Taman Kota sebagai “LIVING AREA”


TAMAN KOTA SEBAGAI

“ A LIVING AREA “

Bila kita membicarakan suatu daerah yang dikategorikan sebagai kota, yang terbayang di benak sebagian besar orang pastilah “keramaian”. Hilir mudik kendaraan mewah, gedung-gedung tinggi, dan mobilitas penduduknya yang tinggi pula. Lahirnya suatu kota diawali oleh adanya industri yang tumbuh dan berkembang di daerah tersebut. Ibarat dimana ada gula disana ada semut, kotapun menjadi tempat untuk mencari nafkah dan penghidupan yang baru. Maka terjadilah pemusatan penduduk dalam ruang yang terbatas. Dalam jangka waktu yang singkat masalah pengembangan dan pengamanan lingkungan hidup menjadi sangat penting bagi perkotaan.

Industri merupakan salah satu jalan menuju masyarakat sejahtera yang didalamnya terdapat teknologi yang mendukung dan menyebabkannya berkembang. Teknologi berkaitan erat dengan tingkat peradaban manusia. Karenanya peradaban selalu diidentikan dengan hidup yang setingkat lebih maju yaitu kekotaan. Kata peradaban (civilization) dan keadaban (civility) berakar pada kata city yang artinya kota.

Perkembangan ke arah industri tentu memacu masyarakat agar bisa menjadi bagian dari proses industri tersebut. Masyarakat dihadapkan pada suatu pilihan yaitu meninggalkan pertanian yang menjadi sumber penghidupan mereka sebelumnya. Lahan yang semula sebagai lahan terbuka untuk pertanian berubah fungsi menjadi lahan industri. Belum lagi pemusatan dan pertambahan penduduk yang terus meningkat memaksa lahan pertanian juga harus beralih fungsi menjadi pemukiman.

Pertambahan penduduk yang besar yang terpusat di kota-kota menuntut adanya pengadaan sarana dan prasarana serta fasilitas pelayanan guna menunjang kegiatannya. Struktur kotapun tumbuh dan berkembang secara pesat. Disini akan muncul dilema seperti bagaimana memenuhi infrastruktur kebutuhan penduduk kota di atas lahan yang terbatas. Dibalik itu juga terdapat kewajiban manusia melestarikan alam demi kelangsungan hidup anak cucunya nanti.

Perencanaan dan perancangan ruang luar suatu kota adalah alternatif pemecahannya. Dimana aktivitas arsitektur ditantang untuk bertindak sistematis pada area lahan untuk ketepatan penggunaan bagi berbagai kebutuhan masa datang. Masalah ekologi dan ekosistem alam sangat sensitif bagi permasalahan ini untuk bisa sampai pada suatu kebijakan atau tata guna lahan yang memperhatikan keseimbangan kebutuhan pelayanan dan pemeliharaan sumber daya agar mampu menghasilkan suatu karya arsitektur ruang luar yang fungsional dan estetis.

FAKTOR EKOLOGI

Kota-kota di Indonesia baik itu sebagai kota kecil, kota besar maupun kota metropolitan mempunyai karakteristik lingkungan alam yang berbeda-beda. Seperti halnya Bali, ada kota yang terletak di pinggiran pantai seperti Singaraja, ada kota yang terletak di dataran rendah seperti Negara, Tabanan, Denpasar, Gianyar, Semarapura dan Karangasem, dan ada yang di dataran tinggi seperti Bangli. Ada yang dilalui banyak sungai, satu atau dua sungai atau ada yang tidak dilalui sama sekali. Kota dengan curah hujan kurang, sedang, tinggi dan bahkan kering.

Kondisi alam tersebut bisa menjadi potensi pengembangan atau bisa juga menjadi masalah kota. Hal ini tergantung dari tangan terampil pelaksana dan pemegang kebijakan, seperti peraturan tata-kota, peraturan tata-ruang dan tata-tertib penduduk kotanya. Di sisi lain kondisi alam yang mempunyai nilai dan potensi tinggi bila tidak dimanfaatkan dan dikelola secara maksimal akan berdampak buruk bagi lingkungan di masa yang akan datang. Pada setiap pengembangan dan pembangunan kota hal ini hendaknya menjadi perhatian.

Untuk penataan bentuk dan ruang-ruang kota sebagai suatu subsistem kota yang terpadu dan berkesinambungan untuk berbagai fungsi dan kebutuhan, terdapat aspek lain yang juga bisa membimbing perancangan ruang luar. Diantaranya: (1) bentukan geologi suatu kota. Apakah kota tersebut berbentuk dataran, perbukitan, gunung atau lembah. (2) adanya air (sungai), danau, rawa, sumber air, dan sebagainya. (3) letak tepian suatu kota, apakah di pantai, teluk, tanjung, muara sungai, dan sebagainya.

Dari aspek tersebut dapatlah disadari bahwa lokasi dan lahan kota sangat berbeda-beda kondisi geografinya, geologinya, keanekaragaman kehidupan alamnya, latar belakang spesifik terbentuknya lahan, dan lain-lain. Kemudian juga ketidaksamaan sumber air, aliran air, iklim, angin, sinar matahari, dan sebagainya. Semua itu sangat menunjang kehidupan dan kelangsungan hidup suatu kota.

Ruang luar yang direncanakan secara terarah tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan kota akan ruang terbuka sebagai tempat rekreasi kota yang indah juga dapat memberi manfaat bagi keamanan, kesehatan dan kenyamanan suatu kota. Seperti pelestarian lingkungan dan peningkatan kualitas lingkungan kota, keseimbangan ekosistem alam, menjaga permukaan tanah sebagai wadah peresapan air hujan, menjaga stabilitas air tanah dan arus aliran air, menyejukan suhu kota, memperbaiki iklim setempat, mengurangi pencemaran baik udara, air dan kebisingan.

FAKTOR MANUSIA

Tujuan pembangunan di Indonesia adalah menuju masyarakat yang adil dalam kemakmurannya dan makmur dalam keadilannya. Hal ini juga diselaraskan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, sesamanya dan lingkungannya. Makanya dalam mengisi dan berbuat mengisi pembangunan harus senantiasa memperhatikan kualitas dan kelestarian potensi alam dan lingkungan hidupnya.

Negara Indonesia adalah negara yang kaya akan tradisi dan kebudayaan dalam kehidupan sosial daerah. Nilai-nilai yang ada merupakan potensi yang sepatutnya dipelihara dan dimunculkan dalam berkreasi untuk kehidupan termasuk dalam perencanaan dan penataan kota. Maka akan selalu didapat ciri-ciri spesifik masing-masing kota berkat kreatifitas yang diambil dari kehidupan sosialnya. Seperti kota-kota di Bali dengan landmarknya masing-masing. Denpasar dengan patung catur mukanya, Semarapura dengan tugu puputan Klungkung, dan Singaraja dengan patung singanya.

Manusia dengan tingkat peradabannya yang semakin tinggi akan mewujudkannya melalui suatu karya arsitektur, yaitu berupa bangunan. Bangunan-bangunan tersebut terpusat membentuk suatu pola yang nantinya menjadi sebuah kota. Kotalah yang nantinya akan menyelenggarakan, mempertahankan dan menyempurnakan kehidupan sosial manusia agar lebih bermutu. Dengan demikian akan lebih memberikan warna tersendiri pada perencanaan kota. Sejarah telah membuktikan banyak kota-kota di dunia yang namanya masih tersohor hingga kini karena kehidupan sosial masyarakatnya di masa lalu. Seperti Memphis ibu kota Mesir Kuno, Babilon di Mesopotamia, Tyrus di Libanon, dan Sidon di Suriah. Ada juga kota-kota yang peninggalannya masih bisa kita nikmati hingga kini seperti Athena di Yunani, Roma sebagai bekas Kerajaan Romawi, Bagdad yang menjadi pusat Islam di Timur Tengah dan masih banyak lagi.

Masyarakat kota adalah masyarakat heterogen. Pandangannya terhadap kotapun beragam. Secara umum ada dua paham yang mendasari pandangannya. Pertama, golongan ‘locals’ yang berpijak pada emosi, nostalgia dan perasaan pribadi yang menginginkan segala sesuatu yang ada di kota perlu dipertahankan sehingga tidak perlu dirubah. Kedua, golongan ‘cosmopolitans’ yang menginginkan adanya perubahan-perubahan yang cepat terhadap wajah kota agar tampil modern dan internasional. Kedua pandangan ini mempunyai sisi positif dan negatif. Namun usaha mensinkronkannya secara arif dan bijaksana akan membangun dan bisa menampilkan sebuah kota yang indah.

FAKTOR ESTETIKA

Estetika adalah nilai keindahan suatu benda yang bisa dinikmati melalui jiwa. Dalam ilmu filsafat, estetika bisa ditentukan oleh objek dan subjeknya. Teori objektivitas mengatakan bahwa keindahan muncul dari sifat-sifat tertentu dari objek tersebut. Sedangkan teori subjektivitas mengatakan bahwa keindahan muncul bukan karena objek itu sendiri melainkan karena hasil penginderaan dan imajinasi dari pikiran manusia.

Berkaitan dengan nilai estetika suatu kota erat kaitannya dengan kehidupan sosial masyarakat perkotaan. Manusia harus mampu mengimajinasi dan menciptakan kreasi-kreasi dalam merancang ruang luar kotanya. Potensi-potensi alam lingkungan kota yang bernilai seni hendaknya dipelihara dan disajikan sebagai milik kota. Karakteristik estetika kota dapat divisualisasikan dalam berbagai usaha perencanaan dan pembangunan kota.

Estetika adalah persepsi visual yang menempati rangking tertinggi yang bisa ditangkap indera-indera kita. Selebihnya indera kita menangkap dari lingkungannya secara utuh terhadap berbagai segi objek, seperti lahan/tanah, udara, air, cahaya, hayati, objek buatan manusia dan komposisi keseluruhan.

Terhadap lahan/tanah sebagai lahan wajah muka bumi yang didalamnya terdapat berbagai bentukan alam seperti dataran, lembah, jurang, bukit dan gunung. Perasaan estetik juga banyak dipengaruhi oleh kuantitas udara seperti angin, kekotoran udara, kelembaban, kebisingan, kabut, bau-bauan, suara satwa, dan lain sebagainya. Keindahan yang ditimbulkan oleh elemen air banyak ditemui pada ruang luar seperti laut, gelombang laut, sungai, danau, air terjun, rintik air hujan, air kanal, dan sebagainya.

Cahaya matahari memberi kesan indah dalam ruang dan waktu. Adanya cahaya akan memperjelas estetika suatu benda yang ditangkap indera kita. Cahaya bisa berwujud sinar matahari yang baru terbit, siang yang panas, senja, matahari terbenam, cahaya bulan, sorot lampu, permainan cahaya buatan, dan banyak lagi.

Potensi hayati yang berupa keanekaragaman flora dan fauna tidak hanya berfungsi sebagai pelestari lingkungan juga memberi andil yang besar pada estetika ruang luar. Sedangkan objek buatan manusia telah lama dikenal seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti : bangunan, struktur, monumen, patung, lukisan, benda-benda antik, terasering persawahan, dan banyak lagi.

Komposisi keseluruhan dari sekian banyak objek tersebut dirangkai dalam lingkungan kehidupan kita, salah satunya lingkungan kehidupan kota. Kota adalah ruang yang memberi peluang untuk hal “chance of expression” dimana manusia menyalurkan keinginan meniru, daya cipta dan menemukan yang baru. Fenomena ini cukup jelas terlihat dalam cita rasa seperti bangunan, taman, dan gaya hidup. Beragamnya masyarakat yang tinggal di perkotaan menuntut bentuk kebudayaan kota dalam hal penghalusan tingkah laku dan kesopansantunan di atas ruang yang serba terbatas yang mencakup etiket manusia dengan berbagai toleransi terhadap sesama dan mengekang segala nafsu pribadi.

Di lain hal masyarakat kota dihadapkan pada kenyataan akan hidup yang berat dan penuh persaingan. Maka cara berpikir dan bertingkah laku yang tidak terkendali dan jauh dari norma kesopanan selalu mewarnai kehidupan kota. Berdasar pada rasa tak aman tersebut mereka mengembangkan suatu toleransi dan selera terhadap apa-apa yang baru. Muncul ketidakmantapan selera dalam segala hal yang menyangkut gaya hidup.

Di saat ini, kita sedang dan akan berada dalam proses modernisasi yang akan mempengaruhi sikap hidup dan kebudayaan masyarakat pada umumnya. Masyarakat kota akan lebih cepat mengalami proses itu dibandingkan masyarakat pedesaan. Masyarakat kota yang identik dengan masyarakat modern yang mempunyai ciri-ciri seperti memiliki intelektual yang tinggi, produktif, efisien, menghargai waktu, hubungan antar manusia yang lebih lugas (zakeligk), keinginan untuk maju dan berhasil (achievement motivation) dan mandiri. Pasangan-pasangan yang baru menikah akan memebentuk keluarga-keluarga baru dan memisahkan diri dari keluarga besar. Mengecilnya jumlah anggota dalam rumah tangga, disamping mengecilnya juga jumlah anak. Ciri sebuah keluarga sebagai keluarga besar sudah berkurang walaupun ada juga diantara beberapa keluarga yang masih kuat memegang tradisi tersebut.

Kerasnya kehidupan kota tetap saja tidak bisa memungkiri hati kecil manusia sdebagai mahkluk sosial yang perlu bersosialisasi dengan sesama dan lingkungannya. Lahan perumahan yang sempit sering meniadakan ruang bermain bagi anak-anak. Padatnya jadwal kegiatan untuk mencari nafkah menjadi indikasi jarangnya bahkan tidak pernah ada waktu bersosialisasi dengan para tetangga. Untuk itu diperlukan suatu ruang luar sebagai sarana bersosialisasi masyarakat perkotaan yang bisa dijadikan ‘a living area’.

Sebagai ‘a living area’ taman kota adalah tempat rekreasi regional terdekat yang ada di dalam kota. Didalamnya terdapat ruang bermain bagi anak-anak, tempat duduk-duduk melepas kepenatan, dan sebagai tempat berinteraksi dengan sesama penghuni kota yang sama-sama jauh dari keluarga besar masing-masing. Pemanfaatan elemen-elemen perancangan seperti air dalam kolam buatan, tanaman hias, tanaman perindang, lampu hias, dan kursi taman. Penempatan jalan setapak yang berkelok juga bisa diterapkan disini agar tidak terkesan monoton. Sebagai center point bisa ditempatkan landmark kota yang monumental.

Dengan demikian kehidupan kota akan lebih terasa sebagai ruang yang bisa memberi kesegaran yang bisa ditempuh dalam waktu yang singkat dan tidak harus pergi keluar kota. Kebersihan ruang yang diinginkan hendaknya sebuah taman kota bebas dari tujuan dan aktifitas ekonomi karena ini akan berdampak pada kehigienisan suatu ruang luar.

Taman kota adalah satu-satunya ruang luar penetralisir polutan kota. Polutan yang yang berwujud fisik maupun mental. Polutan fisik diantaranya seperti debu, asap kendaraan, kebisingan yang ditimbulkan oleh suara kendaraan, sengatan panas matahari, dan lain-lain. Polutan mental adalah kepenatan yang dirasakan penduduk kota yang dtimbulkan oleh mobilitas penduduk yang tinggi dan oleh polutan fisik tadi.

ditulis oleh AA.IA. Shintaningrum KP, ST. dimuat pada Bali Post edisi 5 Oktober 2008

Ditulis dalam Info. 2 Comments »

2 Tanggapan to “Taman Kota sebagai “LIVING AREA””

  1. 2ty Says:

    Bangus banget… ada g’ Taman seperti itu di negara kita

  2. gdeputu Says:

    ada, ditaman puputan badung, di jantung kota denpasar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: