa kewirausahaan. Akan tetapi tidak setiap lulusan perguruan tinggi memiliki jiwa kewirausahaan seperti yang diinginkan oleh lapangan kerja tersebut. Kenyataan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil lulusan perguruan tinggi yang memiliki jiwa kewirausahaan. Di sisi lain, krisis ekonomi menyebabkan jumlah lapangan kerja tidak tumbuh, dan bahkan berkurang karena bangkrut. Dalam kondisi seperti ini, maka lulusan perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya mampu berperan sebagai pencari kerja tetapi juga harus mampu berperan sebagai pencipta kerja. Keduanya memerlukan jiwa kewirausahaan. Oleh karena itu, agar supaya perguruan tinggi mampu memenuhi tuntutan tersebut, berbagai inovasi diperlukan diantaranya adalah inovasi pembelajaran dalam membangun generasi technopreneurship di era informasi sekarang ini.

Khususnya pada bidang keilmuan Teknologi Pendidikan tawaran akan konsep Edutechnopreneurship adalah penanaman jiwa kewirausahaan pada disiplin ilmu Teknologi Pendidikan. Secara umum istilah yang  dikenal luas adalah Technopreneurship yang merupakan penggabungan dari kata Technology dan Entrepreneurship. Sehingga istilah Technopreneur adalah kewirausahaan berbasis teknologi. Pengertian dan lingkup Teknologi sangat luas, sehingga perlu dibuat secara khusus jiwa kewirausahaan ini haruslah spesifik agar cakupan masalahnya jelas, targetnya dapat diukur dan hasilnya terukur dengan baik. Oleh karena itu berangkat dari istilah yang  umum tersebut, penulis ingin mengekstrak lagi dalam turunan yang spesifik menjadi kewirausahaan berbasis Teknologi Pendidikan atau Edutechnopreneurship sebagai pematangan karakter dan penyiapan mahasiswa Teknologi Pendidikan dalam menghadapai realitas kehidupan yang bermakna.

Edutechnopreneurship adalah konsep yang penjabarannya lebih pada ranah praktis mengingat tidak ada artinya jika suatu konsep tidak dapat dilaksanakan pada usaha penyiapan mahasiswa dalam memasuki dunia kerja ditenga-tengah arus globasisasi dan perdagangan bebas yang telah berjalan di tahun 2010 ini. Teknologi Pendidikan dengan kurikulum yang telah berjalan dalam kelompok mata kuliah Keahlian Berkaya terdapat mata kuliah yang berpeluang untuk diramu dengan ilmu kewirausahaan yaitu mata kuliah Fotografi, sinetron pendidikan, Video Pembelajarn, Pengeloaan Citra dan Multimedia. Kompetensi keilmuan mahasiswa Teknologi Pendidikan dibidang ini sangat perlu karakternya dibangun dengan jiwa kewirausahaan.

Ada suatu pendapat bahwa, saat ini sebagian besar lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih lemah jiwa kewirausahaannya. Sedangkan sebagian kecil yang telah memiliki jiwa kewirausahaan, umumnya karena berasal dari keluarga pengusaha atau dagang. Dalam kenyataan menunjukkan bahwa kewirausahaan adalah merupakan jiwa yang bisa dipelajari dan diajarkan. Seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan umumnya memiliki potensi menjadi pengusaha tetapi bukan jaminan menjadi pengusaha, dan pengusaha umumnya memiliki jiwa kewirausahaan. Proses pembelajaran yang merupakan inkubator usaha baru  berbasis teknologi ini dirancang sebagai usaha untuk mensinergikan teori (20%) dan Praktek (80%) dari berbagai kompetensi bidang ilmu yang diperoleh dalam bidang teknologi & industri. Inkubator usaha baru  ini dijadikan sebagai pusat kegiatan pembelajaran dengan atmosfir model bisnis yang kondusif serta didukung oleh fasilitas laboratorium yang memadai.

Ditulis dalam Opini. Komentar Dinonaktifkan pada Entrepreneurship
%d blogger menyukai ini: