JAYAPRANA-LAYONSARI :RETORIKA SINKRETIK DI BALIK


Legenda Jaya Prana – Layon Sari lebih dikenal sebagai duka carita kisah percintaan antara dua manusia yang berlainan jenis. Kisahnya yang melegenda sampai sekarang sering menimbulkan pertanyaan di masyarakat. Walau nama tempat dalam cerita masih ada sampai sekarang dan beberapa bukti fisik dan keturunan yang terkait dengan kisah tersebut.

Trah Raja kalianget di Puri sangsi Singapdu

Trah Raja kalianget di Puri sangsi Singapdu

Kisah ini berawal dari adanya kerajaan di Kalianget kira-kira pertengahan abad XVI. Berdasarkan babad Ida I Dewa Kaleran diceritakan bahwa pendiri kerajaan Kalianget adalah Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti yang merupakan putera pertama dari I Dewa Gedong Artha dan cucu dari Ida Sri Agra Samprangan yang merupakan raja yang bertahta di Keraton Samprangan (sebelah timur Gianya sekarang).

Walau sebagai putera pertama, namun Ida I Dewa Kaleran bertekad akan mengabdikan hidupnya dibidang pertahanan dan keamanan (swadhramaning sang ksinatria). Untuk membuktikannya beliau mohon diri pada ayahandanya (Ida I Dewa Gedong Artha) berangkat ke arah tmur laut Bali yaitu daerah Culik dan Tulamben diiringi oleh panjak sebanyak 200 orang dari berbagai wangsa yaitu Pulasari, Pasek, Bendesa, Pande dan para petandakan). Lengkap dengan pusaka leluhur beliau diantaranya pusaka Ki Baan Kau, Ki Kala Rau, Ki Sekar Sandat, Ki Ratu Pande, dan Ki Baru Ngit. Pada waktu itu daerah tersebut dikacau oleh para bajak laut dari Bugis, Sasak, Sumbawa dan Madura. Karena kemenangan beliau, oleh rakyat Culik dinobatkan sebagai raja di Culik. Namun tidak bertahan lama karena sebagai raja bukanlah ambisi beliau. Apalagi terdengan berita bahwa di daerah Songan (di kaki Gunung Batur) diganggu oleh I Banas Pati Raja yang bermukim di hutan Aa. Berkat jasa beliau pulalah I Banas Pati Raja bisa dikalahkan sehingga daerah Songan menjadi aman. Beliau pun diberi gelar “Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti”.

Kemudian terdengar kabar bahwa di daerah barat laut Bali yang merupakan daerah hutan pandan dihuni oleh makhluk halus sehingga masyarakat disana sering dilanda ketakutan. Karena rasa kemanusiaan berangkatlah beliau I Dewa Kaleran Pemayun Sakti menuju hutan tersebut. Di tengah perjalanan sampai di suatu bukit (di sebelah desa Benyah sekarang), beliau bersama pengiringnya beristirahat menikmati perbekalan berupa ketupat. Pada saat memerlukan air, ditancapkanlah pusaka Ki Baan Kau ke tanah. Dalam sekejap muncul mata air yang sangat jernih. Mata air tersebut diberi nama “Merta Ketipat” atau “Yeh Ketipat”. Oleh beliau juga daerah barat laut Bali bisa diamankan. Atas jasa beliau, oleh rakyat disana dinobatkan sebagai raja beristanakan di Kalianget dan bergelar Ida Sang Prabu Kalianget.

Pura Dalem Dasar dan Pura Alas Asrum, Googlearth by oka

Pura Dalem Dasar dan Pura Alas Asrum, Googlearth by oka

Mengingat sektor pertanahanan dan kemanan di barat laut Bali sudah aman dan terkendali, maka dikembangkanlah sektor lain yaitu perbaikan ekonomi dengan cara meningkatkan produksi pertanian. Mengingat daerah Kalianget adalah daerah kering dan tandus dan rakyat mengetahui Sang Prabu mempunyai pusaka yang ampuh yang bisa menciptakan mata air maka rakyat memohon mata air untuk mengairi pertanian mereka. Sang Prabu memerintahkan untuk membuat saluran air yang ditujukan ke kaki Gunung Watukaru. Dan Sang Prabu menuju kaki Gunung Watukaru. Gunung Batukaru

 

Gunung Batukaru

Ketika beliau akan menancapkan pusakanya ke tanah, terdengar sabda bahwa Ida Betara Gunung Watukaru tidak mengijinkan niat Sang Prabu tersebut. Bila Sang Prabu tetap pada niatnya, maka kerajaan akan hancur. Sang Prabu mengurngkan niatnya, lalu kembali ke istana.

Lama-kelamaan saluran yang telah dibuat ditumbuhi semak belukar. Oleh masarakat setempat dinamakan Tukad Menaun karena sudah bertahun-tahun aliran air tersebut tidak dialiri air dan hanya ditumbuhi semak belukar. Di sisi lain rakyat sangat berharap pada mata air. Akhirnya Sang Prabu mengambil keputusan, apapun yang terjadi raja siap menanggung akibatnya demi kesejahteraan rakyat. Sang Prabu kembali ke kaki Gunung Watukaru untuk menancapkan pusakanya. Sabda pun terdengar lagi, Ida Betara Gunung Watukaru sangat marah. Air pun muncul dan mengairi sungai Menaun sampai sekarang.

Awal dari kisah Jaya Prana adalah karena keberanian raja yang tidak mengindahkan larangan sehingga lambat laun kutukan sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya. Rakyat dilanda wabah penyakit tapi tidak sampai di keraton. Ida Betara Gunung Watukaru menjelma menjadi menjelma menjadi seorang anak putri yang dipungut oleh I Gede bendesa yang diberi nama Ni Layon Sari, dan menjadi seorang anak laki-laki. Pada saat Sang Prabu meninjau rakyatnya yang terkena wabah, anak kecil tersebut dipungut ddan diberi nama I Jaya Prana. I Jaya Prana tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, patuh dan cerdas sehingga menjadi anak kesayangan raja. Setelah besar Jaya Prana disuruh mencari jodoh dan bertemulah ia dengan Layon Sari yang kemudian dinikahkan oleh Sang Prabu di keraton.

Pada saat pernikahan berlangsung ternyata secara diam-diam Sang Prabu tertarik pada kecantikan Layon Sari. Dipanggillah maha patih agung Ki Patih Sawunggaling untuk membunuh Jaya Prana dengan taktik memerintahkan Jaya Prana untuk mengamankan margasatwa yang dirusak Wong Bajo (orang Madura) di barat Bali yaitu di Teluk Terima.

teluk-terima

Pada hari yang telah ditentukan, kira-kira 7 hari setelah pernikahan, rombongan yang dipimpin oleh Ki Patih Sawunggaling dan diiringi oleh puluhan pengiring beserta I Jaya Prana berangkat ke Teluk Terima. Perjalanan tersebut dilepas dengan sedih oleh Layon Sari.

Sesampainya di Teluk terima, Ki Patih Sawunggaling menunjukkan sepucuk surat dari Sang Prabu bahwa atas perintah raja akan membunuh Jaya Prana. Darah keluar dengan bau harum semerbak, yang disertai dengan tanda kebesaran seperti petir, gempa, hujan dan pelangi yang menyebabkan semua orang yang hadir bersedih dan terharu.

Setelah selesai upacara penguburan, rombongan kembali pulang. Dalam perjalanan pulang tersebut, rombongan dibuntuti harimau. Akhirnya terjadi bermacam-macam malapetaka, seperti ada yang diterkam harimau, digigit ular, dan tersedak yang menyebabkan 40 orang pengiring meninggal dunia.

Sisa rombongan yang berjumlah 19 orang berhasil kembali ke istana. Ni Layon Sari berusaha mencari informasi tentang keadaan suaminya. Melalui salah seorang rombongan yang datang didapat bahwa suaminya telah dibunuh oleh Ki Patih Sawunggaling atas perintah Sang Prabu. Mendengar berita tersebut, Ni Layon Sari sangat sedih.

Raja berpura-pura sedih atas kematian I Jaya Prana. Dengan dalih untuk menghibur kesedihan Ni Layon Sari, Sang Prabu menyuruh agar ia tinggal di istana. Pada saat itulah Sang Prabu meminta dengan sangat agar Ni Layon Sari bersedia menjadi istrinya. Lebih dari itu, Sang Prabu bersedia untuk menyerahkan seluruh isi istana asalah Ni Layon Sari bersedia memenuhi permintaan Sang Prabu.

Ni Layon Sari menolak dengan rendah hati semua permintaan Sang Prabu. Sebagai wujud kesetiaannya terhadap suaminya, akhirnya Ni Layon Sari bunuh diri dengan sebuah pedang. Sang Prabu terkejut telah meninggal dunia, Sang Prabumeratapi jenazah Ni Layon Sari di pangkuannya. Sang Prabu lalu menjadi gelap mata dan mengamuk lalu bunuh diri. Setelah keributan selesai, orang tua Ni Layon Sari mengambil jenazah anaknya. Kemudian dibawa ke Banjar Sekar untuk dikuburkan.

bekas-kerajaan-kaliangetDemikianlah akhirnya kerajaan Kalianget menemui kehancuran. Ini akibat Sang Prabu tidak mengindahkan larangan Ida Betara Gunung Watukaru. Memang sebagai seorang raja atau kesatria kepentingan rakyat adalah diatas segalanya. Sang Prabu rela kereajaannya hancur demi kesejahteraan rakyat.

Kontinyu >>

34 Tanggapan to “JAYAPRANA-LAYONSARI :RETORIKA SINKRETIK DI BALIK”

  1. Chrisna Says:

    Baru pertama saya membaca kisah Jayaprana-Layonsari yang tidak menyudutkan sang raja. Selain itu ceritanya juga hampir sesuai dengan sumber yang saya ketahui. Sebagai salah satu warih beliau Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti saya haturkan terima kasih telah menampilkan kisah yang benar.

  2. gdeputu Says:

    Trim mbk kris atas komentarnya
    bahkan film dokumenter yang diambil dari beberapa sumber juga telah dikerjakan, lengkap dengan wawancara dari pelaku sejarah.

  3. Chrisna Says:

    Maaf tyang bukan wanita :). Tapi gpp. Kalau boleh tyang tahu, dari mana saja sumber ceritanya? Tyang saking Klungkung.

  4. gdeputu Says:

    Maaf ya, soalnya Chrisna perkiraan saya Ce:) sumber ceritanya utamanya ya dari Mertua yang kebetulan trah keturuan Raja kalianget. Dan dokumen milik Puri Sangsi Singapadu dan kesaksian pelaku yang ikut pengabenan Jayaprana yang menemukan tempat dikuburnya jaya prana di teluk terima. Kami banyak mempunyai sumber rekaman dan kesaksian akan kisah ini. Intinya Kerajaan Kalianget dan Jaya Prana riil ada, sekali lagi menurut saya lho.

  5. WAYAN aRIMAWAN Says:

    saya baru tau yg sebenarnya, dan tidak menyudutkan raja atas satu kesalahan seperti yg selama ini saya baca. O ya desa BENYAH sekarang sudah tidak ada, sekarang namanya sudah diganti dengan Pancasari. Kalo dari denpasar setelah Bedugul/ Danau Beratan.

  6. gdeputu Says:

    trim atas komentarnya. Tulisan ini saya bersuaha posting, karena memang yang lumayan saya tahu seperti itu. Jayaprana-layon sari adalah Romeo-Julietnya Bali. Bukti-bukti akan keberadaan itu segera akan saya posting.

  7. candra Says:

    knp ga ada cerita yg pake bhs. bali ?
    pdhalkan ini cerita dri bal.

  8. maha Says:

    terima kasih,, ini memang cerita yang benar tentang dalem kaleran pemayun sakti dan layon sari-jayaprana.
    saya adalah keturunan satriya dalem kaleran pemayun sakti, kakek saya dulu pernah bercerita ttg raja kalianget. dan ceritanya sama seperti cerita diatas!

  9. Ajunk Says:

    Om Swastyastu..salam kenal semua..suksma atas infonya,ngomong2 besok,wrespati prangbakat tgl 12 agustus piodalan ring pura Jaya Prana di desa Kalianget,kecamatan seririt..mngkn ada yg berkeingnan tirta yatra,jga bsk dipentaskan sendratari kolosal Jayaprana Layonsari di desa setempat..suksma

  10. A.A. Gede Dharma Says:

    Untuk Gede teruskan gema dan gaung kisah raja Kalianget,yang bengkok diluruskan yang kisut di urai saya warih dan trah Raja Kalianget. Luluhur kami I Dewa Kaleran (memang kami sedang keleleran) suatu saat Hujan salju di gurun pasir.

  11. gdeputu Says:

    trim junk, baru balas

  12. gdeputu Says:

    trims, atu punapi kenak ring jero?

  13. yuda anak kalianget Says:

    ya sedih sekali membaca cerita “i jayaprana dan ni layonsari”kenapa raja kok kejam bgtu …..?

  14. e.gon Says:

    berarti ida betara gunung watukaru menjelma menjadi dua orang berbeda ? kemudian menikah , tapi bukankah jaya prana dan layonsari sebelumnya tidak saling kenal ? bagaimana dengan kisah hidup dan cinta mereka ?karena dari yang saya baca anda belum terlalu menulis tentang si jaya prana dan layon sari , mohon di jelaskan karena saya sangat tertarik pada kisah ini

  15. gdeputu Says:

    maaf baru bales, untuk ceritanya memang berdasarkan lontar duwen puri sangsi, hasil wawancara dengan sesepuh puri. Lontarny ada kok, rekaman juga ada 3 kaset penuh dari beliau yang pernah jadi saksi, waktu menemukan kuburan ida batara pertama kali di teluk terima. Mohon maaf masyarakat tahunya di tengah aja, awal dan akhirnya tidak tahu. Jadi untuk memahami jayaprana memang cerita awaln tengah dan akhir harus tahu. Pihak Puri memang tidak mau dari dahulu mengekspos, biar beliau ini tidak dianggap seperti guak. Burung guak kan menceritakan dirinyanya sendiri. Biarlah fakta di ceritakan dari mereka yang benar-benar mengeri. Di Kaliangeti sendiri ada saksi yang masih hidup, syukur kami bisa mewancarai dan merekamnya sebelum data penting itu hilang.

  16. sang ayu Says:

    saya sangat puas dengan cerita keturunan kerajaan kalianget, yang benar merupakan keturunan dari dewa kaleran, yang berhubungan dengan raja dalem samprangan, sekarang.! saya puas karna saya mempunyai buku yang ceritanya same,.. saya merasa tertarik dengan itu karena saya juga merupakan keturunan dari dewa gedong artha , yang ada hubungannya dengan dewa kaleran,…

    thanks….

  17. endra Says:

    Om svastyastu..
    Tabik pakulun mangda tan keni raja pinulah…
    Raja Kalianget adalah Raja yang mulia, bijaksana, welas asih dan pemberani. Raja sebijaksana beliau tidak akan gelap mata hanya karena kecantikan manusia biasa. Hanya yang luar biasa pula yang mampu menandingi beliau. Seperti halnya “Jayaprana dan Layonsari” bukan merupakan manusia biasa hingga mampu membuat Raja yang saya muliakan gelap mata. Tragedi yang menimpa Raja Kalianget dan kerajaan, bukanlah kejadian biasa yang terjadi akibat kesalahan Sang Raja semata. Saya sangat tidak setuju jika ada yang menyalahkan beliau. Coba renungkan apa yang telah beliau lakukan demi Kalianget dan rakyatnya..apa yang telah beliau pertaruhkan. Karena jerih payah beliau Kalianget ada, Karena kasihsayang beliau, beliau pertaruhkan segalanya untuk kemakmuran dan kesejahteraan kalianget, beliau pelihara kalianget. Walau akhirnya Kerajaan kalianget hancur kita tak harus menyalahkan beliau. memponis beliau jahat dan kejam. tidak,,tidak seperti itu. bagaimana dengan tuhan yang mempunyai sifat mencipta, memelihara, dan melebur. apakah akan disalahkan juga,,apakah juga diponis jahat dan kejam? Tuhan itu paling suci dan mulia. begitu jua Raja Kalianget,, beliau suci dan mulia meski beliau bukan tuhan yang utama.
    om Santi,santi,santi om.

  18. Mardika Kalianget Says:

    Saya sangat puas dengan cerita Raja Kalianget dengan kisah Cinta Jaya prana dan layonsari dan merasa sedih membaca cerita ini, saya adalah warih toye melablab ( Kalianget ) benar sekali cerita itu sesuai apa yang pernah diceritakan oleh bapak saya (alm) yang boleh dibilang sebagai orang yang menerima trah Raja Kalianget dari puri Sangsi waktu ke kalianget.

  19. gdeputu Says:

    Suksma Pak Mardika, semoga bisa mengikis anggapan jaya prana sebagai cerita fiktif.

  20. AA Gede Dharma Says:

    Terima kasih Gede disini sekeluarga sehat2 baru balas, mengenai kisah jaya prana yang sudah menjadi legenda seperti yang dijelaskan bapak Endra di atas saya sangat salut dan hiba memang begitulah sebenarnya, wahai semua warih ida aji pikulun sang Raja Kalianget janganlah berkecil hati beliau bukanlah raja yang bengis melainkan Raja diatas raja yang bijaksana yang berani berkorban dan beliau sudah pertimbangkan akan akibat baik dan buruknya, dimana kebengisan sang raja adalah air suci yang menyirami kita disaat teriknya matahari, saya yakin suatu saat akan terjadi yang tidak pernah terjadi “Hujan salju digurun pasir” Sebagai trah/warih Ide selayaknya dibarengi puja dan puji serta persembahan doa dan perilaku sesuai dengan ajaran Dharma.

  21. gdeputu Says:

    Tabek Pekulun Ida Jaya Prana dan Layon Sari mangda tan keni raja pinulah….
    Cerita “romantisnya” ida Jaya Prana dan Layon Sari memang sedikit, namun hasil rekaman dua buah kaset dengan Seseorang yang sekarang menyimpan bukti-bukti otentik (maaf foto tiang belum bisa tampilkan) memang ada. Mengenai kenapa beliau bisa ketemu padahal sebelumnya tidak kenal. kalo jodoh, disuatu saat pasti akan dipertemukan. Bukankah ini sudah lumrah dan sering orang mengatakan demikian?
    Ingat beliau ini jelmaan ida betara, apa yang tidak mungkin bisa mungkin. Pertanyaan logisnya adalah karena beliau sang “mahatahu” dan ” maha segalanya” seperti layaknya sifat-sifat tuhan. Tiang dan mungkin juga bapak egon memiliki keterbasan untuk membuktikan itu. namun, karena serba rahasia inilah yang membuat tantangan terbesar. Tiang ingat penglisir puri Singapadu, bahwa pihak puri tidak akan seperti Guak yang artinya tidak akan menuturkan cerita ini, biarlah orang yang patut membuka sedikit-demi sedikit apa yang sebenarnya terjadi.
    Kalau tiang sendiri pernah, keruangang khusus tempat “beliau sering datang” Tabe Pekulun JayaPrana-Layon sari. Tiang percaya akan ini. Kepercayaan tiang ini tidak bisa dipaksakan untuk orang lain juga percaya.Suksma sudah berkunjung Pak egon.

  22. pramana Says:

    “Mengingat daerah Kalianget adalah daerah kering dan tandus” bukannya sdh dinamakan KALIANGET nama daerahnya?? yg artinya ‘tukad/sungai hangat’ artinya sejak lama memang ada sumber air panas didaerah tsb???

  23. gdeputu Says:

    Saya juga mengenal tukad itu pak, tukad menaum saya dapatkan pada cerita mangku dan sesepuh puri.

  24. Kadek Dogen Says:

    kalo boleh saya tau tahun berapa pengabenan jaya prana,.??

  25. Kadek Dogen Says:

    kalo boleh saya minta nama emailnya/no hpnya,. mau nanyain sesuatu

  26. nyoman wijaya Says:

    Saya sendiri berasal dari Desa Kalianget dan sangat percaya dengan adanya CERITA RAJA KALIANGET. dan sampe sekarang saya terus mengikuti upacara atau odalan di pura kalianget dan di teluk terima.

  27. sari Says:

    maaf saya juga ingin meneliti kisah ini. bolehkah minta petunjuk???

  28. oka Says:

    Sukgra Pakulun, Raja kalinaget (Ida Anak Agung Ngurah Kaleran Pamayun Sakti) dan informasi dari trah beliau yang merupakan sesepuh Puri Sangsi, Anak Agung Gede Rai, sebelum Ida jaya Prana diaben, sebelumnya ada pawuwus secara niskala di tahun 1948, kemudian pawuwus ini ditindaklanjuti dengan pengabenan Ida jaya Prana tanggal 12 agustus 1949.

    Sedangkan pengabenan Raja Kaliangetnya sendiri beserta 40 pengiring beliau berlangsung SUKRA MATAL tanggal 13 Januari 1995.

  29. oka Says:

    terimakasih telah berkunjung dan menyempatkan membaca artikel yang ditulis oleh A.A.I.A Sintaningrum yang merupakan trah dari raja kalianget dari putri penglisir Puri Sangsi A.A. Gede Rai.

    Sejak tanggal 28 Nopember 2012 sedang berlangsung h piodalan Ida Jayaprana di Kalianget, dan pada tanggal 29 Penglisir Puri Sangsi Yakni A.A.Gede Rai tedun dan ikut pada piodalan tanggal itu. Kebetulan waktu itu ada mahasiswa doktoral udayana yang bermaksud yang sama ketemu sama beliau di kalianget. Informasi akurat tentang Raja Kalianget dapat dari informan langsung dari sesepuh puri sangsi yang merupakan trah ketuturunan Raja kalinaget di Puri Sangsi Singapadu. A. A. Gede Rai adalah trah keturunan Raja (prabu )Kalianget generasi VIII.

    Kebetulan kami adalah menantu beliau, sehingga kami berusaha memberikan informasi yang tepat.

  30. ambara Says:

    saya ingin sekali tahu, setelah kerajaan hancur kemana saja pretisentana raja ide idewa kaleran pemayun sakti dan patih saunggaling kesah, karena di bali hanya satu dan sampai sekarang rumah saya namanya jeroan saunggaling,apakah mungkin leluhur saya ada kaitannya dengana kerajaan kalianget, sampai hari ini saya nggak tau kawitan saya dimana. mungkin anda bisa memberi petunjuk. saya sudah pernah tangkil ke pura prabu, pura sakti dan pura makam, mohon maaf di pura prabu terlalu ekslusif trah raja tidak berbaur dengan pemedek

  31. Geg Trisna Says:

    om swastiastu,
    tiang jagi metaken kedik,
    sane mangkin ring dije ki baan kau malinggih?
    lan pejenengan sekar sandat?

  32. oka Says:

    Suksma Geg trisna. Semua senjata sakti beliau, sesuai informasi penglingsir puri Sangsi masih ada..cuma senjata itu berada pada tempat yang sesuai dengan senjata itu, artinya tempat melinggih ada. Mohon maaf tidak tiang sampaikan disini.

  33. oka Says:

    Pratisentana Beliau sekarang ada di Puri Sangsi Singapadu. Sedangkan keturuan Saungaling, menurut penglisir puri Sangsi…ada di denpasar. Jelasnya silakan tangkil ke Puri Sangsi. Semoga membantu

  34. buduh Says:

    okayy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 177 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: