BERPIKIR KREATIF


BERPIKIR KREATIF

 

Saya terhenyak mendengar pernyataan Bapak Inu Kencana salah satu Dosen IPDN yang sekarang kabarnya telah dimutasi ke Depdagri (mungkin karena keberaniannya membongkar aib di institusi tempatnya bertugas) yang menyatakan bahwa ada salah seorang mahasiswi IPDN yang dicabuli seniornya. Begitu disampaikan ke orang tua korban, eh orang tuanya malah mengatakan, “Tidak apa asal anak saya jadi PNS.” Aduh, aduh, betapa empuknya ya kursi PNS itu, pikir saya.

Setelah terhenyak saya jadi ingat pada saat pulang kampung. Karena pada waktu saya menikah tertera di kartu undangan titel ST di belakang nama saya, otomatis mereka pikir dengan gelar kesarjanaan itu saya mudah mencari pekerjaan di sektor formal. Memang sebelum menikah saya bekerja di perusahaan swasta yang bergerak dibidang jasa konstruksi di Denpasar. Tapi sejak menikah dan saya tinggal di Singaraja saya mengundurkan diri dengan alasan ingin mengurus anak dulu. Sekarang anak saya sudah cukup mandiri sehingga tidak ada alasan untuk tidak bekerja. Sering bila saya pulang kampung keluarga suami selalu bertanya,

“Kerja dimana sekarang?”

“Sudah diangkat?”

Saya hanya tersenyum getir dan menjawab, “Belum.”

Karena jawaban saya itu mereka pikir saya hanya bergantung pada suami. Sebenarnya saya ingin menjelaskan bahwa saya sering menulis dan dikirim ke media mengulas tentang bidang ilmu yang saya pelajari waktu kuliah dulu. Niat itu saya urungkan, toh mereka pikir itu bukan bekerja dan tidak menghasilkan uang. Definisi bekerja di mata mereka adalah bekerja di instansi tertentu dan mendapat gaji setiap bulan.

Bekerja di sektor formal sering dijadikan kebanggaan dan bernilai gengsi tinggi. Tak jarang para orang tua sudah menyiapkan dana dalam jumlah besar dan menelusuri jalan belakang untuk ditempuh agar anaknya bisa diterima bekerja di sektor formal bila nanti sudah lulus kuliah. Nilai akademis sudah tidak berlaku lagi dan hanya formalitas saja. Perekrutan itu bak pelelangan suatu barang antik yang bernilai seni tinggi dan sarat nilai historis. Siapa yang berani membayar lebih mahal tentu ia yang mendapatkannya.

Masyarakat juga selalu menuntut pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan. Setelah tersedia sering terjadi ketidaksesuaian antara tenaga yang dibutuhkan dengan keterampilan yang dimiliki si pencari kerja. Fenomena ini akan terus bergulir seperti mengurai benang kusut yang ujung dan pangkalnya tidak pernah ditemukan.

Sejenak saya menghela nafas. Saya ingat lagi waktu saya bekerja dulu. Saya sangat terkungkung oleh rutinitas pekerjaan dan target yang ditetapkan oleh atasan dan perusahaan. Sering membuat saya stress dan akhirnya kondisi tubuh sering naik turun. Lalu saya bandingkan dengan rutinitas saya sekarang. Sungguh berbeda, sekarang saya ditarget oleh diri saya sendiri dan saya bebas berkreatifitas. Karena semakin banyak inspirasi yang saya dapat dari kejadian yang saya alami dan saya amati dari lingkungan sekitar yang saya uraikan lewat tulisan.   

Bukankah untuk sukses tidak harus melalui sektor formal. Dan ukuran sukses tidak melulu diukur dari segi jabatan dan materi saja. Justru banyak yang bekerja di luar sektor formal yang bisa menghidupi dirinya dengan mapan. Lihat saja pengrajin-pengrajin yang ada di daerah seni Gianyar. Mereka tidak kehabisan ide untuk menghasilkan suatu karya seni. Itu karena apa, karena mereka selalu berpikir kreatif, kreatif dan kreatif. Andai saja pikiran itu ada di setiap diri kita tidak akan ada lagi pertanyaan,”Kerja dimana?” tapi “Pekerjaannya apa?”

ditulis AA.IA Shintaningrum KP, ST

dimuat pada Independent News Edisi Minggu 3 Oktober 2008

Ditulis dalam Info. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: